PURWOREJO – Pekerja Migran Indonesia (PMI) menjadi salah satu kendala percepatan program 100 persen rekam kartu tanda penduduk (KTP) elektronik di Kabupaten Purworejo. Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) mencatat hingga saat ini warga yang belum melakukan rekam data E-KTP tinggal 2.258 orang.

“Sebagian besar yang belum rekam data itu adalah warga Purworejo yang berada di luar daerah dalam waktu cukup lama,” kata Kepala Disdukcapil Purworejo Sukmo Widi Harwanto Minggu (8/7).

Dikatakan, hal itu diketahui setelah pihaknya melakukan penyisiran ke berbagai tempat dalam rangka rekam data KTP elektronik. Beberapa wilayah selama ini memang tercatat sebagai kantong pemasok PMI di Purworejo.

Dari 16 kecamatan yang ada, data di Disdukcapil menunjukkan warga yang belum rekam data tertinggi ada di Kecamatan Kemiri yakni 262 orang, disusul Kecamatan Bener 242 orang, Purworejo 202 orang, Bruno 168 orang, serta Pituruh dan Kecamatan Kutoarjo masing-masing 164 orang.

Kecamatan Bagelen 159 orang, Kaligesing 147 orang, Ngombol 131 orang, Butuh 127 orang, Loano 110 orang, Bayan 105 orang. “Untuk Kecamatan Gebang 91 orang, Grabag 88 orang, Banyuurip 59 orang, dan Purwodadi 39 orang,” ungkapnya.

Dijelaskan Sukmo, dibandingkan sebelumnya yang masih terdapat 2.721 orang belum rekam KTP elektronik, maka sisa yang kini tinggal 2.258 orang sudah mengalami pengurangan cukup signifikan. “Dan kinerja kami telah melebihi target, di mana yang sudah melakukan perekaman mencapai 99,6 persen,” jelasnya.

Kendati demikian, pihaknya terus berupaya agar bisa 100 persen. Peran keluarga yang anggotanya bekerja di luar daerah atau menjadi TKI di luar negeri sangat diperlukan, agar seluruhnya terekam. Dalam berbagai event pun dimanfaatkan Disdukcapil untuk memberikan pelayanan perekaman.

“Rekam data E-KTP ini cukup penting dan keluarga para PMI kami harapkan turut peduli, karena data yang ada ini akan sangat berguna, selain bagi pribadi juga untuk kepentingan negara, khususnya Pemilu 2019,” jelas Sukmo. (udi/laz/fn)