Mata Air Abadi menjadi satu di antara bukti bahwa Kabupaten Gunungkidul sebenarnya tak pantas mengalami kekeringan. Sesuai namanya, sumber mata air yang terletak di perbatasan Pedukuhan Plumbungan-Bobung, Patuk ini sepanjang sejarah tak pernah surut. Saat puncak musim kemarau sekalipun.

GUNAWAN, Gunungkidul

Terik sinar matahari siang kemarin (8/7) seolah tak menghalangi nenek itu beraktivitas. Perempuan paro baya ini menyusuri area persawahan. Itu pun dia tak berjalan seorang diri. Selain menenteng jeriken di tangan kanannya, dia juga menggendong salah satu cucunya.

”Mau mengambil air di Mata Air Abadi,” ucap Sutirah, nenek itu, kepada Radar Jogja saat perjalanan menuju sumber mata air. Lokasinya berjarak sekitar 300 meter dari rumahnya.

Ibu tiga anak ini menceritakan, Mata Air Abadi selalu menjadi andalan warga. Tak terkecuali dirinya. Maklum, air dari sumber ini bersih. Saking bersihnya, tidak sedikit warga yang langsung meneguknya. Tanpa direbus dulu.

Istimewanya lagi, sumber mata air ini tak pernah kering. Saat puncak musim kemarau sekalipun. Sebaliknya, air sumber ini juga tetap terjaga. Saat puncak musim penghujan sekalipun.

”Dari kecil belum pernah mendengar surut atau kering,” kenang perempuan kelahiran 50 tahun lalu ini.

Karena tidak sedikit yang bergantung, Sutirah berharap sumber mata air yang keluar dari balik batu ini selalu melimpah. Apalagi, tidak sedikit warga di berbagai wilayah di Bumi Handayani yang mengalami kesulitan air bersih saat musim kemarau.

Dukuh Plumbungan Sulistyo mengungkapkan hal senada. Menurutnya, debit air di sumber Mata Air Abadi banyak. Jeriken berukuran 19 liter, misalnya, cukup diisi hanya dalam waktu lima menit. Saking banyaknya ini pula, tidak sedikit air yang terbuang sia-sia. Sebab, kebutuhan air warga sekitar tidak seberapa.

Karena itu, Sulistyo berharap pemerintah turun tangan. Caranya dengan membangun bak penampungan atau saluran.

”Dulu pernah ada bak penampungan. Tapi, tidak terawat, sehingga tertutup sampah,” ujarnya.

Dia menceritakan, ada beberapa warga sekitar yang kreatif memanfaatkan debit melimpah sumber Mata Air Abadi. Dengan telaten, mereka mengambil air. Lalu, menjualnya dengan harga Rp 5 ribu per galon.

”Kalau terbuang sia-sia kan eman,” tambah Sulistyo mengungkapkan bahwa Mata Air Abadi berada di pinggir aliran sungai. (zam/fn)