Mempertahankanlebih sulit dari mendapatkan. Istilah itu yang sedang dilakukan oleh para penggiat batik di Kota Jogja untuk mempertahankan predikat Jogja sebagai Kota Batik Dunia dari World Craft Council (WCC). Salah satunya dengan mengenalkan batik dengan pewarna alami.

HERU PRATOMO, Jogja

Embung Langensari di Klitren, Gondokusuman, yang selama ini jadi objek wisata air baru di Kota Jogja, terlihat berbeda dengan kehadiran tim dari Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Jogja bekerja sama dengan Badan Perencanaan Pemba-ngunan Daerah (Bappeda) Kota Jogja yang menggelar pelatihan di sana. Para warga sekitar diajari membatik dengan pewarna alami.

Seluruh pesertanya warga Klitren, yang kampungnya berada di sisi uta-ra embung. Pilihan lokasi di sekitar Embung Langensari juga upaya untuk menggali potensi lain yang bisa di-kembangkan, yakni sebagai eco cul-ture tourism atau wisata budaya ber-wawasan lingkungan.

”Karena itu pilihannya jatuh pada batik pewarna alami,” ujar konsultan batik pewarna alam, Hendri Suprapto, di sela pelatihan batik tulis pewarna alami di Embung Langensari belum lama ini.

Hendri yang juga instruktur utama pelatihan menilai, pewarna kimia selain merusak lingkungan juga da-pat berakibat buruk pada kesehatan manusia. Harapannya adalah batik yang sehari-hari digunakan oleh ma-syarakat sudah seharusnya memiliki sifat ramah lingkungan

”Pewarna alami yang diambil dari berbagai tanaman dan kaji-an UKDW dan Bappeda Kota Jogja di Embung Langensari ini terse-dia,” ungkapnya.

Menurut dia, bahan dasar warna alami itu pun diambil dari tanam-an yang ada di embung. Keber-adaan pohon mangga misalnya, bisa untuk warna kuning, pohon indigo vera untuk warga biru, jambu biji untuk warna coklat, serta jambe untuk warna merah. ”Untuk mencari warna lain, ting-gal mengkombinasikan dari warna dasar tersebut,” terangnya.

Kekayaan alam yang tersedia itu diharapkan bisa dimanfaatkan secara bijak oleh warga sekitar Em-bung Langensari. Yang diajarkan pun berupa batik tulis khas Jogja dengan pewarna alami. ”Harap-anya bisa menambah ketrampilan dan kewirausahaan warga setem-pat,” jelasnya.

Kenapa batik? ”Tahun ini meru-pakan tahun terakhir penilaian oleh WCC, Jogja harus bisa mem-buktikan bahwa di sini memang sudah mengembangkan batik pewarna alam. Jangan sampai predikat itu berpindah ke kota atau daerah lain,” jawabnya.

Ketua peneliti dari UKDW Kris-tian Oentoro menambahkan, pe-latihan diharapkan bisa membe-rikan kemampuan dasar bagi warga Kampung Klitren dalam membuat karya batik alami. Selain fungsi konservasi alam Embung Langensari, juga bisa menjadi media pembelajaran dalam pem-buatan maupun workshop batik tulis pewarna alam.

Yang tidak kalah penting, Kristian menyebut perlunya peran Pemkot Jogja untuk mendukungnya. ”Bisa dengan mempromosikan batik hasil warga Klitren ini, sehingga ada pemasukan bagi warga.” (laz/ong)