Teknik pewarnaan pada kain sudah sangat banyak berkembang. Namun belum banyak yang mengenal teknik ecoprint. Padahal produk kain yang menggunakan teknik ini sangat laku negara-negara di Eropa Timur.

FOunder House of Distraw Dini Wiradisastra menjelaskan, ecoprint merupakan teknik pewarnaan yang memanfaatkan daun sebagai pe-warna dan pemberi motif pada kain. ”Daun yang digunakan biasanya dari Jati, Jarak, Ketapang, kelopak bunga bahkan kulit bawang,” kata Dini.

Dia menjelaskan, produk yang dihasilkan dari ecoprint ini dari setiap daun akan berbeda. Bahkan dengan jenis daun yang sama akan berbeda secara warna dan tekstur yang tercetak pada kain. ”Jadi kesannya lebih ekslusif,” ungkapnya.

Bukan hanya jenis daun. Kain yang digunakan juga akan berpengaruh pada hasil. Dia menjelaskan ada dua jenis kain yang umum diguna-kan pada teknik ecoprint ini yaitu katun dan sutra. ”Dari segi hasil, sutra akan menghasilkan warna yang lebih tajam,” jelasnya.

Proses mengunci warna pada teknik ini juga hampir sama seperti pada proses pewarnaan kain batik. Hanya saja dia telah melakukan riset dan inovasi. Ada lima jenis fiksasi yang digunakan. Fiksasi dengan menggunakan tawas, tunjung, kapur, cuka bahkan karat. ”Ya, warna karat yang ada di besi-besi itu,” tegasnya.

Dia memastikan, produk dari ecoprint ini sangat aman. Termasuk dengan penggunaan karat sebagai pewarna. Dia mengatakan, pene-litian terhadap karat sebagai bahan pewarna aman untuk lingkungan sudah banyak dilakukan.

”Bahkan sekarang ada yang namanya pasta karat dan sudah dijual luas,” bebernya.

Kendati sangat diminati oleh pasar mancanegara, ecoprint ini justru belum terlalu populer di Indonesia. Kebanyakan masyarakat hanya mengenal batik. Kendala lain meliputi selera. Warna-warna yang dihasilkan dari ecoprint ini belum familiar di masyarakat.

Bahkan menyebut ecoprint semdiri belum banyak masyarakat Indonesia yang tahu. ”Masih dibutuhkan banyak kerja keras untuk mem-promosikan ecoprint di Indonesai,” keluhnya. (har/din/ong)