KOMPLEKS Makam Lendah di Desa Jatierjo, Kecamatan Lendah, sekilas sama seperti kompleks pemakaman pada umumnya. Satu yang membedakan, di antara nisan-nisan kuno dan pohon besar tua terdapat makam Kiai Landoh, tokoh penyebar agama Islam yang dipercaya masyarakat setempat sebagai leluhur cikal bakal wilayah Lendah.

Kiai Landoh juga dikenal dengan tiga pusaka peninggalan, yakni Kudi Rancang (tombak dengan mata seperti kujang), Bathok Bolu (berbentuk mangkuk dari kayu), dan Alquran Tulisan Tangan. Setiap buan Sura (sesuai penanggalan Jawa), warga setempat masih melanggengkan tradisi jamasan dan kirab pusaka. Namanya kirab pusaka Syeh Jangkung atau Kiai Landoh di Makam Lendah.
“Kiai Landoh adalah tokoh penyebar agama Islam di wilayah Lendah, sekaligus peletak dasar (cikal bakal) Lendah,” ucap salah seorang okoh masyarakat Jatirejo, Ali Suhardi, Jumat (6/7).

Juru Kunci Makam Kiai Landoh Surakso Dwi Susanto menjelaskan, pusaka Kudi Rancang dan Bathok Bolu sampai saat ini tersimpan di dalam cungkup makam Kiai Landoh. Sementara Alquran disimpan di rumah juru kunci.
“Ketiga benda itu merupakan pusaka milik Kiai Landoh yang terus dirawat dan dijaga warga Jatirejo hingga saat ini. Pernah hilang tahun 1987, namun kemudian ada lagi tanpa ada yang tahu siapa yang mengambil dan mengembalikan,” jelasnya.

Berdasarkan cerita turun temurun, pada tahun 1814 di wilayah itu terjadi pagebluk atau wabah penyakit. Dengan pusaka peninggalan Kyai Landoh wabah penyakit berhenti, caranya pusaka diarak berkeliling kampung. “Pusaka Kiai Landoh juga mampu membuat tentara Belanda bingung ketika hendak masuk wilayah Lendah saat agresi Belanda tahun 1949,” katanya.

Sekretaris Kawedanan Hageng Panitrapura Kraton Kasultanan Jogjakarta sekaligus Ketua Paguyuban Abdi Dalem Kraton KRT Gondo Hadiningrat memaparkan, sejarah Kiai Landoh atau Syeh Jangkung tengah dicari dokumen-dokumennya di Keraton Jogja untuk menebalkan cerita turun temurun.
“Keraton menginventarisasi situs-situs bersejarah. Makam Kyai Landoh yang jelas ada kaitan erat dengan keraton. Juru kunci di sini juga seorang abdi dalem,” kata KRT Gondo Hadiningrat saat menghadiri jamasan pusaka Kiai Landoh baru-baru ini.

Menurutnya, rekam jejak Kiai Landoh yang tercatat di buku “Warisan Budaya Tidak Bergerak” terbitan Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kulonprogo 2011, Kiai Landoh atau Syeh Jangkung menikah dengan RA Retno Jumali yang merupakan adik dari Sultan Agung Hanyokrokusumo.
“Kiai Landoh dipercaya masyarakat sebagai orang yang membuka daerah Lendah-Galur (saat ini). Dulunya daerah ini adalah rawa-rawa hingga dapat dihuni masyarakat,” ujarnya.

Dijelaskan, kompleks makam Kiai Landoh terbagi menjadi empat bagian. Di sisi utara terdapat satu cungkup makam Kiai Landoh sekaligus tersimpan pusaka Kyai Batok Bolu dan Kyai Kudi Rancang.
Di bagian luarnya terdapat makam istrinya, RA Retno Jumali, dan beberapa keluarganya. Di luar batas makam Kyai Landoh adalah makam para demang pada zaman Mataram Islam. Sementara di sisi luar makam kademangan Mataram terdapat makam para demang dari wilayah Lendah.

“Jadi cikal bakal Lendah terkait erat dengan Kiai Landoh (Syech Jangkung) di Pulau Jawa selatan dalam penyebaran agama Islam di Jawa selatan,” katanya.
Kiai Landoh sendiri cucu Jaka Tingkir, Sultan Pajang bergelar Sultan Hadiwijaya. Sebagai keturunan Jaka Tingkir, Kiai Landoh memperdalam ilmu pengetahuannya, kesaktian, dan ilmu-ilmu keagamaannya kepada Sunan Kudus.

Syech Jangkung juga dikenal di wilayah Semarang, yakni di daerah Wiyana, sebab di sana ia pernah bertapa dan mendirikan tempat pengajian untuk menyebarkan ajaran agama Islam. Dalam perjalanannya, Syech Jangkung juga sempat bertemu dengan seorang pendeta dari Krendetan (Kabupaten Purworejo) bernama Kiai Projaguna.

Dalam pertemuan itu, Syech Jangkung minta kepada Kiai Projaguna dua buah kelapa yang sebuah untuk bibit dan yang satu lagi akan digunakan untuk perahu. Bermodal perahu itu Syech Jangkung mengembara menuju daerah seberang (Palembang).

Sampai di Palembang, bersamaan timbulnya malapetaka wabah penyakit yang sangat ganas dengan memakan banyak korban sebagian besar penduduk setempat. Syech Jangkung kembali bersemedi yang secara kebetulan diketahui oleh penduduk di daerah setempat.

“Sempat dituduh sebagai penyebar wabah yang menimbulkan malapetaka, Syech Jangkung ditantang membuktikan bahwa dirinya bukan penyebar wabah, dengan syarat bisa memberantas wabah yang terjadi. Syech Jangkung berhasil meredakan wabah yang menyerang penduduk Palembang, kemudian menikah dengan Putri Palembang. Sebagai hasil dari perkawinan itu lahirlah seorang putra yang diberi nama Leden Mukmin,” ujarnya.

Setelah beberapa lama tinggal di Palembang, Syech Jangkung melanjutkan syiar Islam di pesisir utara (Cirebon). Sampai di Kota Udang itu juga tengah terjadi peperangan antara Cirebon dengan Banten. Sultan Cirebon memanggil Syech Jangkung dan diangkat sebagai Senopati sekaligus dijadikan menantu Sultan Cirebon karena berhasil membantu mengalahkan Banten.

“Hasil perkawinan dengan Putri Cirebon lahir seorang putra bernama Raden Wilopo. Seperti halnya di Palembang, setelah meninggalkan anak istrinya dengan tujuannya menyebarkan agama Islam, Syech Jangkung sampai di Tlaga Krapyak Mataram. Mataram pada waktu itu diperintah oleh Sultan Agung,” terangnya.

Di Telaga Krapyak, kesaktian Syech Jangkung didengar oleh Sultan Agung yang kemudian mengangkatnya sebagai saudara tua. Mempererat tali persaudaraan, Syech Jangkung kemudian dinikahkan dengan kakak perempuannya yang bernama RA Retno Jumali.

Dalam penggalan jejak Syech Jangkung, ia sempat diharapkan tinggal di Keraton oleh Sultan Agung, setelah mampu membantu menggagalkan rencana serangan dari Mesir. Namun permintaan tinggal di Keraton ditolak, dengan alasan ingin lebih leluasa mengamalkan ajaran Agama Islam di luar keraton.
Syech Jangkung kemudian meminta Sultan Agung agar diberi tanah di daerah sebelah barat Sungai Progo. Permohonan dikabulkan, Syech Jangung kembali bertapa dan oleh murid-muridnya mendapat nama baru, Kiai Landoh. Asal mula nama Landoh berawal dari Syech Jangkung mempunyai seekor kerbau kesayangannya, Kebo Landoh (kerbau yang tanduknya ke bawah, Red) yang digunakan sebagai kendaraannya.

“Hingga pada akhirnya Syech Jangkung mengatakan kepada murid-muridnya kelak di kemudian hari daerah ini akan saya beri nama Landoh. Dari kata Landoh inilah kini dikenal dengan nama Lendah,” kata KRT Gondo Hadiningrat. (laz/mg1)