MUNGKID – Potensi lahan kosong atau pekarangan di Desa Growong, Kecamatan Tempuran, Kabupaten Magelang, menarik minat tiga dosen dari Magelang untuk melakukan penelitian. Mereka ingin mengembangkan potensi itu untuk budi daya tanaman obat keluarga (toga). Tiga dosen itu dari Fikes Universitas Muhammadiyah (UM) Magelang yakni Robiul Fitri Masithoh, dosen FE UM Magelang Friztina Anisa, dan dosen FT Universitas Tidar (Untidar) Magelang.
Dijelaskan oleh Robiul Fitri, kolaborasi UM Magelang dan Untidar ini untuk mengajukan proposal Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Kelompok Dasa Wisma Kecamatan Tempuran. Proposal berhasil lolos dalam pendanaan Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) Dikti tahun 2018. Meskipun tampak simpel, kegiatan itu ternyata sangat bermanfaat bagi warga Desa Growong.

“Meskipun sudah tinggal di sana berpuluh-puluh tahun, mereka ternyata belum memanfaatkan lahan untuk toga yang dimasukkan dalam polibag,” katanya Jumat (6/7).

Program kemitraan masyarakat ini bertujuan untuk mengoptimalkan toga di Desa Growong melalui kegiatan pelatihan dan pendampingan pada seluruh aspek mulai dari cara pemanfaatan pekarangan, pengolahan toga serta diversifikasi toga. Metode yang dipakai dalam pencapaian tujuan itu model pemberdayaan masyarakat partisipatif atau metode Participatory Rural Apraisal (PRA).

Metode ini dipilih berdasarkan pertimbangan bahwa yang mempunyai atau menghadapi masalah adalah mitra. Oleh karena itu keterlibatan mitra dalam penentuan pemecahan masalah yang dihadapi dan penyelesaiannya sangat diperlukan.

“Beberapa kegiatan yang dilakukan antara lain kesepakatan dengan kelompok desa wisma dan perangkat desa serta pelatihan budidaya toga. Kegiatan sudah dilakukan, selain juga pengolahan toga sebagai wedang jahe dan kunyit yang bekerjasama dengan Program Iptek bagi Desa Mitra (IbDM),” tuturnya. (dem/laz/mg1)