USAI berkelana di sekitar Jogjakarta bagian utara, mampirlah sejenak ke Jalan Palagan Km 7. Buat apa? mengisi perut saat mau pulang ke selatan (Kota Jogja).
Nikmati kuliner olahan salak khas Sleman di Pawon Semar. Salah satu restoran dengan menu tradisional dari sekian banyak wisata kuliner di sepanjang Jalan Palagan.

Di sini, makanan tradisional disajikan prasmanan. Nasi merah dan putih disajikan di atas tungku bata tradisional. Dipanaskan dengan kayu bakar.
Berbagai menu tradisional masakan rumahan ditata apik dengan mangkok tanah liat. Tampak jagung dan bulir-bulir padi menjadi dekorasi menghidupkan suasana dapur atau pawon tradisional.

Radar Weekend mencicipi beberapa menu yang disajikan. Seperti lodeh salak, gulai salak, oseng-oseng salak, nasi goreng salak, kolak salak, dan bakwan salak. Selain itu ada buntil dan mangut lele yang menjadi menu unggulan setelah olahan salak.

Didatangkan langsung dari Desa Wisata Kali Klegung di Turi, salak yang dimasak adalah salak yang masih muda. Teksturnya yang renyah menggelitik lidah.
Citarasa yang disajikan pun cukup menarik, rasa salak muda yang dimasak mengikuti bumbu. Bisa terasa asin atau manis. Meski asin, rasa manis khas salak tetap terasa di akhir.

Untuk penikmat minuman tradisional, tersedia wedang secang disajikan mirip wedang uwuh, dan kopi spesial Pawon Semar yakni Kopi Semar. Nikmatnya kopi berpadu dengan rasa khas rempah-rempah membuat tubuh rileks.
Berlokasi di selatan Hotel The Alana, bangunan joglo Pawon Semar berkapasitas 100 orang. Masih ditambah meja-meja dan kursi-kursi cantik yang ditata di halaman luar.

Musik gamelan menguatkan suasana yang njawani. Di siang hari, suasana joglo terasa lebih asri seperti saat turun hujan. Karena ada air yang sengaja dialirkan dari atap ke tanah. Di sudut lain, ada kebun hidroponik yang ditanami sayuran seperti tomat, terong, sawi, dan cabai.

Diresmikan 17 Juni 2018, Pawon Semar buka setiap hari pukul 10.00 hingga 22.00. Asisten Food and Beverage Director The Alana Daris Sarjito mengatakan, menu masakan rumahan atau masakan tradisional dipilih karena tren masyarakat sekarang yang ingin kembali merasakan suasana kampung.
“Makin banyak restoran yang menyajikan makanan tradisional karena (masyarakat) sekarang cenderung menghindari zat kimia,” tambahnya.
Untuk menikmati semua menu tradisional ini, hanya perlu merogoh kantong Rp 50 ribu per orang. Semua menu bebas dinikmati dan sudah termasuk minuman. “All you can eat ini untuk mempermudah konsumen dengan harga terjangkau,” tambah Daris. (tif/iwa/mg1)