PPDB SMP negeri telah ditutup kemarin. Kekhawatiran bakal adanya sekolah kekurangan siswa sebagai dampak sistem zonasi pun terbukti. Di Kabupaten Sleman ada dua sekolah mengalami hal tersebut. Keduanya berada di wilayah Prambanan. Yakni, SMPN 3 dan SMPN 4. Hingga pukul 15.00 kemarin SMPN 4 hanya diminati 45 calon siswa. Sedangkan daya tampung sekolah yang terletak di Jalan Candi Ijo KM 3 Broyokan, Sambirejo, Prambanan itu sebanyak 64 kursi. Sementara di SMPN 3 Prambanan, dari 128 kuota yang dibutuhkan hanya terisi 86.

Kasus kekurangan siswa di dua sekolah tersebut merupakan persoalan klasik. Dari catatan Radar Jogja, pada PPDB tahun lalu kedua sekolah itu juga minim pendaftar. Ketika itu, hingga pendaftaran ditutup, SMPN 3 Prambanan hanya diminati 74 calon siswa. Sedangkan SMPN 4 Prambanan hanya terisi 53. Adapun daya tampung kedua sekolah tersebut pada tahun lalu sama dengan sekarang.

“Artinya tahun ini kami masih kekurangan 19 siswa,” ungkap Kepala Sekolah SMPN 4 Prambanan Sudaryanto kemarin.
Sudaryanto mengaku telah melakukan berbagai upaya untuk mendongkrak minat calon siswa. Bahkan dengan sistem jemput bola. Jauh hari sebelum pendaftaran online dibuka, para guru diterjunkan untuk menggali minat calon siswa. Upaya tersebut dilakukannya demi memfasilitasi masyarakat yang tidak memiliki akses internet. Selain itu lantaran lokasi sekolah yang berada di perbukitan dan jauh dari permukiman penduduk.
Diakui, kekurangan siswa menjadi problem tahunan yang dihadapi SMPN 4 Prambanan. Namun sejauh ini belum ada titik terang. Dia menduga lokasi sekolah menjadi salah satu faktor penyebab. “Tidak adanya sarana transportasi menuju sekolah menjadi kendala utama,” keluhnya.

Kondisi sosial masyarakat setempat juga menjadi persoalan. Terutama faktor pertemanan. Para siswa mau mendaftar karena terdorong banyaknya teman yang sekolah di tempat sama. “Soal bagaimana nanti kami masih menunggu arahan dinas pendidikan,” ucap Sudaryanto yang berharap kuota 64 di sekolahnya bisa terpenuhi.

Untuk mengatasi masalah tersebut Kepala Dinas Pendidikan Sleman Sri Wantini membuat kebijakan memperpanjang masa pendaftaran PPDB hingga 14 Juli mendatang. Kebijakan itu diharapkan bisa menjadi solusi masalah sekolah kekurangan siswa. Kelonggaran di dua sekolah itu hanya diperuntukkan bagi calon siswa yang belum mendapatkan sekolah. “Jadi bukan yang sudah dapat sekolah malah mencabut pendaftarannya dan pindah. Itu tak boleh,” tegasnya. Bagi calon siswa yang berminat mendaftar dipersilakan datang langsung ke SMPN 3 maupun SMPN 4 Prambanan.

Kasus kekurangan siswa sangat mungkin terjadi juga di Kabupaten Kulonprogo. Itu jika dilihat berdasarkan jumlah kelulusan sekolah dasar atau madrasah ibtidaiyah (SD/MI) dengan kuota SMP/MTs. Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kulonprogo Sumarsana menyebutkan, total lulusan SD/MI tahun ini mencapai 5.883 anak. Sementara daya tampung SMP/MTs 6.472 kursi. Ada selisih sedikitnya 1.573 kursi lowong di sekolah negeri maupun swasta. Dengan asumsi seluruh lulusan SD/MI melanjutkan ke jenjang SMP/MTs di Kulonprogo. “Tanpa sistem zonasi pun dimungkinkan ada SMP/MTs yang kekurangan siswa. Datanya belum riil karena belum masuk semua,” katanya kemarin.

Meski meyakini ada sekolah kekurangan siswa, Sumarsana memastikan tak akan memperpanjang pendaftaran PPDB sebagaimana dilakukan Dinas Pendidikan Sleman. “Hasil PPDB diumumkan resmi besok (hari ini, Red),” katanya. (har/tom/yog/mg1)