WARGA Blumbang, Desa Karangsari, Kecamatan Pengasih, Kulonprogo menggarap wisata alam Bukit Sajen. Mereka semangat menggarap pengunjung yang datang semakin banyak. Warga menambah spot foto untuk lebih menarik pengunjung.

Ketua Pokdarwis Bukit Sajen Sukarjo mengatakan Bukit Sajen menawarkan pesona alam yang indah. Tiga bulan terakhir, wisata alam alternatif ini mulai dikenal dan ramai dikunjungi.
“Kebanyakan mereka tahu dari media sosial. Melihat banyaknya pengunjung, warga tergerak mengelola, semak belukar dibersihkan, spot foto diperbanyak,” katanya (4/7).

Dari Bukit Sajen pengunjung bisa melihat Gunung Merapi dan Merbabu. Momen matahari terbit dan tenggelam juga indah dilihat dari Bukit Sajen.
“Kelebihan Bukit Sajen, tersusun dari batu-batu besar. Beberapa lempengan batu berlubang dengan posisi horisontal,” jelasnya.

Pengunjung bisa mengambil foto dengan frame batu berlubang. Terkesan ada di dalam gua. Melihat keunikan tersebut, pihaknya mengundang Dosen Fakultas Teknik Geologi Unsoed Asmoro Widagdo belum lama ini.
Asmoro mengatakan batuan di Bukit Sajen termasuk jenis batu gamping. Terbentuk dari pemadatan cangkang-cangkang hewan laut. Prosesnya jutaan tahun. Struktur batuan sama dengan Gua Kiskendo.

“Mungkin dulu daerah ini lautan. Jadi yang ada di sini merupakan batuan sedimen. Hasil endapan binatang atau hewan laut,” ucap pria asli Kulonprogo.
Dia berharap, Pokdarwis mempertahankan kondisi bebatuan Bukit Sajen. Sebab keunikan batu tersebut justru akan menjadi daya tarik pengunjung.
“Sebaiknya tanahnya dibersihkan. Sehingga akan kelihatan batuannya, tentu menarik. Tanahnya bisa dimanfaatkan untuk menaman tanaman hias atau perindang biar sejuk,” kata almunus pendidikan Doktor Pasca Sarjana Fakultas Teknik Geologi UGM.

Heri Widada dari Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kulonprogo mengatakan Bukit Sajen menarik untuk dipelajari. Secara geologi, di sisi tutara ada Gunung Ijo yang dikenal sebagai gunung api purba. Ke utara lagi ada Gunung Gajah, diperkirakan lebih tua dari Gunung Ijo.
“Sisi utara Bukit Sajen bekas patahan gempa purba Sermo-Clereng. Membentuk tebing tegak hampir 90 derajat memanjang belasan kilometer. Kami namai ngarai tersebut Ngarai Si Anu,” ungkap Heri. (tom/iwa/mg1)