JOGJA – Pagelaran bertaraf internasional tahunan, Yogyakarta Gamelan Festival (YGF), kembali hadir. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, 23rd YGF 2018 akan diadakan di beberapa venue perwakilan dari empat arah mata angin dan satu tempat umum.
PIC YGF Sudaryanto mengatakan, dipilihnya empat mata angin dan satu tempat umum ini berkaca pada silsilah orang Jawa bahwa setiap orang punya saudara dengan empat arah mata angin dan satu pancer di tengah.
”Tahun ini YGF mengangkat tema Global Gamelan. Perkembangan gamelan telah mendunia haruslah disadari. Lebih dari 34 negara secara aktif telah memainkan gamelan dengan caranya masing-masing. Gamelan telah mendunia dan Indonesia, khususnya Jawa, adalah pusatnya,” ujarnya dalam pembukaan YGF, Kamis (5/7).

Event yang dihelat Komunitas Gayam 16, PKKH UGM, dan Dinas Kebudayaan DIJ ini akan diselenggarakan pada 7, 10, 11 Juli di Titik Nol Kilometer dan 13, 14, 15 Juli di PKKH UGM
Project Director YGF Ari Wulu menjelaskan, rangkaian acara kali ini terdiri dari Gaung Gamelan, Pupuh Tabuh, Sarasehan, dan lainnya.
”Gaung Gamelan ini bukan semata-mata pagelaran gamelan. Namun dengan Gaung Gamelan ini kami semua menjadi satu, bersama-sama berdoa kepada Tuhan memohon keselamatan dari segala wujud angkara murka,” jelasnya.
Dia menambahkan, bagaimana manusia mengeksplorasi dan memperlakukan gamelan jangan sampai lupa kembali pada asal gamelan itu sendiri.
”Gamelan diciptakan para empu dan pujangga, dan kembali untuk apa ”ngudi kawruh lan ngèlmu” tentang gamelan,” jelasnya.
Agenda tersebut diselenggarakan pada Sabtu, 7 Juli 2018 pukul 15.00-17.30 di empat arah mata angin Jogjakarta dan Titik Nol Kilometer sebagai pusatnya.
Dia menjelaskan, pada hari pertama di Kampus FIB UGM (sisi utara) diisi oleh Prasasti. Kemudian di Bokoharjo, Prambanan, Sleman (sisi timur) oleh Sanggar Sekar Ngrayung, Kemudian di Sidomulyo, Bambanglipuro Bantul (sisi selatan) oleh Omah Gamelan. Di Banyuraden, Gamping Sleman (sisi barat) oleh Kalacakra.

”Sedangkan di Titik Nol Kilometer diisi olehHMJ Karawitan ISI Jogja,” jelasnya.
Wulu, sapaannya, menjelaskan untuk Pupuh Tabuh merupakan adu komposisi gamelan di Titik Nol Kilometer dengan format balungan antarkelompok di hari yang sama. Dengan pemain-pemain gamelan yang sudah tidak asing lagi diantaranya adalah Welly Hendratmoko, S.Sn, Bayu Purnama, M.Sn, Aji Santoso, M.Sn, dan HMJ Karawitan ISI Jogjakarta.
Perwakilan Dinas Kebudayaan DIJ Danang Sujarwo yang hadir dalam pembukaan tersebut menyampaikan, pihaknya mengapresiasi anak-anak muda yang masih mau menghelat acara YKF. Juga sekaligus ikut melestarikan musik dan alat tradisional asli Jawa.
”Semoga semangat dan kreativitas teman-teman ini bisa ditularkan ke generasi berikutnya,” katanya. (ita/ila/mg1)