PSS Sleman, sampai dengan pekan ke-5 bertengger di posisi runner up, dengan raihan poin 10 hasil dari tiga kali menang, sekali seri dan 1 kali kalah. Tim berjuluk Green Falcon ini dapat tetap bercokol di papan atas klasemen, bila bisa menyapu bersih pada dua laga di tour Kalimantan. Satu etape telah ditapaki anak-anak Sleman usai menang 4-1 atas Persiba Balikpapan, Kamis (5/7).

Tak beda dengan PSIM Jogja. Meski di papan klasemen masih berada di papan bawah, grafis penampilan Hendika Arga cs sebenarnya cukup meyakinkan. Harus diigat, Mataram Knight- julukan PSIM Jogjaharus memulai kompetisi dengan nilai minus 9.

Bayangkan, bila seandainya tim parang biru ini memulai dengan nilai normal. Raihan 3 kemenangan dua seri dan sekali kalah, akan menempatkan PSIM Jogja bersaing dengan saudara muda mereka, PSS Sleman dan juga Madura FC. Dengan pertandingan yang telah dijalani, PSIM sebenarnya telah mengumpulkan poin plus 11.

Lalu, apa yang membuat kedua tim asal Jogjakarta tersebut bisa tampil gemilang diawal kompotisi? Tak lain adalah motivasi. PSS Sleman, pada musim ini memiliki target naik kasta ke liga 1. Ambisi untuk berlaga diliga satu sebenarnya sudah ditargetkan pada musim lalu. Namun sayang, ambisi tersebut pupus sebelum babak play off.

Musim ini ambisi Super Elang Jawa, bisa terwujud dengan menjaga konsistensi dan motivasi. Apalagi skuad PSS Sleman salah satu yang cukup mentereng diantara peserta Liga 2. Sebut saja nama pemain seperti Syamsul Chaeruddin dan Made Wirahadi. Belum lagi, nama besar Cristian Gonzales yang hingga saat ini masih diparkir belum dapat dimainkan.

PSS Sleman sempat didera persoalan dengan mundurnya pelatih Herry Kiswanto. Namun, badai yang melanda PSS Sleman mereda seiring keberadaan Seto Nurdiyantara dipercaya sebagai pelatih kepala, menggantikan Herkris, panggilan akrab Herry Kiswanto. ”Sebelum lebaran pemain sudah melewati fase buruk, semoga bisa menjadi motivasi menghadapi laga selanjutnya,” kata Seto.

Sementara itu, di kubu PSIM, motivasi pemain untuk meraih hasil positif di laga selanjutnya harus terus dijaga. Sebab dikhawatirkan, motivasi meningkat karena ingin terlepas dari nilai minus. Setelah bisa lepas dari nilai plus tersebut, dikhawatirkan motivasi para pemain jeblok.

Pelatih PSIM Jogja Bona Simanjuntak mengaku beban tim berkurang, setelah lepas dari nilai minus. Meski begitu, dia tak ingin berkurangnya beban berdampak pada fokus pemain. Oleh karenanya, Bona terus memotivasi pemain, untuk tetap menjaga mental bermain mereka di lapangan.

”Saya terus tekankan kepada pemain bahwa jalan kita masih panjang. Raih hasil semaksimal mungkin,” jelas Bona. (bhn/din/mg1)