JOGJA – Masyarakat DIJ harus ekstra sabar jika berniat berangkat haji. Sebab, waktu tunggu untuk menunaikan ibadah ke Tanah Suci masih sangat panjang. Tak kurang 20 tahun. “Calon haji yang mendaftar tahun ini kemungkinan diberangkatkan ke Makkah, Arab Saudi pada 2038,” ujar
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenang) DIJ M.Lutfi Hamid di sela pamitan haji di Bangsal Kepatihan, Kamis (5/7).

Dikatakan, lebih dari separo calon jamaah haji yang berangkat tahun ini merupakan peserta tunggu sejak 2011. Sebagian kecil lainnya pendaftar haji 2008, yang baru bisa berangkat tahun ini karena beberapa hal. Total ada 3.131 calon haji DIJ yang akan diberangkatkan akhir Juli ini. Dari jumlah itu 25 orang di antaranya adalah petugas pendamping haji.

Lutfi Hamid menjelaskan, calon jamaah haji DIJ terbagi dalam 9 kelompok terbang (kloter). Yakni Kloter 21 SOC – 29 SOC. Pemberangkatan ke Asrama Haji Donohudan, Boyolali dijadwalkan mulai Minggu (22/7) hingga Rabu (25/7) mendatang. Para jamaah haji diperkirakan kembali di Boyolali mulai Senin (3/9) hingga Kamis (6/9). Adapun maktab atau pemondokan jamaah haji DIJ selama di Makkah tersebar di Raudhah, Jarwal, Syisyah, Misfalah, Aziziah, dan Mahbas Jin.
“Semua informasi tentang pelaksanaan haji tersaji lengkap di aplikasi Haji Pintar. Bisa diakses gratis lewat smartphone,” ujarnya.

Lutfi mengakui, tak sedikit jamaah haji bisa menggunakan fasilitas modern itu. Karena itu keberadaan pendamping haji cukup krusial demi melayani jamaah. Terutama jamaah haji risiko tinggi. Lutfi memastikan, jamaah risiko tinggi akan terus didampingi petugas. Mereka juga diberi tanda khusus. Kondisi kesehatan mereka akan dipantau secara rutin.
Jamaah disebut risiko tinggi jika berusia 65 tahun atau lebih, punya riwayat penyakit jantung, atau tensi darah tinggi. “Dari total jamaah yang berangkat tahun ini 25 persennya tergolong risiko tinggi,” ungkap mantan kepala Kantor Kemenag Sleman itu.

Nabilla Aziizah Herdiansari tercatat sebagai calon jamaah haji termuda di DIJ. Usianya menginjak 20 tahun. Saat didaftarkan sebagai calon haji Nabilla masih berusia sekitar 11 tahun. Ketika itu mahasiswi semester tiga Jurusan Psikologi Universitas Negeri Yogyakarta itu masih duduk di bangku kelas 5 SD. Sedangkan jamaah tertua ada dua orang. Mereka adalah Sapari Kromo Dreyo, warga Selomartani, Kalasan, Sleman dan Juminem Amat Rejo asal Gedongan Lor, Ngemplak, Sleman. Keduanya berusia 87 tahun.

Saat pamitan haji kemarin wajah Nabilla tampak semringah. Senyuman selalu tersungging di bibirnya setiap kali berpapasan dengan orang lain. Warga Rejowinangun, Kota Jogja, itu siap berangkat haji bersam orang tua dan seorang kakaknya, Nabilly Dito. Meski usia muda, Nabilla mengaku telah mempersiapkan diri secara maksimal. Terutama fisik. Dia membiasakan olahraga dengan rutin jalan kaki sebelum berangkat kuliah.
“Pertama kali dikasih tahu mau daftar haji ya menurut saja. Namanya juga masih anak-anak waktu itu,” katanya.

Setelah mengikuti beberapa kali bimbingan manasik haji, Nabila pun mulai memahami makna ibadah haji. Pun demikian urutan ibadah dalam rukun Islam kelima itu. “Tak ada persiapan khusus. Jadwal kuliah insya Allah tak akan terganggu karena pas liburan. Mental siap,” ungkap putri pasangan Totok Heru dan Siti Fauziah. Di Tanah Suci, Nabilla secara khusus ingin berdoa agar dilancarkan studinya agar bisa cepat lulus kuliah tepat waktu. Dia juga ingin mendoakan seluruh warga Indonesia dan muslim di Palestina.
Sementara itu, mewakili gubernur DIJ, Wagub Paku Alam (PA) X berpesan agar seluruh jamaah haji selalu menjaga kesehatan selama di Tanah Suci. Apalagi sat ini memasuki musim pancaroba. Kesiapan petugas pendamping haji juga menjadi sorotan PA X. “Petugas haji bukanlah haji yang sedang bertugas. Tapi bertugas melayani jamaah haji,” tuturnya.

Ihwal waktu tunggu haji yang mencapai 20 tahun, PA X menilai hal itu sebagai fenomena yang tak bisa dihindari. Terlebih Indonesia merupakan negara muslim terbesar di dunia. Di sisi lain, Indonesia harus mematuhi ketentuan kuota haji yang ditentukan Pemerintah Arab Saudi. (riz/yog/mg1)