SLEMAN – Pertumbuhan penduduk lanjut usia terus meningkat. Diprediksi pada 2025 jumlah lansia di Indonesia mencapai 33 juta orang. Pemerintah tengah menyusun revisi UU 13/1998 tentang Kesejahteraan Lansia.

Menteri Sosial Idrus Marham mengatakan ada beberapa alasan perlunya revisi UU tersebut. Paling utama adalah memperkuat peran lansia dalam kehidupan sosial. Termasuk menjadi referensi dan tempat bertukar ide bagi generasi muda.

“Disiapkanlah rancangan UU yang akan direvisi. Harapannya menjadi landasan kuat pada posisi dan peran lansia,” kata Idrus di sela peringatan ke-22 Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) di Lapangan Paskhas TNI AU Jogjakarta Kamis (5/7).

Revisi tersebut akan memuat pasal yang lebih efektif. Perlu perubahan stigma terhadap para lansia. Sosok lansia memiliki peran yang sama dalam memajukan bangsa.

UU tersebut memosisikan peran lansia sebagai penyangga pembangunan. Termasuk mengawal nilai-nilai budaya bangsa. Lansia menjadi inspirator dan motivator bagi generasi muda.

“Berdasarkan data Kemensos pada 2007 ada delapan persen lansia dari jumlah penduduk. Lalu pada 2025 akan ada 33 juta lansia. Jadi harus dipikirkan langkah strategisnya,” ujar Idrus.

Draf revisi UU tersebut telah diserahkan pemerintah melalui Menko Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan (PMK) kepada Komisi VIII DPR RI. Selanjutnya akan dibahas agar bisa disahkan menjadi UU.

Menteri PMK Puan Maharani mengatakan UU akan dilengkapi program kompleks. Tidak hanya tingkat provinsi namun detail hingga kecamatan. Tujuannya agar pemberdayaan berjalan menyuluruh.
“Daerah sampai kecamatan membuat program-program agar para lansia tetap bisa produktif. Turut menuangkan ide-idenya, jadi sinergitas antar generasi terwujud,” kata Puan.

Gubernur DIJ Hamengku Buwono X menilai lansia harus mandiri. Salah satunya menyiapkan masa tua secara matang sejak masih produktif. Dia mendorong agar tidak ada post power syndrome pasca pensiun.
“Turut menyiapkan generasi muda bangsa. Lalu aktif dalam setiap forum lintas generasi dan membangun hubungan harmonis. Jadi lansia tidak dimaknai sebagai pensiun sepenuhnya,” ujar HB X. (dwi/iwa/mg1)