Kemampuan berkarya penyandang disabilitas kerap dipandang sebelah mata. Namun, tak demikian dengan peserta pelatihan barista di Pusat Rehabilitasi Yakkum, Sleman. Mereka membuktikan diri bisa meracik kopi nikmat ala barista profesional.

JAUH HARI WAWAN S, Sleman

TANGAN yang tidak sempurna itu berusaha membuka toples berisi kopi arabika Aceh Gayo. Perlahan biji kopi yang sudah melalui proses roasting ditakar dan dimasukkan mesin grinder. Tak berapa lama butiran kopi pun berubah menjadi serbuk, yang kemudian dimasukkan ke portafilter dan ditamping dengan tamper. Selanjutnya dimasukkan ke dalam mesin ekspreso.
Begitulah kira-kira proses penyajian secangkir kopi ekspreso yang dilakukan Eko Sugeng,33, salah seorang peserta pelatihan barista inklusif, yang dilakukan Pusat Rehabilitasi Yakkum bersama Cupable.

Kedua tangan Eko memang tak lagi sempurna sejak kecelakaan dialaminya beberapa tahun lalu. Tak lagi punya dua tangan bukan menjadi halangan bagi Eko untuk berkarya. Meskipun tampak kesulitan menyajikan secangkir kopi, dia tetap berhasil membuat coffee latte. Eko memang tak sendirian dalam menyajikannya. Dia sedikit dibantu seorang rekan. Tapi, untuk mengantarkan pesanan kopi ke meja pelanggan Eko melakukannya sendiri. “Lumayan susah bikin kopi dengan mesin karena memang belum terbiasa,” tutur Eko yang juga seorang penikmat kopi.

Eko sangat senang mendapat kesempatan mencoba hal-hal baru. Makanya, dia begitu semangat bisa ikut pelatihan barista. Dia menyadari, sejauh ini masih banyak kalangan yang meragukan kemampuan penyandang disabilitas dalam berkarya. “Di pelatihan ini kami diberi motivasi, dorongan, semangat, dan kesempatan. Itu yang terpenting,” tegasnya.

Minimnya kesempatan berkarya maupun kepercayaan masyarakat kepada penyandang disabilitas turut dirasakn Eko. Bahkan, tak sedikit kaum difabel merasa dikucilkan karena hal tersebut. Itulah yang menyebabkan potensi penyandang disabilitas tak terasah. Namun, semua itu seolah dibalik 180 derajat dalam pelatihan barista kali ini. Seluruh difabel membuktikan diri bisa melakukan hal yang sama dengan orang normal.

Eko pun berharap bisa menularkan ilmu yang dia peroleh kepada orang lain. Terutama bagi mereka, yang menurutnya, kurang beruntung. Ke depan, dia ingin mengajak teman-teman difabel lain untuk optimistis dalam menjalani hidup. Sehingga mampu bekerja layaknya mereka yang tidak kekurangan satu apa pun.

“Pelatihan barista kali ini sengaja kami lakukan sebagai salah satu bentuk kampanye kesetaraan penyandang disabilitas,” ujar staf informasi dan komunikasi Pusat Rehabilitasi Yakkum M.Aditya Setiawan kepada Radar Jogja.
Setiawan melihat barista sebagai profesi potensial. Terlebih di Jogjakarta saat ini banyak bertebaran kedai kopi, dari yang bertipe warung hingga sekelas café. Setiawan melihat ada celah bagi penyandang disabilitas untuk bisa berkarya dan menjadi bagian dari industri kopi. “Kami ingin menunjukkan bahwa teman-teman yang disabilitas bisa melakukan hal yang sama seperti yang orang lain lakukan,” tegasnya.
Besar harapan Setiawan, setelah menjalani pelatihan ada peserta yang memberanikan diri membuka dan mengelola kedai kopi sendiri. (yog/mg1)