KLATEN – Pusat Studi Bioteknologi Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Wageningen University Belanda mengembangkan agen hayati dari mikroba atau jasad renik untuk pembasmi bakteri dan jamur pada tanaman padi. Gunanya sebagai alternatif pengganti pestisida untuk mengurangi penyakit hawar daun karena bakteri Xanthomonas Orizae dan busuk pelepah karena jamur Rhizoctonia Solani.

“Hanya mengurangi penyakit, bukan menghilangkan,” ujar Prof Siti Subandiyah dari Pusat Studi Bioteknologi UGM saat memantau uji coba lapangan di sawah milik warga di Desa Jimbung, Kecamatan Kalikotes, (26/6). Misalnya, kata Diyah, penyakit kresek dari bakteri mulai muncul lagi ketika tanaman mulai meratak. Sedangkan jamur biasanya menyerang pada umur 50 hari, saat fase tanaman sudah mulai bunting atau mengeluarkan malai.

Dia menerangkan, penyakit itu sudah merata di tubuh tanaman, nantinya pengisian bulir tidak maksimal. Dikatakan dapat menyebabkan penurunan hasil panen 40 hingga 60 persen. Selain memberikan kekuatan pada tanaman, juga menekan penyebab penyakit. Selain itu menaikkan hasil produksi sekitar 20 persen.
Diyah menjelaskan, pentingnya penggunaan agen hayati yang ramah lingkungan ini karena antibiotika seperti pestisida sudah tidak direkomendasikan. Keterbatasan tenaga kerja yang mau bekerja di sawah, memaksa petani harus menggunakan mesin-mesin untuk mengolah tanah hingga menanam benih dan menggunakan hibrisida untuk pengendalian rumput.

Selain itu, penggunaan pestisida yang tidak tepat dapat membuat organisme pengganggu tanaman dengan ras baru yang tahan dengan pestisida. dan lebih ganas. “Bisa juga menurunkan kualitas kesehatan si petani maupun konsumennya nanti,” tambahnya.
Sebelumnya sudah dilakukan uji coba rumah kaca di Sleman. “Sekarang uji coba lapangan dengan melibatkan kelompok tani,” kata koordinator percobaan lapangan Arif Wibowo.
Arif menjelaskan, Klaten dipilih karena saat itu persawahan di sana masih dalam masa tanam, sedangkan di DIJ sudah selesai. Namun, sistem penanaman padi di Klaten agak berbeda, dari benih langsung disebar ke lahan.
“Kalau di Jogja diterapkan sistem pembibitan dahulu, nah harusnya uji coba ini pakai pembibitan dulu, tapi kami lihat nanti hasilnya bagaimana kalau tanpa pembibitan,” ungkap dosen Fakultas Pertanian UGM ini.

Uji coba dilakukan di area sawah seluas 2.000 meter persegi yang terbagi menjadi enam petak. “Treatment-nya dimulai 31 Mei lalu, tiap petak dibagi untuk membandingkan mana yang di-treatment mana yang tidak,” jelas Diyah.
Agen hayati diformulasikan dalam tiga bentuk, yakni cair, granule, dan semprot. “Hasil uji coba di Sleman kemarin walaupun penyakitnya masih ada, hasil jumlah dan kualitasnya lebih tinggi,” ujar Diyah. Dia berharap, penggunaan agen hayati ini dapat berlanjut untuk memaksimalkan produksi dan kualitas beras lokal. (tif/laz/mg1)