SELAIN pedagang, petani cabai pun tak untung, tapi malah buntung. Meskipun harga cabai di pasaran melonjak. Gara-garanya harga jual ke tengkulak terlalu rendah. Cabai merah keriting, misalnya. Yustina Suhartini Sutejo,70, petani asal Dusun Cepet, Purwobinangun, Pakem, Sleman mengungkapkan, sebelum Ramadan harga panennya dihargai Rp 35 ribu per kilogram. Saat ini anjlok menjadi hanya di kisaran Rp 15 ribu- Rp 17 ribu. “Tentu saja kondisi ini memberatkan petani. Apalagi harga pestisida dan pupuk relatif mahal,” keluh Suhartini kemarin. Dia mengaku kewalahan menggarap lahan cabainya seluas 1.500 meter persegi. Baginya, bisa balik modal sudah cukup baik. Terlebih hasil panen musim ini tak sebagus tahun lalu. Banyak tanaman terserang patek. “Biasanya sekali panen bisa dapat satu ton, sekarang hanya lima kuintal, itu sudah lumayan. Banyak lagi yang tak berbuah karena bibitnya tak bagus,” ungkapnya.

Menurut Suhartini, mahalnya biaya perawatan juga berpengaruh pada kualitas cabai. Diakui, beberapa tanamannya yang terserang patek lantaran kurang terawat. Padahal, jika dibiarkan bisa menular dan membuat tanaman lain terserang penyakit yang sama. “Solusinya ya harus dihilangkan, kalau tidak akan menular dan gagal panen,” jelasnya.

Sejauh ini Suhartini telah sepuluh kali memetik cabai di lahannya. Biasanya dilakukan empat hari sekali. Sekali petik hasil rata-ratanya 10-20 kilogram.
Petani lain, Daryoto, mengalami nasib lebih baik. Jika sebelum Lebaran cabainya dihargai Rp 24 ribu per kilogram, kini naik menjadi Rp 35 ribu. “Ini karena kami jualnya pakai sistem lelang ke pengepul. Rp 35 ribu itu tertinggi di wilayah Pakem,” ungkapnya.

Kepala Bidang Holtikultura dan Perkebunan, Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DP3) Kabupaten Sleman Edi Sri Hartanto mengatakan, cabai bukan termasuk tanaman musiman. Tapi bisa dipanen sepanjang tahun. Edi mengklaim, stok cabai di wilayah Sleman cukup tersedia. Dihasilkan dari seluruh total lahan cabai seluas 1.500 hektare.

Komoditas itu disokong oleh petani di beberapa daerah sentra tanaman cabai. Seperti Pakem, Ngemplak, Turi, dan Ngaglik. “Di Ngemplak, tepatnya di Pondok Wonolelo bahkan ada 40 hektare lahannya,” ujarnya.
Menurut Edi, setiap hektare tanaman cabai dapat menghas

ilkan rata-rata 9-11 ton per satu kali musim panen. Ihwal harga cabai rawit merah yang terus melonjak, Edi tak bisa memastikan kaitannya dengan hasil panen. Tapi, dia menyebut, harga cabai saat ini masih cukup mengungungkan bagi petani. (har/yog/mg1)