Kenyamanan Yogyakarta sebagai kota yang meyandang beragam predikat harus terus dijaga. Tugas itu menjadi kewajiban segenap elemen masyarakat. Cipta kondisi itu diperlukan agar situasi dan kondisi Jogja tetap kondusif.

“Cipta kondisi itu harus dilakukan oleh 5 K. Mulai dari keluarga, kampung, kampus, keraton dan keprajan,” ujar Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) DIY Agung Supriyono saat acara Srawung Warga Selasa Wage di Malioboro pada Selasa (3/7) malam.

Srawung Warga Selasa Wage itu diinisiasi Dinas Pariwisata DIY. Kegiatannya berlangsung setiap selapan atau 35 hari sekali. Acara berlangsung bertepatan saat komunitas Malioboro seperti pedagang kaki lima (PKL) dan lainnya meliburkan diri dari aktivitas ekonomi.

Menurut Agung, elemen 5 K itu menjadi perekat bagi keistimewaan DIY. Khusus untuk keprajan bukan hanya berlaku bagi birokrasi di lingkungan pemerintah daerah saja. “Keprajan itu termasuk instansi vertikal di bawah pemerintah pusat,” kata dia.

Mantan kepala Biro Hukum Setda DIY itu merasa bangga dengan lahirnya banyak organisasi relawan. Mereka banyak terjun dan membantu dalam berbagai aktivitas sosial. “Relawan tumbuh bak jamur. Ini luar biasa,” pujinya.

Kasubdit IV Direktorat Intelejen dan Keamanan (Ditintelkam) Polda DIY AKBP Daru Tyas Wibawa juga tampil sebagai narasumber. Daru menyebut DIY merupakan marwah dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Karena itu, semua warga yang tinggal di Jogja harus bisa menjaganya. Daru mengutip Tridarma ajaran KGPAA Mangkunegara I dari Surakarta. Tridarma pendiri Dinasti Mangkunegaran itu berisi tiga hal yang perlu dilaksanakan setiap pemimpin dan warga negara. Yakni, pertama, rumangsa melu handarbeni. Kedua, wajib melu hangrukebi dan ketiga, mulat sarira hangrasa wani

Rumangsa melu handarbeni artinya merasa ikut memiliki. “Rasa handarbeni harus ditumbuhkembangkan,” ajak lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) Angkatan 1998 ini. Sedangkan wajib melu hangrukebi, maknanya wajib ikut membela. Adapun mulat sarira hangrasa wani, artinya mawas diri atau instropeksi. “Seseorang yang bertindak harus melihat ke dalam dirinya dengan jujur. Apakah yang dilakukan selaras pikiran, perkataan dan perbuatannya,” pesannya.

Selain perwira menengah Polri itu mengutip serat Wedhatama karya KGPAA Mangkunegara IV dan serat Wulangreh yang ditulis Susuhunan Paku Buwono IV. Kedua ajaran leluhur itu masih relevan diterapkan di era modern ini.

Seniman Nano Asmorodono lebih menyorot implementasi dari ungkapan Hamemayu Hayuning Bawana atau memperindah keindahan dunia. Bagi seniman ketoprak ini, sebelum sampai pada Hamemayu Hayuning Bawana, harus diawali dengan Hamemayu Hayuning Warga. “Itu yang harus dikenal lebih dulu ke warga. Setelah itu baru melangkah ke Hamemayu Hayuning Bawana,” kata Nano. (kus/mg1)