KULONPROGO – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulonprogo kebanjiran surat permohonan permintaan droping air bersih. Ada enam kecamatan mengajukan permohonan, yakni Girimulyo, Kalibawang, Sentolo, Samigaluh, Kokap dan Nanggulan.

“Sebagian sudah dipenuhi, seperti Girimulyo dan sebagian Kalibawang serta Sentolo. Sementara ini droping air dari Dinas Sosial (Dinsos) lewat Taruna Siaga Bencana (Tagana). Sudah ada 40 truk tangki air bersih yang didistribusikan,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kulonprogo Ariadi Rabu (4/7).

Syarat mendapatkan droping air bersih cukup melapor ke kecamatan. Kecamatan yang akan mengajukan permohonan kepada bupati ditembuskan ke BPBD.

BPBD hanya mengandalkan dana tak terduga dan pencairannya harus ada status darurat kekeringan. Maka sementara droping masih mengandalkan anggaran dari Dinsos dan CSR (corporate social responsibility) perusahaan.

“Seperi hari ini (kemarin) disalurkan air bersih dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) ke Dukuh Ngrandu, Desa Salamrejo, Sentolo. PLN mengalokasikan bantuan 150 tangki air bersih,” kata Ariadi.

Pemicu kekeringan disebabkan siklus lima tahun perawatan irigasi intake Kalibawang. Daerah yang terdampak Kalibawang dan Nanggulan. Sumur-sumur warga dipasok dari resapan air irigasi tersebut.

“Kalau pemetaan daerah rawan kekeringan masih sama seperti tahun lalu. Hanya ditambah Kecamatan Nanggulan yang terdampak perawatan irigasi. Air sumur surut dan habis,” katanya.

Ada tiga desa di Kalibawang terdampak perawatan irigasi, yakni Banjarharjo, Banjararum dan Banjarasri. Dinsos melaluli Tagana sudah melakukan droping air bersih sebelum Lebaran.

Distribusi air bersih, Ariadi menjelaskan, air diambil dari sumber air milik PDAM di Clereng, Banguncipto dan Sermo. Sehingga air sudah layak minum.

“Untuk mempercepat proses droping, setiap lokasi yang meminta droping diminta menyiapkan tandon,” kata Ariadi.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi kekeringan masih wajar. Curah hujan menurun selama dua bulan ke depan. September diprediski hujan mulai turun. Namun BPBD Kulonprogo tetap waspada terhadap dampak kekeringan tersebut.

“Penentuan darurat kekeringan harus direkomendasi dari BMKG. Jika terjadi kekeringan lebih dari dua bulan masuk kategori ekstrem,” ujar Ariadi.

Basuki Widodo, warga Dusun Kemukus, Desa Tanjungharjo, Kecamatan Nanggulan mengatakan wilayahnya kering karena terdampak perawatan irigasi intake Kalibawang. Di Nanggulan ada dua desa yang krisis air bersih, yakni Tanjungharjo dan Banyuroto.

“Sumur-sumur di daerah saya sudah kering sekitar tiga bulan terakhir. Rencananya akan mengajukan droping air,” ungkap Widodo. (tom/iwa/mg1)