KULONPROGO – Pemprov DIJ akan mendesain ulang Pelabuhan Tanjung Adikarto di Karangwuni, Kecamatan Wates. Langkah itu agar perlabuhan tidak terlalu lama mangkrak dan bisa segera beroperasi.

“Saat ini belum selesai verifikasi. Apakah alur pelayaran dibangun lurus atau dibelokan,” kata Gubernur DIJ Hamengku Buwono (HB) X di Wates (3/7).

Desain alur pelayaran dibelokkan agar pasir tidak terlalu cepat masuk ke kolam pelabuhan dan menutup akses masuk kapal. Jika dibangun lurus, setiap satu atau dua tahun harus dikeruk pasirnya.

Kasubag Program DKP DIJ Sunardi mengatakan tahap pembangunan Pelabuhan Tanjung Adikarto mulai 2002 dengan studi kelayakan. Pada 2003 rencana detail teknis (DED) dibuat, dan pembangunan dimulai 2004. Namun sampai sekarang belum rampung.

“Semua fasilitas pendukung sudah dibangun. Mulai tempat pelelangan ikan (TPI) hingga pabrik es batu. Namun yang masih menjadi persoalan yakni penyelesaian pemecah ombak. Pemecah ombak sisi timur diperpanjang 170 meter dan sebelah barat 120 meter,” kata Sunardi.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kulonprogo Sudarna mengatakan kunci utama beroperasinya Tanjung Adikarto yakni menambah pemecah ombak baik di sisi timur dan barat. Tujuannya untuk menghambat sedimentasi.

“Berdasarkan review rencana detail teknis dan desain Pelabuhan Tanjung Adikarto, perlu adanya perpanjangan pemecah ombak,” kata Sudarna.
Menurut dia, pemecah ombak sisi timur saat ini sudah terpasang 220 meter, masih perlu ditambah 170 meter lagi. Sementara pemecah ombak sisi barat perlu sepanjang 230 meter. Saat ini masih kurang 120 meter.

“Biaya yang dibutuhkan untuk penambahan pemecah dan pengerukan pasir kolam pelabuhan sekitar Rp 400 miliar,” ujar Sudarna.

Anggaran sebesar itu tidak mungkin ditanggung APBD I atau APBD II karena sangat besar. Pemkab meminta Pusat mengalokasikan anggaran penyelesaian Pelabuhan Tanjung Adikarto.

“Kami berharap Pusat memprioritaskan pembangunan Pelabuhan Tanjung Adikarto,” harap Sudarna. (tom/iwa/mg1)