BISA mempelajarai isi jagat raya tentu menjadi impian banyak orang di dunia. Nur Fitriana, salah satunya. Kesempatan emas menjadi milik perempuan 32 tahun itu ketika dia dinyatakan lolos sebagai salah seorang peserta pelatihan astronot USSRC oleh NASA pada 21-25 Juni lalu.

Ketertarikan Fiti, sapaannya, terhadap benda-benda angkasa memang sejak lama. Karena itu, saat ada pendaftaran seleksi pelatihan astronot dia bergegas mengikutinya. Berkat upayanya yang begitu gigih, harapan guru SDN Deresan, Caturtunggal, Depok, Sleman, itu terkabul. Selain berlatih dan menimba ilmu tentang luar angkasa, dia juga bertemu dengan para astronot yang telah malang melintang di orbit bumi.
“Ada 2.776 pendaftar dari seluruh dunia. Yang lolos 118 peserta dari 67 negara. Dari Indonesia ada sembilan orang,” jelasnya ditemui di SDN Deresan, Rabu (4/7).

Fitri tak bisa membayangkan suasana pelatihan di Negeri Paman Sam itu. Sesampainya di Amerika Serikat, Fitri bersama 117 peserta lainnya diinapkan di asrama Negara Bagian Alabama. Tanpa butuh lama, rombongan pelatihan dibagi menjadi delapan grup.
STEM (science, technology, engineering, and mathematics) merupakan empat cabang ilmu pelatihan awal. Ini merupakan standar pelatihan dasar yang harus dikuasai para astronot.

Selain teori, Fitri juga menjalani simulasi. Sesi inilah yang paling dinanti setiap peserta pelatihan. Setiap kelompok diberi kesempatan menjajal ruang simulasi yang hampir seratus persen mirip suasana ruang angkasa.
“Ruangannya benar-benar menggambarkan situasi ruang angkasa. Pembimbingnya para astronot yang pernah menjalankan misi. Kami juga bertemu mekanik dan penelitinya,” kenang Fitri.

Di ruang simulasi, para peserta bukan hanya dilatih menerbangkan pesawat ruang angkasa. Ada satu scene adegan yang wajib dijalani seluruh peserta pelatihan. Yakni, penanganan pesawat saat terjatuh ke dalam danau di planet ruang angkasa.

Setiap peserta ditekankan untuk tidak takut mencoba semua peralatan simulasi. Meski ada perasaan takut saat menjalani simulasi, Fitri pun tetap menjalaninya. Menurut Fitri, peserta lain juga banyak yang takut karena ketinggian, keramaian, atau suasana gelap.
“Saat simulasi pesawat jatuh di danau dan pilotnya terluka, kami harus bekerja sama menyelamatkannya ke luar pesawat. Menyingkirkan rasa takut dan harus bisa berpikir sehat menghadapi kecelakaan,” ujarnya.

Dalam pelatihan ini seluruh peserta wajib memposisikan diri sebagai anak usia 12 tahun. Agar bisa menjalani setiap pelatihan dengan optimal dan efisien.
“Karena ada rangkaiannya. Semua harus diikuti tata urutannya. Mulai menerbangkan pesawat ke ruang angkasa, pendaratan ke bulan dan Mars, lalu kembali mendarat di bumi,” tuturnya.

Selain menggunakan peralatan serba canggih, selama pelatihan para astronot juga membuat roket dari bahan-bahan bekas. Badan roket dibuat dari plastik dan botol bekas, serta kertas koran. Sementara untuk peluncur menggunakan serbuk bahan kembang api.
Setiap kelompok diberi waktu 20 menit untuk berkreasi. Roket-roket buatan tangan itu selanjutnya diterbangkan satu-persatu. Tidak semua roket bisa terbang dengan sukses. Sebagian tetap bertahan di darat. Namun, tak sedikit pula yang yang terbang, meski jaraknya pendek.
“Jadi kami harus mengukur kecepatan, sudut, dan jarak terbangnya. Satu lagi, kami juga diminta menerjunkan telur dalam kardus yang diberi parasut. Syaratnya, saat mendarat telur tidak boleh pecah,” papar Fitri merasa tertantang mencoba semua simulasi.

Bagi Fitri, pelatihan yang dia jalani tak sekadar mewujudkan mimpi untuk bisa terbang ke ruang angkasa. Dia juga berupaya memaknai setiap detail pelatihan. Selain teknologi, juga ilmu tentang kedisiplinan, karakter, dan mental.
“Semangat itulah yang saya tularkan ke anak-anak didik di SDN Deresan. Belajar untuk tetap gigih dan pantang menyerah,” ujarnya.
Satu hal lain yang menjadi kiat Fitri adalah belajar tidak harus mahal. Bisa dengan barang-barang di sekeliling untuk mengimplementasikan ilmu sains. Tentu saja dengan cara yang menyenangkan. (yog)