JOGJA – Ada pesan khusus disampaikan Gubernur DIJ Hamengku Buwono X kepada para abdi dalem keprajan Keraton Jogja dan Kadipaten Pakualaman. Mereka diwanti-wanti terus menjaga kebudayaan Ngayogyakarta Hadiningrat.
“Kembangkan kebudayaan Ngayogyakarta sehingga melebihi dengan warga yang lain,” pinta HB X saat menyampaikan sambutan bertajuk Sabdatama dalam acara Syawalan di Bangsal Kepatihan, Rabu (4/7). Sabdatama yang disampaikan HB X dengan menggunakan bahasa Jawa.

Ratusan abdi dalem keprajan mengikuti acara tersebut. Abdi dalem keprajan merupakan pegawai negeri sipil (PNS) dan pensiunan di lingkungan pemprov, pemkab dan pemkot se-DIJ. Selama acara, mereka mengenakan busana Jawa. Abdi dalem pria menggunakan jarik, surjan dan blangkon gagrak Jogja. Sedangkan yang perempuan memakai jarik dan kebaya.

Satu-satunya yang tak memakai busana Jawa hanya HB X. Raja Keraton Jogja itu memilih mengenakan batik lengan panjang dipandu celana warna gelap. Wakil Gubernur DIJ Paku Alam X tidak tampak mendampingi.
Kembali soal pengembangan kebudayaan Ngayogyakarta, HB X tidak memerinci lebih lanjut. Raja yang bertakhta sejak 7 Maret 1989 justru mengutip ajaran di serat Wulangreh karya raja Surakarta Susuhunan Paku Buwono IV dan serat Wedhatama yang ditulis Adipati Mangkunegoro IV dari Mangkunegaran.
Sesuai Serat Wedhatama, kutip HB X, abdi dalem keprajan harus dapat mencontoh laku utama wong agung Ngeksiganda. Dia tak lain adalah Panembahan Senopati. Menurut HB X, pendiri Dinasti Mataram itu mengajarkan beragam perilaku utama yang patut diteladani.

Di antaranya, dalam kehidupan harus memiliki tiga hal. Yakni arta (uang), wirya (kekuasaan) dan winasis (berilmu). Tanpa tiga hal itu, manusia dalam kehidupan nyata tidak banyak berarti. Bahkan laksana daun jati yang berserakan di tanah tertiup angin. Pesan seputar arta, wirya dan winasis diulang HB X selama beberapa kali.

Beberapa abdi dalem keprajan yang mengikuti syawalan itu mengaku heran dengan isi pidato HB X. Di satu sisi, diminta mengembangkan kebudayaan Ngayogyakarta, namun di pihak lain rujukan dari pidato HB X justru bersumber dari Kasunanan dan Mangkunegaran.
“Kenapa referensinya yang dipakai bukan serat-serat karya sultan-sultan Jogja terdahulu atau adipati Paku Alam. Apa memang tidak ada atau sengaja tidak digali,” ucap seorang abdi dalem keheranan.
Di tengah rasa heran itu, peserta syawalan dikejutkan dengan pengumuman yang disampaikan pembawa acara. Isinya melarang abdi dalem perempuan yang mengenakan jilbab tidak naik ke atas Bangsal Kepatihan untuk bersalaman dengan HB X. Larangan itu mengundang sedikit kegaduhan.

Tak sedikit pejabat pemprov yang menyesalkan larangan itu. “Pasti itu bukan dari Ngarsa Dalem. Tidak mungkin beliau membuat larangan begitu,” sesal Kepala Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset (DPPKA) DIJ Bambang Wisnu Handoyo . Rasa kaget juga tercermin dari wajah Sekprov DIJ Gatot Saptadi. (riz/kus/din/mg1)