Perkembangan desain rumah tidak lepas dari akar budaya. Setidaknya, itu terbukti dari bangunan-bangunan di Jogjakarta. Hingga saat ini banyak bangunan yang mengadopsi rumah tradisional Jawa ini pada umumnya.
Sebagai contoh, bentuk atap dari rumah-rumah modern masih mengadopsi gaya klasik ini. “Kalau untuk model joglo ini perseorangan masih ada (yang mendirikan) tapi kalau di tataran pengembang masih jarang yang mendesain huniannya dengan model joglo,” kata Sekretaris DPD Real Estate Indonesia (REI) DIJ Ilham M Nur.

Dia menjelakan, gaya hidup masyarakat yang serbacepat dan harga tanah yang mahal menjadi tantangan bagi pengembang yang ingin mendesain kompleks huniannya dengan model rumah joglo. Sebab, model rumah ini membutuhkan lahan lumayan luas. Setidaknya, bangunan berkonsep joglo membutuhkan pekarangan yang luas.
“Memang nanti kalau dari segi jumlah akan mengurangi jumlah hunian yang bisa dibangun,” kata Ilham.
Ilham tidak menampik jika ada pengembang yang membangun hunian dengan konsep rumah joglo. Dia berpendapat, pemilihan hunian berkonsep joglo tersebut dipilih oleh pengembang karena ingin menciptakan suasana yang lebih menonjolkan privasi. Sebab, jumlah penghuni dalam satu kompleks hunian berkonsep joglok tentu tidak bakal seramai perumahan pada umumnya.
Meski demikian, dia mengatakan, di balik kenyamanan itu tentu ada konsekuensinya. Salah satunya adalah harga rumah menjadi sangat mahal. Harga yang tinggi itu tak hanya terkait harga tanah. Bahan yang digunakan untuk membangun hunian berkonsep joglo juga menjadikan harga mahal.
“Joglo itu membutuhkan bahan yang lebih banyak sehingga jatuhnya lebih mahal dan perhitungannya lebih rigid,” tegasnya.

Pada sisi lain, orang yang menyukai joglo atau rumah berbentuk limasan karena dianggap lebih artistik. Selain itu, pada rumah joglo dengan kemiringan atap yang terukur akan menghasilkan sirkulasi udara yang baik.
“Kalau dilogika, keuntungan dari rumah joglo adalah lebih dingin,” bebernya.
Ilham menambahkan, zaman dulu rumah joglo tak sekadar berfungsi sebagai tempat tinggal. Rumah joglo sekaligus menunjukkan kelas sosial tertentu dari pemiliknya.
Perkembangan saat ini, ujarnya, rumah joglo banyak dimanfaatkan untuk menjalankan kegiatan usaha. Banyak rumah joglo digunakan pengusaha kuliner untuk menggaet pelanggan. “Tentu kesan heritage dari rumah joglo yang ditonjolkan,” tuturnya. (har/amd/mg1)