PURWOREJO – Rencana pengembangan Gedung Wanita Ahmad Yani Purworejo mengancam nasib 156 siswa yang belajar di SDN Sebomenggalan, Kelurahan/Kecamatan Purworejo. Pemkab berencana menggabung sekolah yang berstatus Adiwiyata Nasional itu dengan SDN Kepatihan, Purworejo.

Secara lisan, Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga
(Dindikpora) Purworejo telah menyampaikan rencana itu ke sekolah. Dan dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB) tahun ajaran 2017/2018 ini, tidak diperkenankan lagi menerima siswa baru.

Data yang diterima dari pihak sekolah, hingga Selasa (3/7) calon
peserta didik sekolah itu telah mencapai 35 orang. Adanya rencana
tersebut, tak pelak menjadikan salah seorang anggota DPRD Purworejo dari Komisi D, Imam Teguh Purnomo, berang.

“Atas rencana pemkab itu saya menolak. Dan selama saya berada di DPRD, saya pastikan rencana pembangunan Gedung Wanita itu tidak akan pernah terlaksana,” ujar Imam, Selasa (3/7).

Disampaikan, sekolah tersebut tidak memenuhi unsur-unsur untuk bisa digabung. Menurutnya, secara kuantitas siswa sudah melebihi dan beberapa prestasi juga telah diukir. Alumni siswa yang juga mantan anggota DPRD Purworejo Kanton Sanyoto mengaku tidak sepakat dengan langkah pemkab.

Seharusnya, akan lebih bijak jika dilakukan tukar guling dibandingkan harus diregrouping. “Sekolah ini dulu berada di gedung yang ditempati KPU saat ini, kenapa tidak dipindahkan ke sana saja,” kata Katon.

Ketua Komite SDN Sebomenggalan Kiki Prihantono mengaku, komite merasa keberatan dengan rencana itu. Pihaknya mengerahkan berbagai upaya agar sekolah tersebut tetap ada. “Langkah awal yang kami tempuh adalah menggalang dukungan ke seluruh orang tua siswa, ditambah dengan para alumni. Kami melayangkan sikap ke DPRD Purworejo,” ujar Kiki.

Dalam surat keberatan itu pihaknya mencantumkan setidaknya tujuh pandangan terkait rencana penggabungan. Dalam salah satu poin juga disebutkan kKepala Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga Purworejo tidak mempunyai konsep yang jelas terkait tindaklanjut rencana pengembangan kompleks Gedung Wanita.

“Kami menilai langkah-langkah yang diambil, khususnya belakangan ini tidak sesuai prosedur di bidang kependidikan,” tambah Kiki.

Kepala SDN Sebomenggalan Nurhayati mengatakan sekolah yang berada di belakang Gedung Wanita itu saat ini memiliki 156 siswa. Dan dalam tahun ajaran baru telah menerima pendaftaran sebanyak 35 anak.

“Dari anak yang sudah mendaftar memang rencananya akan kami saring, karena kami tidak bisa menerima semuanya,” kata Nurhayati. Sebagai salah satu sekolah Adiwiyata Nasional, belakangan ini pihaknya
tengah bersiap mengikuti penilaian Adiwiyata mandiri yang rencananya
akan dilakukan dua bulan mendatang.

Disinggung soal prestasi sekolah, Nurhayati mengatakan prestasi terakhir mampu menempatkan peserta didiknya di peringkat kedua tingkat kecamatan dalam perolehan nilai ujian nasional. Sedangkan untuk tingkat kabupaten, sekolahnya berada di peringkat keenam. (udi/laz/mg1)