Luqman Nurhidayat seperti terlahir dua kali. Sejak lahir, bocah kelahiran 18 Januari 2013 ini mengidap penyakit sirosis atau liver kronis. Kini, sudah sembuh.

GUNAWAN, Gunungkidul

Sore itu terlihat anak kecil bermain sepakbola di depan teras rumah seorang warga. Dari kejauhan terdengar sayup-sayup tawa renyah. Sesekali juga terdengar teriakan khas canda anak kecil. Bocah yang mengenakan kaos dan celana berwarna merah itu tampak begitu asyik mengolah si “kulit bundar” dengan kaki mungilnya. Itulah aktivitas Luqman Nurhidayat di halaman rumahnya, Selasa (3/7).

Siapa sangka bocah kelahiran Pedukuhan Ngaliyan, Pulutan, Wonosari ini dulunya nyaris setiap menit menangis. Tergolek lemah. Seperti saat Radar Jogja bertandang ke rumahnya 17 Mei 2017. Saat itu dia duduk di pangkuan ibunya. Namun, sesekali dia juga merengek minta tiduran dengan posisi miring. Sebab, anak pasangan Tumiyo-Sri Daryani tidak sanggup duduk lama. Maksimal hanya sepuluh menit. Bahkan, bocah malang itu juga kesulitan berbicara. Penyakit sirosis yang diidapnya sejak lahir sebagai penyebabnya.

Guna mencukupi asupan gizinya, Luqman harus mengonsumsi susu khusus. Harganya Rp 280 ribu per kaleng. Sangat mahal bagi pasangan suami-istri ini. Saat itu satu kaleng susu hanya mampu bertahan tiga hari.
Kini, Luqman sudah sehat. Kendati begitu, perjuangan kedua orang tuanya sangat berat. Terutama, ibunya. Sebab, perempuan kelahiran 35 tahun lalu ini November 2017 harus mendonorkan sebagian organ hatinya. Agar dapat dilakukan operasi pencakokan.

”Alhamdulillah. Sekarang anak saya sudah sembuh dan bisa bermain dengan anak-anak yang lain,” tutur Sri Daryani semringah.
Tak lupa, Sri Daryani juga menyampaikan rasa terima kasih kepada donatur. Mengingat, operasi pencangkokan di RSUP Sardjito menelan biaya tak sedikit. Mencapai Rp 1,8 miliar. Juga melibatkan tim ahli dari Indonesia dan lima dokter dari Jepang.
Kendati telah sehat, Luqman tercatat sebagai salah satu anggota komunitas Keluarga Penyintas Kanker Gunungkidul. Tujuannya agar kedua orang tuanya dapat berbagi pengalaman sekaligus memberikan suntikan semangat kepada para penderita penyakit kanker.

”Saat ini kontrolnya dua minggu sekali,” ucap ibu tiga anak ini.
Luqman saat ini telah menginjak lima tahun. Seperti anak-anak seumurnya, Luqman tahun ini didaftarkan di pendidikan usia dini.
”Untuk kebutuhan susu ada donatur,” tambahnya.
Ketika ditanya apakah sudah siap duduk di bangku sekolah, Luqman hanya dapat membalas dengan senyuman. Senyum riang khas anak kecil. Sebuah pemandangan yang berbanding terbalik dengan 4, 5 tahun silam. (zam/mg1)