GUNUNGKIDUL – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul mendatangkan air dari luar daerah untuk droping air di wilayah perbatasan. Air didatangkan dari Pracimantoro, Wonogiri hingga Bantul. Sumber air terdekat ada di dua wilayah tersebut.

Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul Edy Basuki mengatakan setiap hari mengirim enam tangki untuk dikirim ke wilayah terdampak kekeringan. Masing-masing tangki bolak-balik empat kali melakukan droping air sesuai urutan by name by adress warga yang membutuhkan.

“Droping air tersebut untuk Girisubo dan Rongkop. Di sekitarnya tidak ada sumber air,” kata Edy, Selasa (3/7).

Langkah tersebut agar warga segera mendapatkan air bersih. Hingga kemarin daerah terdampak kekeringan sebanyak 54 desa di 11 kecamatan menimpa 96.523 jiwa. Anggaran droping air selama setahun Rp 638 juta. Diperkirakan puncak kemarau terjadi pada Agustus.

“Pada bulan itu diprediksi warga terdampak kekeringan meningkat,” ujar Edy.

Baru-baru ini sejumlah warga di Desa Kedungkeris, Kecamatan Nglipar dan Desa Sambirejo, Kecamatan Ngawen mengajukan droping air. Dua desa tersebut merupakan wilayah terdampak kekeringan parah.

Anggota Komisi D DPRD Gunungkidul Imam Taufik mengatakan seharusnya ada terobosan mengantisipasi kekeringan yang terjadi setiap tahun. Langkah yang ditempuh harus cara yang tidak biasa.

Bupati Gunungkidul Badingah mengatakan pemkab akan memaksimalkan sumber air Baron, Tanjungsari. Langkah tersebut didukung Gubernur DIJ.

Pemprov meminta pemkab membuat proposal untuk memanfaatkan sumber air di Baron. Debit air bersih di Baron sangat melimpah.

“Sementara ini baru kami gunakan 100 liter per detik. Padahal potensi air bersihnya sampai 1.000 liter per detik. Untuk membeli peralatan kami tidak ada dana, Pak Gubernur siap memfasilitasi,” kata Badingah. Pemkab juga akan mencari sumber air baru. (gun/iwa/mg1)