BANTUL – Papan peringatan, spanduk pemberitahuan, hingga penjagaan personel Tim SAR Pantai Parangtritis. Itulah berbagai langkah antisipasi agar pengunjung objek yang terkenal dengan mitos Nyi Roro Kidul tersebut agar tak bermain air di dekat palung. Namun, nyatanya berbagai upaya ini tak sepenuhnya mampu menihilkan wisatawan tenggelam yang meninggal dunia. Dalam tiga setengah tahun terakhir tercatat sembilan wisatawan meregang nyawa. Rerata akibat tenggelam di dasar palung. Yang lebih memprihatinkan lagi, korban tenggelam berusia produktif. Rerata di kisaran 12 tahun hingga 35 tahun.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul Dwi Daryanto mengungkapkan, karakter pantai selatan Bantul berbeda dengan lainnya. Salah satunya terletak pada palung. Kendati begitu, jumlah palung di Pantai Parangtritis, misalnya, kerap berubah-ubah. Begitu pula dengan titiknya. Kerap bergeser. Itu akibat pengaruh arah angin dan gelombang laut.
”Biasanya, titik lokasinya seratus meter ke kiri dan seratus meter ke kanan,” jelas Dwi di kantornya, Selasa (3/7).

Kendati begitu, lokasi palung ini dapat terlihat dengan kasat mata. Salah satu cirinya adalah bergelombang tenang. Artinya, tidak ada gelombang laut besar yang melintas di atas palung. Padahal, sebagian kawasan Pantai Parangtritis bergelombang tinggi. Sedangkan ciri lainnya adalah adanya papan peringatan. Tim SAR Pantai Parangtritis menandai seluruh titik palung. Itu bertujuan agar wisatawan tak bermain air di sekitarnya.

Persoalannya adalah, Dwi mencermati, karakter ini justru menarik wisatawan bermain air di sekitar palung.
”Wisatawan kerap terjebak dengan arus pantai yang tenang. Padahal, air yang mirip kolam renang inilah pusat palung,” ingatnya.
Kendati begitu, Dwi melihat, tidak sedikit pula wisatawan yang terlena saat bermair air. Akibat terlalu lama bermain air, wisatawan tak menyadari posisinya telah mendekati palung.

”Begitu terbawa arus kita hanya dapat melihat tangannya saja,” ujarnya.
Komandan Tim SAR Pantai Parangtritis Ali Sutanto menyampaikan keterangan serupa. Dia menyebut berbagai upaya antisipasi telah dilakukan. Mulai pemasangan papan peringatan, spanduk pemberitahuan, hingga penjagaan personel tim SAR. Masalahnya, tidak sedikit wisatawan yang membandel ketika diingatkan. Terutama, wisatawan remaja. Karena itu, tim SAR belakangan ini menerapkan strategi baru. Tim SAR berkoordinasi langsung dengan ketua rombongan wisatawan agar bertanggung jawab atas keselamatan anggotanya.
”Kalau bermain di area palung ya sudah. Alamat hilang dan tak akan selamat,” katanya.

Guna meminimalisasi korban jiwa, pria bertubuh gempal ini mengusulkan Dinas Pariwisata (Dispar) Bantul gencar memberikan edukasi kepada pengunjung. Caranya dengan memberikan brosur berisi ciri-ciri dan bahaya palung.
”Dengan begitu, mereka sadar terhadap bahaya mandi di laut,” tambahnya.
Sementara itu, Plt Kepala Dispar Bantul Kwintarto Heru Prabowo tak menampik butuh upaya pemberian edukasi kepada wisatawan. Mengingat, karakter Pantai Parangtritis sangat berbeda dengan lainnya. Pantai di Gunungkidul, misalnya. Nyaris seluruh pantai di Bumi Handayani tak ada yang menghadap langsung ke Samudera Hindia. Ada penghalang berupa karang.
”Kalau Parangtritis langsung Samudera Hindia,” katanya.

Terkait usulan tim SAR, bekas camat Sewon ini berjanji bakal mengkajinya. Sebab, ada metode lain yang lebih efisien. Yakni, pemanfaatan laman milik dispar. Juga, pemanfaatan videotron.
”Kalau wisata malam di Parangtritis sudah berjalan, mungkin bisa dengan videotron,” tambahnya.
Dalam kesempatan itu, Kwin, sapaannya juga menyinggung pemberian santunan kepada wisatawan yang meninggal dunia. Menurutnya, asuransi Rp 250 yang tertera di setiap karcis masuk berfungsi sebagai jaminan bahwa dispar menjamin keamanan dan kenyawanan wisatawan. (ega/zam/mg1)