SLEMAN – Suhu dingin pada malam dan pagi hari dirasakan warga Jogja bisa mencapai 20 derajat celcius. Fenomena tersebut merupakan tanda mulai memasuki kemarau. Orang Jawa menyebut sebagai mbedhidhing (dingin)

Memasuki musim kemarau, warga harus mewaspadai peningkatan percepatan angin. Hal tersebut memengaruhi tinggi gelombang Laut Jawa.

Demikian dikatakan Staf Pemantau Prakiraan Cuaca Stasiun Klimatologi, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Yudha Tintana kemarin. ‘’Suhu dingin karena tipisnya awan di langit yang menjadi penahan panas,’’ kata Tintana.

Sehingga radiasi panas yang dipancarkan dari matahari ke bumi tidak dapat tertahan. ‘’Pada musim kemarau ini suhu terdingin di DIJ diperkirakan bisa mencapai 20 derajat celcius,’’ katanya.

Tintana mengatakan musim kemarau tahun ini terjadi hingga Oktober. Pembentukan awan hujan memerlukan waktu lama.

‘’Kami memerkirakan pembentukan awan terjadi pada Agustus dan September. Biasanya pada Oktober sudah mulai terjadi perubahan suhu,” ujar Tintana.

Dia mengingatkan pada musim kemarau tahun ini akan terjadi hujan tidak menentu. Hal ini terjadi karena gangguan cuaca jangka pendek.

‘’Ada tekanan rendah angin di Samudera Hindia sebelah barat yang membawa awan hujan ke Jawa. Angin ini membuat gelombang laut tinggi,’’ kata Tintana.

Diperkirakan pada 5-7 Juli gelombang laut mencapai lebih dari empat meter. ”Jika ada peningkatan percepatan angin biasanya terjadi peningkatan gelombang laut,” ujar Tintana. (cr5/iwa/mg1)