KULONPROGO – PT Angkasa Pura (AP) I mengklaim pembersihan lahan New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Desa Glagah dan Palihan adalah lanjutan land clearing yang belum tuntas. Pekerjaan fisik akan segera dilaksanakan.

Warga yang masih bertahan di lokasi NYIA diharapkan segera pindah. Karena mereka berada di area Izin Penetapan Lokasi (IPL) NYIA.
“Pekerjaan ditangani PT Pembangunan Perumahan (PP). AP I hanya melakukan monitoring setelah PP slow down di bulan puasa dan Lebaran lalu. Lahan dibersihkan karena sudah legal terakuisisi. Tidak terkecuali rumah,” kata Project Manager NYIA Sujiastono.

Langkah yang ditempuh sudah sesuai prosedur. Pemberitahuan dan Surat Peringatan (SP) III sudah dilayangkan akhir April 2018. SP III merupakan peringatan terakhir. ‘’Tidak ada lagi peringatan-peringatan lanjutan,’’ kata Sujiastono.
Pihaknya bersama Pemkab siap membantu kepindahan warga. Termasuk menyiapkan rumah sewa gratis bagi warga yang benar-benar belum memiliki hunian lain.

“Warga bisa mulai menata kembali kehidupannya. Jika tetap bertahan akan terganggu proyek, banyak debu dan bising. Juga sudah tidak ada tetangga,” ujar Sujiastono.
Berdasarkan informasi yang didapat AP I, masih ada sekitar 32 rumah milik 37 kepala keluarga (KK) yang masih berdiri di lahan IPL NYIA. Namun beberapa sudah memiliki hunian yang bisa ditempati.

Hanya 5 hingga 10 rumah yang warganya benar-benar tidak punya hunian lain. Sehingga pemerintah akan mengupayakan rumah sewa bagi mereka.
“Penggantian (dana kompensasi pembebasan lahan) juga sangat bagus. Jika mengikuti proses dari awal. Tidak ada program pemerintah yang menyengsarakan rakyat,” kata Sujiastono.

Warga pendukung pembangunan bandara Maryoto (kakak kandung penolak bandara, Ponirah dan Ponijah) mengatakan, kedua adiknya sebetulnya sudah membangun rumah lain di luar IPL NYIA.

Ponirah membuat rumah baru di atas lahan warisan mertuanya di Pedukuhan Bapangan (Glagah) dan Ponijah membikin rumah di Karangwuni (Wates). Mereka membangun rumah dengan uang ganti rugi pembebasan lahan tambak udang.
“Ponirah kalau malam juga menginap di tempat yang baru itu,” ungkap Maryoto.
Dia berseberangan pendapat dengan kedua adiknya terkait bandara. Berulang kali Maryoto sudah berupaya membujuk kedua adiknya untuk pindah.
Namun sikap keras kedua adiknya menolak lebih kuat. Sehingga bujukan Maryoto pun tidak mempan.

“Kalau hubungan kami tetap baik-baik saja sampai saat ini. Karena ini soal pilihan perbedaan pendapat, kami jalan masing-masing saja,” kata Maryoto.
Wakil Bupati Kulonprogo Sutedjo mengatakan pendekatan persuasif kepada warga penolak bandara tetap terus dilakukan Pemkab Kulonprogo. Pemkab terus berupaya membantu warga penolak bandara.
“Dalam setiap rapat koordinasi juga selalu dibahas terkait pemenuhan kebutuhan warga,” kata Sutedjo.

Sebelumnya, Kapolda DIJ Brigjen Pol Ahmad Dofiri mengatakan pembicaraan dari hati ke hati dengan menjalin silaturahmi menjadi upaya terbaik. Langkah itu untuk mengajak masyarakat mendukung NYIA.
“Masyarakat Kulonprogo masih mampu menjaga kondusifitas (pembangunan bandara). Bulan Ramadan menjadi momen untuk mencari titik temu yang menyejukkan,” tegas Dofiri.

Pantauan Radar Jogja, pembangunan NYIA dilaksanakan di lima desa di Temon. Dari sisi barat, Desa Jangkaran dan Desa Sindutan yang mayoritas lahannya akan berubah menjadi landasan pacu (runway).

Desa Palihan dan Desa Glagah menjadi titik sentral NYIA. Lahan Pakualaman Grond (PAG) di sisi selatan menjadi runway dan di tengah hingga utara menjadi area fasilitas sisi darat (apron dan taxiway). Termasuk Desa Kebonrejo yang akan menjadi area apron dan taxiway dan akses masuk ke bandara.

Runway di lahan PAG yang membentang dari Desa Jangkaran hingga Desa Glagah kini sudah dilakukan pengerukan dan pemadatan sepanjang 3.600×45 meter. Serta fasilitas sisi udara (di sisi selatan runway) sepanjang 5.400x 400 meter. Adapun apron dan area fasilitas sisi darat luasnya 1.000×1.500 meter di Desa Palihan. (tom/iwa/mg1)