SLEMAN – Petani di Sleman masih belum bisa menikmati hasil panen secara maksimal. Pasalnya hama tikus menjadi penyebab utama mereka tidak bisa panen serentak.

Seperti yang dirasakan para petani di Dusun Gombang, Tirtoadi, Mlati, Sleman. Selama 10 tahun tidak bisa merasakan panen serentak karena selalu berkurang hasil panennya.
“Karena dimakan tikus semua. Tidak hanya padi, singkong dan kacang juga dimakan tikus. Selama ini sudah kami basmi dengan racun tikus dan jebakan. Namun tetap tidak ada hasilnya. Populasi tikus masih banyak,” ujar petani dusun setempat Sadiyono Minggu (1/7).

Sadiyono bersama petani lain melakukan gropyokan tikus dengan metode mengasapi sarang tikus. Dari sekitar 10 petak sawah yang diasapi, warga dapat membunuh lebih dari 70 tikus.

Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun yang turut hadir mengatakan di blok timur kompleks persawahan Desa Tirtoadi tersebut ada sekitar lima hektare lahan sawah yang tidak bisa panen serentak.

“Harusnya per hektare bisa menghasilkan padi gabah kering sekitar tujuh ton. Sekarang malah tidak panen. Salah satu upayanya adalah menghilangkan penyebab utamanya, yaitu tikus sawah,” jelas Muslimatun.

Menurut dia, meskipun sudah dibasmi dengan diasapi dan banyak tikus yang mati tentu tetap masih ada sisa tikus yang masih hidup dan berkembang biak lagi. Tikus betina dalam 21 hari dapat menghasilkan delapan sampai 12 pasang anakan tikus yang hanya membutuhkan waktu selama tiga bulan untuk menjadi tikus dewasa.

“Bayangkan saja dalam setahun satu pasang tikus bisa menghasilkan lebih dari seribu ekor. Salah satu solusinya yang sudah disepakati warga adalah menanami sawah dengan sistem blok atau ditanami dengan jenis tanaman yang sama,” kata Muslimatun.

Kepala UPT BP4 Wilayah IV Ibnu Sutopo mengatakan sistem gropyokan diharapkan juga diterapkan di dusun lainnya. “Kondisi seperti ini (tidak panen) jangan terulang lagi,” kata Ibnu. (ita/iwa/mg1)