GUNUNGKIDUL- Pencari surat keterangan tidak mampu (SKTM) di Kantor Dinas Sosial membeludak. Ini bersamaan dengan masa pendaftaran peserta didik baru (PPDB), khususnya supaya masuk dalam kuota 20 persen siswa kurang mampu.

“Setiap hari rata-rata 500 orang,’’ SKTM,” kata Kepala Bidang Kesejahteraan Sosial, Dinsos Gunungkidul Subarno Jumat (29/6).

Karena ada lonjakan jumlah permintaan SKTM, pihaknya sampai melakukan penambahan petugas pelayanan. Jika biasanyan hanya empat orang, menjadi 12 orang. Seperti diketahui, Jumat (29/6) menjadi hari terakhir pendaftaran PPDB.

“Jadi, SKTM menjadi syarat untuk mendaftar sekolah melalui jalur khusus. Yakni, kuota 20 persen untuk siswa miskin di dalam PPDB tingkat SMA dan SMK,” ucapnya.

Menurut Subarno, antusiasme warga untuk mendapatkan SKTM, karena ingin sekolah yang diinginkan. Akan tetapi bagi siswa yang memiliki nilai bagus pihaknya merekomendasikan untuk tidak membuat SKTM. “Karena kasihan dengan siswa kurang mampu,” ucapnya.

Kata dia, syarat memperoleh SKTM di antaranya membawa Kartu Keluarga (KK), surat kelulusan, hingga kepemilikan Kartu Program Keluarga Harapan (PKH), Kartu Indonesia Pintar (KIP) atau Kartu Keluarga Sejahtera (KIS). Jika tidak memiliki salah satu kartu, warga masih bisa memperoleh SKTM, aslakan pemohon masuk Basis Data Terpadu dari Kemensos.

“Kami sudah melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk syarat SKTM,” katanya

Sementara itu, seorang orang tua siswa Widianto mengaku mencari SKTM untuk anaknya yang ingin mendaftar di SMK saat PPDB. Dengan SKTM diharapkan masuk ke sekolah yang diinginkan. Dengan demikian hak anak untuk memperoleh pendidikan terpenuhi. “Sebagai orang tua tentu kami menghendaki pendidikan terbaik untuk anak,” kata Widianto.

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Gunungkidul Bahron Rasyid mengatakan, kebijakan zonasi untuk mendaftar sekolah mulai diterapkan pada tahun ajaran 2018-2019. Di Gunungkidul, program yang ditelurkan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tersebut dijalankan secara khafah.“Sistem zonasi diterapkan di semua sekolah,” kata Bahron Rasyid.

Dia menjelaskan, dengan adanya sistem zonasi ini, input siswa akan lebih merata sehingga ke depan semua sekolah merupakan favorit dan bisa berprestasi. Jika dahulu penerimaan siswa berdasarkan jumlah nilai tertinggi dan terendah, mulai tahun ini sebagian besar didasarkan pada jarak rumah peserta didik dari sekolah.

“Setiap sekolah diwajibkan menyediakan kuota 90 persen berdasarkan kriteria jarak tersebut. Sementara kuota 5 persen nantinya untuk jalur prestasi, dan sisanya lagi 5 persen didasarkan atas jalur khusus,” terangnya. (gun/din/mg1)