SABTU (24/9/2011) malam Stasiun Kereta Api Hanoi cukup ramai. Termasuk puluhan turis akan berlibur ke Pulau Sapa, Vietnam. Penulis dan Hendra Eka, fotografer Jawa Pos, akan ke Lao Cai, salah satu kota di Vietnam dekat perbatasan Tiongkok.

Pemeriksaan tiket ketat. Mau masuk stasiun karcis diperiksa, setelah berada di gerbong dicek lagi. Sebelum kereta berangkat tiket di cek lagi. Yang memeriksa bukan kondektur atau polisi, tapi pelayan restoran.

Pukul 21.00 kereta api meninggalkan stasiun. Pemandangan di luar gerbong gelap. Semua penumpang memilih tidur. Sekitar pukul 04.30 pintu kamar diketuk keras petugas kereta api. ‘’Setengah jam lagi kereta sampai di Lao Cai,’’ kata pelayan restoran.

Sampai di Lao Cai Minggu (25/9/2011) hari masih gelap. Maklum, pukul 05.00 menjelang Subuh. Namun sepagi itu Stasiun Lao Cai begitu ramai.

Banyak calo menawarkan jasa penyewaan kendaraan ke Pulau Sapa. Berjarak 30 kilometer dari Lao Cai, disambung naik kapal.Puluhan turis yang menggunakan jasa travel ke Pulau Sapa sudah ditunggu bus.

Penulis dan Hendra Eka naik ojek ke perbatasan Vietnam-Tiongkok yang berjarak 2 kilometer dari Stasiun Lao Cai. Sampai di perbatasan, kantor imigrasi perbatasan (border) Vietnam-Tiongkok masih tutup dan baru buka pukul 07.30. Kantor itu begitu megah dibandingkan kantor imigrasi perbatasan Thailand-Laos, Thailand-Myanmar, maupun Thailand-Kamboja, atau pun Laos-Kamboja yang pernah kami lewati. Kabarnya, Kantor Imigrasi Vietnam-Tiongkok paling bagus se-Asia. Sepertinya tak berlebihan. Border India-Pakistan di Punjab juga kalah bagus dengan Lao Cai- Hekou.

Perbatasan di Lao Cai sempat ditutup selama empat tahun ketika Vietnam-Tiongkok terlibat perang sejak 1989. Baru 1993 perbatasan Lao Cai-Hekou dibuka sampai sekarang.

Kami nongkrong di warung satu-satunya di dekat perbatasan yang pagi itu baru buka. Sekalian menunggu bukanya kantor travel tempat penulis pesan tiket ke Kun Ming, Tiongkok. Sepagi itu banyak orang akan menyeberang ke Hekou, kota di Tiongkok yang berbatasan dengan Vietnam. Tapi, karena perbatasan tutup mereka sarapan di warung tadi.

Pukul 09.00 agen tiket datang. Kami menuju perbatasan Vietnam-Tiongkok. Saya dan Hendra Eka melapor ke imigrasi Vietnam. Tak sampai dua menit sudah dicap. Beres. Imigrasi Vietnam dan Tiongkok dipisahkan sungai. Dari Kantor Imigrasi Vietnam ke Kantor Imigrasi Tiongkok berjarak 500 meter.
Jalan aspal di atas sungai mulus. Jalan dibagi dua jalur. Masing-masing jalur terdiri dua lajur. Satu lajur untuk kendaraan besar, seperti bus dan truk. Satu lajur pejalan kaki dan kendaraan kecil, seperti becak pelintas batas yang terlihat tertib dan teratur.

Giliran masuk imigrasi Tiongkok pemeriksaan sangat ketat. Paspor dicek lalu dimasukan ke mesin scanner. Lalu terdengar nada bunyi bahasa Indonesia karena paspor Indonesia. ‘’Silakan pencet nomor ini. Lalu ambil formulir pengisian,’’ begitu bunyi mesin tadi. Petugas imigrasi Tiongkok pun mengambil formulir keluar dari mesin lalu diberikan ke saya.

Setelah diisi data-data seperlunya, form diserahkan ke petugas imigrasi berikutnya. Petugas berbadan kekar ini sangat teliti. Dia cukup lama membolak-balikan paspor penulis yang sudah banyak capnya itu. ‘’Visa India?’’ tanyanya. ‘’Yes’’. Setelah dijelaskan, tidak ada masalah.

Dia terus membolak-balik paspor penulis. Lalu tanya nama lengkap segala. Setelah dijelaskan juga tidak masalah. Dok..dok beres. Tapi, giliran pemeriksaan bagasi muncul masalah.

Setelah tas keluar lewat scanner, dua petugas imigrasi menghampiri saya. Dia minta semua barang di tas dikeluarkan. Begitu juga laptop dan kamera. Semua barang diminta dikeluarkan.

Satu per satu barang pun digeladah dan diperiksa teliti. Semua bagian tas dibuka dan dilihat satu per satu. Bahkan, celana dalam pun diperiksa. Ternyata di tas ada card kamera tersegel. Mungkin itu yang membuat petugas imigrasi Tiongkok curiga atau ada barang lain yang dicurigai. Saya tidak tahu karena petugas tidak bilang apa-apa. Hanya terus membolak-balik semua isi tas saya.
Seingat saya tidak ada barang mencurigakan. Sebab, saat masuk ke Vietnam dari Laos tas saya juga diperiksa lewat scanner. Tapi, tidak ada masalah dan lolos. ‘’Oke,’’ kata petugas imigrasi Tiongkok tadi. Lega rasanya hati ini. Inilah kali pertama saya masuk ke daratan Tiongkok.

Begitu masuk kota perbatasan Hekou, di Tiongkok disambut deretan pertokoan menjual aneka barang dan suvenir. Deretan hotel, kantor travel, dan restoran berdiri teratur di Hekou. Saya dan Hendra ke Terminal Hekou beli tiket bersiap ke Kun Ming, yang berjarak 405 kilometer dari perbatasan.

Menembus 25 terowongan. Yang terpanjang seribu Meter
Penumpang bus di Terminal Hekou, Tiongkok, Minggu (25/9/2011) siang itu tak begitu banyak. Berjejer bus antarkota antarpropinsi. Termasuk ke Kun Ming. Tepat pukul 10.55 bus meninggalkan terminal. Jalan-jalan di kota Hekou sangat mulus. Deretan toko, hotel, restoran tertata rapi. Bus beberapa kali berhenti di kota mengambil penumpang.

Sebelum masuk jalan tol, bus berhenti. Polisi masuk ke bus. Semua penumpang diperiksa indentitasnya. Bagi warga asing paspornya diminta.

Pemeriksaan cukup lama. Sekitar setengah jam. Karena semua data pemilik paspor dicatat manual. Bayangkan kalau banyak bus antre, mungkin waktu pemeriksaan lebih lama.

Jalan tol mulus. Terdiri dua jalur. Masing-masing jalur memiliki tiga lajur. Jadi, bisa dibayangkan bagaimana laju bus. Wusss. Pemandangan sepanjang jalan sangat eksotis. Kiri kanan hutan belantara, lembah curam, gunung, dan kebun-kebun jagung. Mirip-mirip kawasan Puncak, Bogor. Hanya, pemandangan di sini lebih alami. Hampir tak ada permukiman warga di sepanjang jalan tol tadi.
Jalan terus menanjak. Sudah tidak terhitung lagi berapa jumlah jembatan yang panjangnya bisa mencapai 2 kilometer menghubungkan lembah dan sungai selama perjalanan.

Tak heran kaki jembatan begitu tinggi layaknya jika Anda naik kereta api Bandung-Jakarta. Di mana banyak jembatan menjuntai ke bawah, menghubungkan lembah yang dalam. Pemandangan begitu indahnya. Apalagi, di daerah tertentu sebagaian jalan tertutup kabut. Bahkan, kaca di dalam bus kerap berembun karena dinginnya.

Untuk melempangkan jalan tol, Tiongkok banyak membuat terowongan menembus bukit dan gunung dari Hekou ke Kun Ming. Panjangnya ratusan meter hingga mencapai satu kilometer, persisnya 985 meter atau hampir seribu meter. Cukup panjang.

Dari Hekou ke Kota Mengzi yang ketinggiannya sekitar 1.345 meter di atas permukaan laut, saya mencatat sedikitnya ada 25 terowongan membelah gunung dan bukit. Beberapa kota kecil dilewati, seperti Xinjie, Man Hao, Wantian, Lengquan, dan keluar tol saat memasuki Kota Mengzy, salah satu kota agak besar untuk menurunkan dan mengambil penumpang. Jaraknya 100 kilometer dari Hekou. Saat keluar bus udara mak nyus. Dingin. Saat melihat arloji rekan saya, Hendra Eka, suhu 20 derajat Celsius. Kota Mengzi lumayan besar. Penataannya cukup teratur.

Deretan apartemen, hotel berdiri di kiri kanan jalan kota terdiri dua jalur. Masing-masing jalur terdiri empat lajur. Di tengahnya ada median cukup besar. Sedangkan kiri kanan jalan banyak ditumbuhi pohon berbunga kuning. Cukup elok.

Sayang, saat masuk terminal pom bensin, toiletnya baunya sangat pesing. Air krannya macet. Itu tidak sepadan pom bensinnya yang cukup megah. Sebagaian penumpang uring-uringan. Ada yang batal buang air kecil. Selain tidak tahan bau juga tiada air.

Bus terus melaju masuk Geizu Kaiyian, kota yang merupakan kawasan berpenduduk muslim. Itu terlihat dari tepi jalan yang banyak bangunan masjid cukup besar maupun kecil.

Sebagaian pom bensin di kota ini juga tertulis huruf Arab, selain Tiongkok. Terlihat banyak warga mengenakan busana muslim. Yang laki-laki mengenakan baju koko dan peci, sedangkan perempuanya memakai jilbab. Di beberapa jalan juga tertulis Muslim Broad Street. Juga ada beberapa restoran halal muslim.
Selepas Kota Dong Qi jalannya terus menanjak dan sempit. Hanya cukup dua jalur. Padahal, banyak truk besar melintas di daerah ini. Akibatnya, begitu ada truk merambat, di belakangnya antre puluhan kendaraan.

Di kiri jalan tampak gunung batu menjulang, diselingi perumahan warga di lembah dan lahan pertanian yang subur. Selepas dari Kota Dong Qi, bus istirahat di rumah makan. Menunya cukup enak dan sederhana. Ada nasi putih, sayur buncis, rebung (anakan bambu), dan brengkesan daging dicampur tahu, tomat, dan lombok. Rasanya pas di lidah. Ya, enaknya, ya, pedasnya. Selama penulis melakukan perjalanan haji darat baru kali ini menemukan makanan yang cocok dan enak. Saya jadi teringat masakan istri yang jago masak.

Jalan terus menanjak dan membelah bukit dan gunung tinggi. Di lembah yang subur banyak warga menanam jagung, anggur, dan sayuran, seperti kol, kubis, wortel, dan tanaman sayuran lainnya yang biasa tumbuh di pegunungan. Tak heran sepanjang jalan banyak tanaman dibungkus dalam tenda plastik panjang. Jumlahnya ribuan.

Menjelang pukul 18.00 bus memasuki pintu Jalan Tol Ban Jie Hie, berjarak sekitar 70 kilometer dari Kun Ming. Seperti halnya Jalan Tol Hekou-Mengzi, Jalan Tol Ban Jie Bie – Kun Ming sangat mulus. Juga banyak jembatan melintasi lembah tiga terowongan. Yang paling panjang sejauh satu kilometer membelah gunung dan bukit.

Beberapa kota dilewati jalan tol yang persis di tengah kota. Di antaranya, Datun, Yi Liang, Coaudian Tangchi, Kohming, Yang Sung, dan Xao Shi Bo. Terlihat beberapa danau dan lembah subur. Aneka tanaman sayur, seperti gubis, dan kol tumbuh subur di lembah ini.

Sekitar pukul 19.00 lebih bus sampai di Termimal Kun Ming. Suasana terminal yang berada di ketinggian 1.892 meter di atas permukaan laut berkabut hingga agak gelap.

Saat turun dari bus, ratusan calo, sopir, maupun agen bergantian menawarkan jasa. Tapi, umumnya tidak berbahasa Inggris. Kalau pun ada yang bisa bahasa Inggris, kadang tidak nyambung. Hingga tawar- menawar yang dilakukan Hendra Eka tidak nyambung. Akhirnya, disepakati harga 50 Yuan dengan calo yang memakai sejenis mobil van kecil.

Sampai di pusat Kota Kun Ming suasana jalan-jalan tak begitu ramai. Maklum, udara malam itu cukup dingin. Sekitar 20 derajat Celsius. Sebagaian warga masih tampak mondar-mandir di jalan, umumnya mengenakan jaket. Sebagaian toko atau mal juga tutup. Tapi, lalu lintas masih tetap ramai. Bus dan taksi sebagaian masih beroperasi, meski menujukkan pukul 22.00.

Kun Ming ibu kota Propinsi Yunnan, bagian barat daya Tiongkok. Kun Ming sekaligus kota terbesar di Yunnan dengan jumlah penduduk 6.432.212 jiwa pada 2010. Kotanya teratur dan banyak gedung pencakar langit. (yog/besambung)