Menderita mikrosefalus atau kelainan otak sehingga lahir dengan kepala lebih kecil, membuat Kalya Citra tidak bisa berbuat apa-apa. Selama empat tahun ini warga Kricak Kidul, Tegalrejo, Kota Jogja, itu hanya digendong oleh neneknya, Enik Nur Hastuti, atau ditidurkan saat capai menggendong.
“Kalau tidak ya ditidurkan di stroller, karena tidak punya kursi roda,” ujar Enik ketika ditemui Radar Jogja di kantor Dinas Sosial (Dinsos) Kota Jogja, Jumat (29/6). Saat itu, Kalya sedang diukur oleh tim UCP-RUK Jogja untuk menyesuaikan kondisi tubuhnya dengan kursi roda yang akan diberikan.
Berbeda dengan kursi roda biasanya, kursi roda ini didesain sesuai kondisi penyandang disabilitas. Menurut salah seorang petugas dari UCP-RUK Endah Sri Mudeni, pengukuran diperlukan supaya kursi roda yang diberikan sesuai kondisi penyandang disabilitas.

Deni, sapaannya, mencontohkan pengukuran dilakukan sesuai posturnya, seperti paha agar tidak kelonggaran maupun kesempitan. “Supaya bisa duduk tegak. Kalau longgar bisa terus gerak, kesempitan juga tidak nyaman,” ujarnya.
Pengukuran lebih detail akan dilakukan pada penyandang disabilitas anak-anak, karena lebih aktif bergerak dibandingkan orang dewasa. Selain itu pengukuran dilakukan pada jarak duduk dengan bantalan kursi roda, supaya tidak menimbulkan lecet pada penggunaan.

Untuk sandaran kaki, juga disesuaikan karena akan dipakai dalam waktu lama. Jika sandaran terlalu tinggi maka bisa mengganggu pada tulang tungkai kaki memendek. “Begitu pula apabila terlalu rendah, bisa menyebabkan ekstensi (perpanjangan) tulang,” terangnya.
Menurut Deni, tiap kursi roda memiliki waktu pakai yang berbeda-beda. Tergantung aktivitas pemakainya. Untuk penyandang disabilitas yang hanya memakai kursi roda saat beraktivitas di luar ruangan, waktu pakai kursi roda bisa hingga lima tahun. Tapi bagi penyandang disabilitas yang aktif berkegiatan, waktu pakainya bisa lebih cepat.

Kepala Bidang Advokasi dan Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Kota Jogja Tri Maryatun menambahkan, pengukuran kursi roda itu hasil pendataan dari pelayanan Jamkesus Terpadu oleh Bapel Jamkesos DIJ April lalu. Menurutnya, kursi roda yang diberikan berbeda dengan kursi roda di pasaran, yang diperuntukkan untuk orang tua.
“Kalau kursi roda ini diukur sesuai kondisi yang akan memakai. Untuk alat bantu lain seperti alat bantu dengar atau kacamata, bisa langsung diberikan,” ujar Maryatun. (laz/mg1)