GUNUNGKIDUL – Konflik internal lembaga pendidikan tak hanya terjadi di Yayasan Bhinneka Tunggal Ika, Kota Jogja. Kasus hampir serupa terjadi di Yayasan STKIP Catursakti Gunungkidul yang menaungi SMK Giri Handayani, Wonosari. Lagi-lagi siswa yang harus menjadi korban akibat persoalan tersebut.
Dibongkarnya tiga gedung SMK Giri Handayani membuat konsentrasi belajar siswa terganggu. Mereka juga terancam kehilangan fasilitas belajar. “Nanti jangan-jangan seluruh bangunan dibongkar, lantas kami harus bersekolah di mana?” ungkap Aviv Prasetyo, salah seorang siswa SMK Giri Handayani, Jumat (29/6).

Aviv yang melihat proses pembongkaran gedung awalnya menduga hanya sebatas renovasi. Belakangan, siswa kelas XII ini melihat adanya kejanggalan.
Konflik internal Yayasan STKIP Catursakti nyaris tak mencuat ke publik. Kehebohan mendadak terjadi ketika Supriyadi, salah seorang pengurus yayasan, mendatangi sekolah dengan membawa tiga pekerja bangunan pada Selasa (26/6) hingga Kamis (28/6) lalu.

Saat Radar Jogja mencoba menghubungi Supriyadi, dia mengklaim bahwa bangunan yang dibongkar sebagai miliknya. Aset tersebut diinvestasikan untuk STKIP Catursakti. Menurut Supriyadi, kontrak SMK Giri Handayani dengan yayasan sudah selesai. Alasan itu yang mendorongnya menarik semua aset.
“Itu aset investasi saya. Karena kontraknya habis, kemudian saya minta lagi,” ucapnya.

Sementara itu, bagi Eka Wahyu Nugraha, staf pengajar SMK Giri Handayani, tindakan Supriyadi disebut di luar batas kewajaran. “Menurut saya bukan dibongkar, tapi dirusak,” katanya, Kamis (29/6).
Adapun tiga gedung yang dibongkar terdiri atas ruang kepala sekolah, ruang bimbingan dan konseling, dan unit kesehatan sekolah (UKS). Bagian atap maupun calsibod pembagi ruangan dicopot. Dokumen sekolah maupun peralatan kesehatan dibiarkan teronggok di bagian depan bangunan. Eka menuding Supriyadi sejak 2015 tak lagi aktif di yayasan telah bertindak sepihak.
“Mana bisa, apa bukti (Supriyadi, Red) sebagai pemilik aset? Semua aset ini milik yayasan, bukan perorangan,” ucapnya.

Menurut Eka, alasan mantan pengurus yayasan yang kini menjabat kepala bagian persidangan dan protokol Sekretariat DPRD Gunungkidul itu melucuti aset sangat disesalkan. Apalagi saat ini tahapan pendaftaran peserta didik baru (PPDB) sudah dimulai.
“Tidak ada pemberitahuan. Dia (Supriyadi, Red) datang bersama dengan tiga pekerja langsung melakukan pembongkaran dan kini menyisakan kerusakan,” ujarnya.

Ketika itu, lanjut Eka, guru piket sudah berupaya mencegah. Namun, mereka tidak bisa berbuat banyak. Apalagi Supriyadi datang menggunakan mobil dinas dan mengaku pejabat Pemkab Gunungkidul. “Saya tidak tahu sebabnya. Sepertinya ini akibat konflik internal. Semua berantakan, buku-buku menumpuk tidak pada tempatnya,” keluh Eka.

Usai pembongkaran gedung pada Selasa (26/6), lanjut Eka, Supriyadi lantas membuat surat perjanjian bersama pihak sekolah. Dalam surat perjanjian bermaterai, tertuang kesepakatan bersama mengenai tidak adanya lagi kontrak maupun hubungan antara Supriyadi dengan SMK Giri Handayani tertanggal sejak 26 Juni 2018. Supriyadi juga tidak akan mengambil apa yang disebut sebagai haknya, selain yang dibawa pada saat pembongkaran gedung.

Saat ini pihak sekolah masih menunggu tindak lanjut yayasan. Eka mengatakan, perwakilan yayasan dijadwalkan hadir meninjau kondisi sekolah Senin (2/7) mendatang. Dari situ diharapkan bisa diambil kebijakan strategis.
“Yang jelas (pembongkaran) cukup menjadi masalah karena kami jadi kekurangan ruangan kelas,” katanya.

Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Gunungkidul Bahron Rasyid mengaku belum menerima informasi terkait persoalan tersebut. Kendati demikian, dia berencana menginformasikan masalah yang menimpa SMK Giri Handayani ke balai pendidikan menengah setempat. Alasannya, urusan SMK dan sederajat menjadi kewenangan pemerintah propinsi. (gun/yog/mg1)