Jumat (23/9/2011) malam lalu lintas di persimpangan Jalan Old Quarter dekat Danau Hoan Kiem semrawut. Bayangkan, tidak ada lampu merah di perempatan jalan yang begitu padat. Tak heran jika ratusan motor, taksi, bus, kendaraan pribadi, hingga orang menyeberang saling berebut, jalan lebih dulu

Bunyi klakson memekakkan telinga saling bersahutan. Paling berbahaya orang jalan kaki atau penyeberang jalan. Kalau tidak ekstra hati-hati bisa tertabrak. Pengendara motor umumnya main serobot. Mereka bisa mendadak belok atau banting setir tanpa lampu sein.

Itu masih ditambah taksi yang ngetem seenaknya di tengah jalan, pedagang mainan yang terus merangsek ke tengah dan puluhan motor diparkir dekat bunderan. Sedangkan pemiliknya kongkowkongkow di situ.

Kesemrawutan Hanoi tak lepas dari penambahan jumlah penduduk begitu pesat. 1997 Hanoi hanya dihuni 3.500.800 jiwa. Tapi, 2009 membengkak menjadi 6.500. 000. Dan 2011 sudah mencapai sekitar 8 juta jiwa. Dengan luas wilayah sekitar 8.622 kilometer persegi tak heran Hanoi begitu padat dan semrawut.

Yang paling mencengangkan jumlah kepemilikan motor saat ini begitu besar. Mencapai sekitar 5 juta unit.

Menurut Vinh, seorang agen travel, rata-rata penduduk dewasa Hanoi punya dua motor. Satu untuk bekerja, satu lagi untuk bepergian.

Mereka memilih motor selain proses kredit murah juga lebih praktis menghindari macet. Dengan jalan-jalan tak terlalu lebar, memiliki mobil sangat menyiksa pemiliknya, selain biaya perawatan mahal.

”Makanya, banyak keluarga di Hanoi memilih motor sebagai sarana transpotasi utama,” kata Vinh.

Begitu banyaknya sepeda motor di Hanoi, tiada jalan yang tak dipadati kendaraan roda dua itu. Bahkan trotoar, pertokoan, taman, kafe, warung kaki lima, hingga pusat perbelanjaan. Semua penuh parkir motor.

Ditambah cara mengemudikan motor seenaknya, banyak tak dilengkapi helm kian menambah kesemrawutan Hanoi. Hanoi pun tak kalah Bangkok. Para perempuannya, khususnya anak baru gede (ABG) gemar tampil seksi.

Pakaian ketat dipandu celana pendek. Hal ini sudah jadi pemandangan umum di Hanoi, khususnya di Old Quarter kawasan turis back packer.

Beruntung di tengah kesemrawutan Hanoi masih dijumpai tempat nyaman. Seperti keberadaan danau di tengah kota yang dipertahankan pemerintah, yang kini jadi oase warga setempat.

Salah satu danau terbesar di pusat Kota Hanoi adalah Hoan Kiem. Tak hanya tempat melepas lelah warga kota, danau ini jadi ikon wisata Hanoi. Jadi pusat aktivitas warga. Mulai olah raga, senam, dan rekreasi.

Juga ada Taman Lenin (Garden Botanical), yang cukup luas dan asri. Dan, paling terkenal di kawasan Ban Dinh Districk. Di mana banyak jalan, taman, dan ruang terbuka cukup luas.

Di kawasan ini ada Museum Ho Chi Minh (Mausoleum Ho Chi Minh) yang di depannya ada lapangan luas yang biasa dipakai upacara kenegaraan Vietnam. Tak jauh dari situ juga ada Istana Presiden dan rumah yang pernah ditempati pahlawan Vietnam, Ho Chi Minh.

Meski Vietnam negara sosilalis komunis, dari sisi ekonomi sama sekali tidak terasa. Pembangunan mal, pertokoan, pusat perbelanjaan, bahkan dunia wisata terus berkembang. Tak heran, Ciputra Grup pun membangun proyek perumahan berskala besar di Hanoi.

Pengelolaan wisata, khususnya bagi turis asing di Vietnam pun tak kalah dengan Bangkok, Thailand. Jaringan agen travel di Old Quarter, seperti halnya di kawasan Khao san, Road, Bangkok, cukup profesional dalam melayani turis. Jaringan mereka sudah terbentuk hingga kemana pun turis berpergian bisa dilayani dengan baik. Mulai akomodasi, tiket, dan kebutuhan lain. Di lain pihak pemerintah sangat mendukung dunia pariwisata. Salah satunya, proses imigrasi bagi warga asing yang berkunjung ke Vietnam tidak berbelit-belit.

Pemerintah Vietnam mulai membuka diri terhadap dunia luar, menerima investor, dan para turis asing sejak kejatuhan Uni Soviet, yang merupakan mentor utama Vietnam saat itu.

”Sejak Uni Soviet jatuh itu Vietnam mulai terbuka terhadap dunia luar,” kata Budi, staf lokal KBRI Hanoi, yang sudah 20 tahun tinggal di kota tersebut.

Dulu sebelum Uni Soviet jatuh, kehadiran pemerintah di semua sektor kehidupan sangat terasa. Di mana-mana, semua sektor kehidupan masyarakat ada tentara Vietnam. Warga umumnya hanya mengenakan warna hijau dan kuning. Mobil dan semua transpotasi umumnya sudah kuno.

”Tapi, sekarang Anda lihat sendiri. Hanoi menjelma menjadi kota modern dan hidup. Penduduknya modis,” kata Budi yang asli Tegal itu.

Hebatnya lagi, Hanoi terkenal aman hingga sekarang. Kalau pun ada tindakan kriminalitas hanya sesekali. Itu pun skalanya kecil. Soal kasus perampokan atau pengeboman seperti banyak terjadi di negara lain tidak terjadi di Hanoi. ”Di sini (Hanoi) relatif aman, meski banyak turis asing,” katanya.

Yang membuat salut Budi, pemerintah Vietnam mempertahankan berbagai taman dan danau yang berada di kota. Danau tidak diuruk seperti halnya di kota lain. Tapi, dipelihara, dirawat, bahkan dipercantik untuk memperindah sekaligus tempat rekreasi warga kota. ”Itu yang kami salut,” akunya. (yog/bersambung)