Gaji Terakhir untuk Masjid, Tali Asih ke Penjual Es

Selama 27 tahun Eko Yuwono, 60, mengabdi sebagai pegawai tidak tetap atau honorer di lingkungan Pemprov DIJ. Bertepatan dengan masa akhir tugasnya, pegawai Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) DIJ ini menyedekahkan seluruh penghasilan terakhir yang diterima.

BAHANA, Jogja

Eko berjalan gontai menuju Masjid Sulthoni yang terletak di tengah kompleks Kepatihan. Topi hitam kebesaran Satpol PP DIJ bertuliskan Praja Wibawa, menutupi rambutnya yang memutih.

Sebuah amplop berwarna putih diserahkan kepada kepala takmir Masjid Sultoni Windu Wiryatno. Ampop ini berisi gaji terakhir yang diterima Eko, setelah hampir tiga dekade mengabdi di lingkungan Pemprov DIJ.

Besaran gaji yang diterima sebesar Rp 1,8 juta. “Semoga bisa bermanfaat dan menjadi penyemangat bagi pegawai lain untuk bersedekah,” kata Eko.

Kemarin merupakan hari terakhir Eko mengenakan seragam Satpol PP. Dia ingin setelah meninggalkan satuannya, bisa memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi Masjid Sulthoni dan amal ibadah bagi Eko.

Warga RT 36 RW 10 Bausaran, Danurejan, Kota Jogja, ini sebenarnya bukanlah orang yang berlebih secara finansial. Selain mengandalkan gaji bulanan, kehidupan keluarga juga ditopang sang istri yang aktif foto hajatan.

Setelah tak lagi mengabdi, Eko berencana membuka usaha berjualan pulsa listrik. “Buka usaha kecil-kecilan untuk menyambung hidup,” katanya.

Tak hanya uang gaji terakhir yang disumbangkan. Uang tali asih yang diberikan Pemprov DIJ kepada Eko sebesar Rp 600 ribu, juga turut disumbangkan. Ia akan memberikan uang itu kepada penjual es keliling.

Niat Eko menyedekahkan penghasilannya, mendapatkan dukungan dari sang istri. Apalagi hari ini (30/6) ia genap usia 60 tahun. “Saya ingin merayakan ulang tahun bersama Allah,” jelansya.

Selain itu, sedekah yang diberikan untuk masjid, bisa mendorong pegawai lain untuk bersedekah lebih banyak. Maklum saja, pernah ada seorang tokoh yang mengajak Eko menghitung bersama infak masjid. Saat dihitung, jumlahnya tidak begitu banyak. “Saat itu sosok tersebut nyindir sedekah pegawai pemprov,” ungkapnya.

Windu Wiryanto selaku ketua takmir masjid mengapresiasi langkah yang dilakukan Eko. Dia paham betul Eko merupakan sosok yang loyal terhadap Pemprov DIJ. Bahkan ketika Eko gagal diangkat menjadi PNS pun, semangat kerjanya tidak pernah kendur.

Menurutnya, sosok Eko bisa menjadi contoh bagi para honorer yang saat ini belum mendapatkan kejelasan nasib.
“Saya beruntung ketika itu diangkat jadi PNS, yang tesnya bersama-sama dengan Pak Eko. Semoga sedekah Pak Eko menjadi amal ibadah,” doanya. (laz/mg1)