JOGJA-Masa kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) diprediksi akan meningkat pada Juli hingga puncaknya pertengahan Agustus mendatang. Meski begitu, pelaku pariwisata khususnya pengelola hotel yang di DIJ, masih mengeluhkan minimnya lama tinggal (lenght of stay) cukup rendah.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DPD DIJ Istidjab Danunagoro mengatakan, meski sejak 2016 ada peningkatan kunjungan, ternyata tidak berpengaruh pada lama menginap di hotel. Lama tinggal wisman masih di bawah dua hari. ”Hal itu salah satunya karena minim fasilitas hiburan malam di Jogja,” kata Istidjab kepada Radar Jogja Rabu (27/6).

Menurut dia, ada beberapa karakter wisman ke Jogjakarta untuk menikmati wisata yang ada di DIJ. Disebutkan, tempat wisata yang cukup dan menjadi daya tarik bagi wisman selama ini hanya wisata Candi Prambanan dan Sendratari Ramayana. Itupun, sebagian besar penikmatnya wisatawan Belanda. ”Untuk menikmati candi dan Ramayana tidak perlu waktu lama. Sehari juga cukup. Maka tak heran lama tinggal wisman cukup rendah,” katanya.

Kepala Dinas Pariwisata DIJ Aris Riyanto membantah lama tinggal wisman di DIJ masih di bawah dua hari. Pada 2017 lalu, Pemprov DIJ menargetkan lama tinggal wisatawan 2,6 hari. Sedangkan yang terealisasi sebesar 2,13 hari. ”Ada pencapaian 76 persen,” jelasnya.

Sementara kunjungan wisman mencapai 397 ribu jiwa selama 2017. Jumlah tersebut meningkat dari sebelumnya sebanyak 386 ribu jiwa.

Dijelaskan, pihak pariwisata sendiri akan bekerjasama dengan pelaku wisata yang ada di DIJ, untuk terus meningkatkan lama tinggal di DIJ, dengan menyediakan sejumlah paket wisata. Apalagi saat ini, mulai tumbuh kampung-kampung wisata, yang dapat menjadi daya tarik bagi wisman.

”Persoalanya kan wilayah DIJ ini sangat kecil. Sehingga dengan waktu sehari dua hari saja sudah bisa menikmati berbagai objek wisata,” katanya.

Ketua ASITA (Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies) DIJ Udhi Sudiyanto mengatakan, pada Juli hingga pertengah Agustus mendatang menjadi masa kunjungan wisman ke Indonesia. Dia melihat, efek dari letusan freatik Merapi, yang terjadi baru-baru ini tidak membawa pengaruh pada kunjungan wisman ke Jogjakarta.

”Sudah recovery, dan ini Juni sampai awal Juli ini starting up. Semoga Pilkada yang sedang berlangsung lancar sehingga kunjungan wisman bisa berjalan dengan baik,” jelasnya.

Persoalan keamanan menjadi sesuatu yang sensitif dalam pariwisata mancanegara. Sebab rata-rata, para wisman sudah melakukan pemesanan perjalanan sejak jauh hari dari tanggal keberangkatan. Sehingga, bila mengetahui kondisi tidak kondisif, maka akan dilakukan pembatalan.

Rata-rata paket perjalanan wisata yang diminati Bali dan Jogjakarta. Namun untuk paket perjalanan wisata di DIJ, waktunya lebih pendek dibandingkan dengan Bali. (bhn/din/fn)