Kerja Sosial Agar Wisata Lereng Merapi Dikenal

Sosok Dardiri menjadi perbincangan hangat beberapa hari belakangan ini. Ini tak terlepas dari jabatannya sebagai ketua Asosiasi Jeep Wisata Lereng Merapi (AJWLM) Wilayah Barat. Di balik kiprahnya ada cerita perjuangan cukup panjang.

Dwi Agus, SLEMAN 

Dardiri tidak pernah menghindar saat Radar Jogja melakukan konfirmasi. Persisnya saat kecelakaan kendaraan wisata yang terjadi beberapa waktu lalu. Dia selalu menjelaskan dengan gamblang kecelakaan hingga sanksi bagi sopir maupun ketua komunitas jip yang melanggar. Dia tak pernah berkelit, apalagi menghindar.

Baginya, menjabat sebagai ketua AJWLM Wilayah Barat merupakan amanah. Meski bekerja tanpa bayaran, jabatan ini sangat penting baginya. Khususnya untuk mengangkat nama wisata lereng Merapi di dunia pariwisata nasional hingga internasional.

“Di balik kegarangannya, Gunung Merapi menyimpan keindahan nilai wisata di setiap sudutnya. Baik itu wisata alam, wisata edukasi erupsi, hingga wisata minat khusus,” jelasnya ditemui di bengkel miliknya kawasan Banteng, Hargobinangun, Pakem, Rabu (27/6).

Pria berperawakan tinggi ini memang sangat intens terhadap dunia wisata Merapi. Melalui AJWLM dia mengenalkan potensi wisata dengan cara yang unik. Setiap wisatawan yang datang diajak berkeliling mengunjungi spot-spot bersejarah di lereng Merapi. Mulai dari perlintasan lava hingga bekas rumah-rumah warga. Tidak hanya melintas, kendaraan juga berhenti agar wisatawan bisa melihat langsung jejak sejarah erupsi Merapi dari waktu ke waktu.

“Dulu 2010 (lava tour) sudah terbentuk dalam skala kecil, lalu berhenti saat Merapi erupsi. Barulah selang beberapa tahun kemudian dikemas secara matang dengan spot yang kuat,” kata pria kelahiran 5 Juli 1962 ini.
Seiring waktu berjalan, satu per satu komunitas kendaraan wisata mulai terbentuk. Hingga saat ini tercatat ada 800 armada yang tergabung dalam 29 komunitas. Seluruhnya beroperasi dan terbagi dalam dua wilayah. Yakni, Pakem dan Cangkringan.

Menurutnya, mayoritas kendaraan wisata ini adalah jenis four wheel drive (4WD). Jenis kendaraan ini dipilih karena ketangguhannya menghadapi medan berat. Kendaraan ini juga lebih fleksibel untuk melibas sejumlah trek alam di kawasan lereng Merapi.

Kendati begitu, Dardiri mengungkapkan, tidak selamanya kendaraan wisata selalu dalam kondisi sehat. Apalagi, rerata kendaraan wisata ini berusia tua. Bahkan di antaranya ada yang berusia di atas 50 tahun. Seperti Jeep Willys. Untuk jenis armada ini perlu perlakuan khusus, bahkan hingga restorasi. Agar kendaraan tetap layak jalan.

“Terutama di sistem pengeraman dan kemudi kendaraan. Kalau armada saya sudah modifikasi khusus, seperti pengereman sudah ganti cakram dari yang awalnya sistem tromol,” ujar bapak dua anak ini.

Armada yang dioperasikan Dardiri semuanya berjenis Jeep Willys. Nah, ada cerita di balik kecintaannya terhadap jenis kendaraan ini. Pria yang juga berprofesi sebagai kontraktor ini merasa seolah bernostalgia pada masa kecilnya.

“Jadi bapak saya itu tentara dan kendaraannya pasti seperti itu. Ada kenangan tersendiri kalau melihat jenis kendaraan seperti ini,” tuturnya.

Selain armada kendaraan wisata, Dardiri juga memiliki koleksi 4WD lainnya. Terhitung ada 30 unit kendaraan 4WD berbagai merek menghiasi garasinya. Bagi Dardiri, itu adalah bentuk kecintaan terhadap hobinya. Meski, dia tak jarang harus merogoh kocek hingga ratusan juta rupiah. Itu untuk pembelian unit kendaraan plus biaya restorasi.

”Beli (satu unit) kendaraan sekitar Rp 80 juta. Lalu, restorasinya sekitar Rp 100 juta,’ sebutnya.

Untuk mendapatkannya, Dardiri harus berjibaku. Mulai dari menghubungi relasi-relasinya hingga berburu ke pelosok daerah. Terjauh untuk mendapatkan kendaraan tua, dia berburu hingga kawasan Palembang, Sumatera Selatan.
Dari puluhan kendaraan, hanya beberapa yang menemani Dardiri beraktivitas. Baginya, memiliki kendaraan tua 4WD lebih menyenangkan dibandingkan mengoleksi kendaran jenis terbaru.

“Kadang kepuasan itu bukan dilihat dari nominal. Saat restorasi selesai dan kendaraan terlihat gagah dan mesin bisa menyala itu sudah kepuasan tersendiri,” ucapnya bangga. (zam/fn)