Kalau Thailand punya Khao San Road yang menjadi jujukan turis back packer, di Vietnam ada kawasan serupa, Old Quarter dan Hoan Kiem District. Kedua destinasi itu terletak di jantung Kota Hanoi. Semua kebutuhan turis terpenuhi di tempat ini. Ribuan hotel, restoran, tempat hiburan, aneka kuliner, travel, suvenir, money changer. Bahkan semua tempat pelesir di Vietnam bisa dipesan lewat agen travel di Old Quarter. Pendeknya, Old Quarter adalah surganya turis di Vietnam. Old Quarter lebih luas dari Khao San Road.

Ribuan hotel mulai kelas melati sampai berbintang ada di kawasan Old Quarter. Dari bertarif Rp 50 ribu sampai jutaan rupiah. Tinggal pilih. Tergantung kantong turis.

Namun, para turis harus selektif memilih hotel. Jangan tergoda tampilan depan atau lobi hotel. Sebab, banyak hotel berbintang dua yang pintu masuknya hanya berupa jalan kecil. Atau melalui tangga jalan setapak.

Tapi, begitu masuk di dalam fasilitasnya luar biasa. Kamar bersih, internet oke, fasilitas air panas, AC, dan fasilitas lainnya bagus. Harganya juga tidak terlalu mahal. Ada yang hanya USD 28.

Sebaliknya, ada hotel dengan tampilan bagus di luar. Ada lobi, tapi fasilitas kamarnya pas-pasan. Bahkan tak sedikit kondisi kamar sudah kusam. Di kawasan ini ada ribuan agen travel menawarkan berbagai paket tujuan wisata. Juga pengurusan visa beberapa negara, restoran buka 24 jam, warung tradisional, kafe, bar, mesin anjungan tunai mandiri (ATM), dan money changer tumbuh bak jamur di musim hujan.

Jaraknya begitu rapat, satu hotel dengan hotel lain, satu restoran dengan bar lainnya. Praktis tidak ada celah lagi bangunan selain deretan bar, agen travel, toko, hotel, ATM, money changer, restoran. Begitu seterusnya.

Belum lagi deretan toko pakaian, suvenir, toko mainan, dan lainnya begitu banyak di sepanjang kawasan ini. Tidak ada jalan di kawasan ini yang tidak dijejali kafe, hotel, restoran dan toko suvenir.

Yang sedikit mengejutkan, kawasan Old Quarter dan Hoan Kiem District lebih luas dan padat dibandingkan kawasan serupa di Khao San Road, Bangkok, Thailand, yang juga merupakan jujukan turis back packer.

Padat karena di kawasan ini jalannya sempit-sempit. Tak kurang dari empat meter dan terus sambung-menyambung. Sedangkan di kiri dan kanan jalan dipadati hotel, kafe, toko, agen travel, dan money changer. Makanya, jalur lalu lintas umumnya dibuat searah agar tidak macet.

Tak heran, persaingan antarhotel untuk menggaet tamu, khususnya turis asing, begitu ketat di kawasan Old Quarter dan Hoan Kiem District.

Bahkan, banyak hotel menjalin kerja sama dengan agen bus antarnegara yang mengangkut turis ke Hanoi. Seperti saat bus yang penulis tumpangi dari Laos menjelang sampai di Terminal Hanoi, ada agen hotel yang masuk bus lebih dulu.

Mereka menawarkan jasa angkutan dengan minivan dilengkapi AC. Tarifnya per orang 30 ribu Dong atau sekitar Rp 15 ribu dari terminal menuju kawasan Old Quarter.

Karena harganya sedikit murah, para turis asing yang ada dalam rombongan bus tak keberatan. ‘’Kalau naik taksi mahal dan sopirnya tidak bagus,’’ kata agen hotel tadi.

Namun, sesampai di hotel yang ditawarkan agen tadi, hanya satu dua turis yang memutuskan menginap. Tarifnya USD 6.

Sebagaian turis, termasuk penulis, mencari hotel lebih bagus dengan fasilitas lebih memadai karena harus beristirahat setelah menempuh perjalanan panjang dari Vientiane, Laos-Hanoi, Vietnam selama 24 jam nonstop.

Sebaliknya, banyak hotel bagus dengan harga terjangkau biasanya dipenuhi para tutis non back packer atau turis yang berpergian dengan keluarga. Namun, umumnya resepsionis hotel tidak serta merta menolak tamu yang akan menginap di situ.

Mereka pun menawarkan hotel grupnya yang lebih murah dengan fasilitas tak kalah bagusnya. Tamu pun diantar pakai taksi dan gratis pula. Benar juga, meski masuk hotel dengan jalan setapak, fasilitasnya oke. Jadilah kami masuk hotel seperti yang disarankan resepsionis tadi.

Bisa menarik turis masuk hotel, bagi pengelola hotel, jadi keuntungan pertama. Sebab, biasanya turis memerlukan jasa travel, pengurusan visa, dan lainnya.
Semua biasanya juga diurus agen travel hotel. Ini keuntungan kedua dan seterusnya. Meski di luar sana ada juga ribuan agen travel. Tapi, tamu biasanya cenderung percaya agen travel hotel kalau tarif pengurusannya hampir sama.

Para agen travel pun berlomba-lomba menawarkan paket tur. Seperti ke Halong Bay yang jadi ikon pariwisata Vietnam. Jaraknya sekitar 170 kilometer dari Hanoi. Harga yang ditawarkan agen travel pun hanya beda tipis. Yakni, berkisar USD 30 sampai USD 40. Juga ke Pulau Sapa dan objek wisata lainnya.

Dari selisih harga biasanya ada plus-minus yang ditawarkan. Kalau lebih mahal, mungkin dapat makan siang di kapal, ditambah main kano gratis sesampainya di Halong Bay.

Lokasi ikon wisata Old Quarter dan Hoan Kiem District di Hanoi yang campur aduk itu dikeluhkan Than Thuy, warga setempat. Agar lebih teratur seharusnya ada pengelompokan usaha. Di mana tempat khusus menjual makanan, hiburan, suveir, hotel dan tempat usaha lainnya. ‘’Jadi, turis tinggal datang. Tidak perlu cari-cari lokasi. Kalau sekarang tempatnya campur aduk,’’ keluhnya.

Positifnya, ekonomi masyarakat setempat terdongkrak. Mereka bisa menjual apa saja. Mulai makanan, hasil pertanian, suvenir, maupun hasil kerajinan tradisional.

Segi positif lainnya warga setempat kini banyak yang bisa bahasa Inggris, meski sedikit-sedikit. Yang penting bisa ngomong dan nyambung jika ada turis yang bertanya ini itu. ‘’Khususnya saat bertransaksi,’’ ujar Than Thuy yang juga resepsionis hotel itu.

Sebaliknya, biaya hidup di lokasi turis ini relatif mahal. Untuk makan dua orang sedikitnya harus mengeluarkan biaya 200 ribu Dong atau Rp 100 ribu.

Sebaliknya kalau Anda muslim juga tidak banyak pilihan makanan karena umumnya bahan masakan berbahan babi. Karena itu, harus ekstra hati-hati saat memilih makanan. Ada beberapa restoran India dan negara Timur Tengah yang dijamin halal.

Jumat (23/9/2011) malam lalu lintas di persimpangan Jalan Old Quarter dekat Danau Hoan Kiem semrawut. Bayangkan, tidak ada lampu merah di perempatan jalan yang begitu padat.

Tak heran jika ratusan motor, taksi, bus, kendaraan pribadi, hingga orang menyeberang saling berebut, jalan lebih dulu. Bunyi klakson memekakkan telinga saling bersahutan. Paling berbahaya orang jalan kaki atau penyeberang jalan. Kalau tidak ekstra hati-hati bisa tertabrak. Pengendara motor umumnya main serobot. Mereka bisa mendadak belok atau banting setir tanpa lampu sein.
Itu masih ditambah taksi yang ngetem seenaknya di tengah jalan, pedagang mainan yang terus merangsek ke tengah dan puluhan motor diparkir dekat bunderan. Sedangkan pemiliknya kongkow-kongkow di situ.

Kesemrawutan Hanoi tak lepas dari penambahan jumlah penduduk begitu pesat. 1997 Hanoi hanya dihuni 3.500.800 jiwa. Tapi, 2009 membengkak menjadi 6.500. 000. Dan 2011 sudah mencapai sekitar 8 juta jiwa. Dengan luas wilayah sekitar 8.622 kilometer persegi tak heran Hanoi begitu padat dan semrawut.

Yang paling mencengangkan jumlah kepemilikan motor saat ini begitu besar. Mencapai sekitar 5 juta unit.

Menurut Vinh, seorang agen travel, rata-rata penduduk dewasa Hanoi punya dua motor. Satu untuk bekerja, satu lagi untuk bepergian.

Mereka memilih motor selain proses kredit murah juga lebih praktis menghindari macet. Dengan jalan-jalan tak terlalu lebar, memiliki mobil sangat menyiksa pemiliknya, selain biaya perawatan mahal. ’’Makanya, banyak keluarga di Hanoi memilih motor sebagai sarana transpotasi utama,’’ kata Vinh.

Begitu banyaknya sepeda motor di Hanoi, tiada jalan yang tak dipadati kendaraan roda dua itu. Bahkan trotoar, pertokoan, taman, kafe, warung kaki lima, hingga pusat perbelanjaan. Semua penuh parkir motor.

Ditambah cara mengemudikan motor seenaknya, banyak tak dilengkapi helm kian menambah kesemrawutan Hanoi. Hanoi pun tak kalah Bangkok. Para perempuannya, khususnya anak baru gede (ABG) gemar tampil seksi.

Pakaian ketat dipandu celana pendek. Hal ini sudah jadi pemandangan umum di Hanoi, khususnya di Old Quarter kawasan turis back packer.

Beruntung di tengah kesemrawutan Hanoi masih dijumpai tempat nyaman. Seperti keberadaan danau di tengah kota yang dipertahankan pemerintah, yang kini jadi oase warga setempat.

Salah satu danau terbesar di pusat Kota Hanoi adalah Hoan Kiem. Tak hanya tempat melepas lelah warga kota, danau ini jadi ikon wisata Hanoi. Jadi pusat aktivitas warga. Mulai olah raga, senam, dan rekreasi.

Juga ada Taman Lenin (Garden Botanical), yang cukup luas dan asri. Dan, paling terkenal di kawasan Ban Dinh Districk. Di mana banyak jalan, taman, dan ruang terbuka cukup luas.

Di kawasan ini ada Museum Ho Chi Minh (Mausoleum Ho Chi Minh) yang di depannya ada lapangan luas yang biasa dipakai upacara kenegaraan Vietnam. Tak jauh dari situ juga ada Istana Presiden dan rumah yang pernah ditempati pahlawan Vietnam, Ho Chi Minh.

Meski Vietnam negara sosilalis komunis, dari sisi ekonomi sama sekali tidak terasa. Pembangunan mal, pertokoan, pusat perbelanjaan, bahkan dunia wisata terus berkembang. Tak heran, Ciputra Grup pun membangun proyek perumahan berskala besar di Hanoi.

Pengelolaan wisata, khususnya bagi turis asing di Vietnam pun tak kalah dengan Bangkok, Thailand. Jaringan agen travel di Old Quarter, seperti halnya di kawasan Khao san, Road, Bangkok, cukup profesional dalam melayani turis.

Jaringan mereka sudah terbentuk hingga kemana pun turis berpergian bisa dilayani dengan baik. Mulai akomodasi, tiket, dan kebutuhan lain. Di lain pihak pemerintah sangat mendukung dunia pariwisata. Salah satunya, proses imigrasi bagi warga asing yang berkunjung ke Vietnam tidak berbelit-belit.

Pemerintah Vietnam mulai membuka diri terhadap dunia luar, menerima investor, dan para turis asing sejak kejatuhan Uni Soviet, yang merupakan mentor utama Vietnam saat itu.

‘’Sejak Uni Soviet jatuh itu Vietnam mulai terbuka terhadap dunia luar,’’ kata Budi, staf lokal KBRI Hanoi, yang sudah 20 tahun tinggal di kota tersebut.

Dulu sebelum Uni Soviet jatuh, kehadiran pemerintah di semua sektor kehidupan sangat terasa. Di mana-mana, semua sektor kehidupan masyarakat ada tentara Vietnam. Warga umumnya hanya mengenakan warna hijau dan kuning. Mobil dan semua transpotasi umumnya sudah kuno. ‘’Tapi, sekarang Anda lihat sendiri. Hanoi menjelma menjadi kota modern dan hidup.

Penduduknya modis,’’ kata Budi yang asli Tegal itu.
Hebatnya lagi, Hanoi terkenal aman hingga sekarang. Kalau pun ada tindakan kriminalitas hanya sesekali. Itu pun skalanya kecil. Soal kasus perampokan atau pengeboman seperti banyak terjadi di negara lain tidak terjadi di Hanoi. ‘’Di sini (Hanoi) relatif aman, meski banyak turis asing,’’ katanya.

Yang membuat salut Budi, pemerintah Vietnam mempertahanakan berbagai taman dan danau yang berada di kota. Danau tidak diuruk seperti halnya di kota lain. Tapi, dipelihara, dirawat, bahkan dipercantik untuk memperindah sekaligus tempat rekreasi warga kota. ‘’Itu yang kami salut,’’ akunya. (yog/bersambung)