BERKUNJUNG ke Vietnam tidak mampir ke Teluk Ha Long rasanya kurang lengkap. Selain jadi ikon wisata Vietnam, Teluk Ha Long dan guanya yang paling besar, yakni Hang Dau Go, kini masuk nominasi tujuh keajaiban dunia.
Kamis (22/9/2011) pukul 09.00 mini bus yang penulis tumpangi bersama para turis meninggalkan kawasan Old Quarter, Hanoi, menuju Teluk Ha Long. Jaraknya sekitar 170 kilometer.

Mini bus tidak ngebut, meskipun jalan yang dilalui mulus. Sekitar pukul 12.30 bus baru sampai di Kota Ha Long, Propinsi Quang Ninh. Jalan menuju Teluk Ha Long cukup lebar dengan dua jalur. Di kiri kanan berdiri deretan hotel dan apartemen.

Dari kejauhan terlihat beberapa gunung kapur menyembul dari permukaan laut diselimuti asap atau kabut. Sampai di Pelabuhan Ha Long sangat ramai oleh para turis.

Puluhan bus pariwisata menurunkan penumpang. Masing-masing agen bus mendata jumlah mereka lalu dibekali tiket.

Di dermaga bersandar puluhan kapal kayu siap mengantar pengunjung ke Teluk Ha Long. Biasanya satu rombongan bus menyewa satu kapal. Tapi, bagi mereka yang tidak datang berombongan bisa naik kapal kayu yang siap mengantar para turis ke Teluk Ha Long.

Ombak Teluk Ha Long di siang terik itu cukup tenang. Kapal yang penulis tumpangi bersama puluhan turis, umumnya dari Jepang, berlayar pelan meninggalkan pelabuhan.

‘’Kami beruntung bisa berlayar hari ini karena ombak lagi tenang. Kemarin, ombak besar dan tidak boleh berlayar oleh syahbandar setempat,’’ jelas Vinh, tour leader rombongan turis.

Dari kejauhan tampak gugusan pulau karang menyembul di perairan Teluk Tonkin. Panjangnya 120 kilometer dengan luas 1.553 kilometer persegi. Terdiri 1.969 pulau-pulau karang kecil.

Kapal kian di dekat ke pulau-pulau karang yang semula tampak diselimuti kabut mulai terlihat lebih jelas. Pemandangan pulau karang begitu eksotis. Apalagi, banyak kapal perahu dengan cat warna-warni, umumnya merah, dengan gambar kepala naga, banyak berseliweran di perairan itu. Kian lengkaplah keelokan Teluk Ha Long.

Para turis pun mengarahkan kamera mereka ke gunung kapur. Banyak kapal berseliweran maupun nelayan perempuan menjajakan dagangan dengan perahu kecil layaknya pasar terapung di sungai-sungai Kalimantan. Mereka menjajakan sembako, buah-buahan, sampai air mineral.

Kapal bersandar di antara gunung-gunung kapur yang menyembul di perairan Teluk Tonkin. ‘’Saatnya kita makan siang,’’ ujar Vinh.

Penumpang yang semula di atas dek atas bergegas turun ke anjungan. Masing-masing meja diisi enam orang. Penulis satu meja bersama dua turis Prancis dan tiga turis Jepang.

Menunya, udang besar, dadar telur, ikan goreng, lumpia Vietnam, cah kangkung, kentang goreng, cap cai, nasi putih, buah-buahan, dan beberapa makanan laut lainnya.

Usai makan, para turis bisa menjelajahi desa terapung di Teluk Ha Long dengan menggunakan perahu kayak. Gratis. Masing-masing berisi dua orang dilengkapi pelampung. Ini termasuk harga paket tur sebesar 35 dolar AS.

Penulis dan Hendra Eka, fotografer Jawa Pos, juga ikut mengeliling Teluk Ha Long. Memasuki beberapa gua, dan melihat permukiman nelayan yang dihuni sekitar 700 warga itu. Ombak siang cukup tenang hingga memungkinkan pengayuh amatiran seperti kami bisa leluasa mengendalikan kayak.

Perairan di Teluk Ha Long, khususnya yang berdekatan desa terapung, meski warna airnya tampak kebiruan tapi tak benar-benar bersih. Sebab, warga desa terapung melakukan aktivitas sehari-hari di atas rumah terapung. Mulai memasak, mandi, mencuci, sampai buang hajat pun di situ. Makanya, perairannya tak begitu bersih. Bahkan membuat sedikit gatal kalau kena tangan.
Uniknya, meski rumah mereka berada di tengah laut, warga tetap memelihara binatang peliharaan seperti anjing. Tak heran, begitu perahu kayak yang kami kendalikan mendekati rumah, anjing langsung menyalak keras-keras. Warga setempat yang melihat itu tertawa ngakak melihat kekagetan kami.

Selain berdagang dengan perahu, warga desa terapung juga memelihara ikan dalam keramba. Mulai yang kecil hingga ukuran besar seperti ikan hiu, juga kepiting. Pembeli umumnya kapal-kapal bersandar di dermaga dekat pemukiman warga.

Teluk Ha Long seluas 1.500 kilometer persegi berada di sebelah utara Vietnam. Dengan garis pantai sepanjang 120 kilometer. Teluk ini berada di dalam Teluk Tonkin, dekat perbatasan dengan Republik Rakyat Tiongkok. Berjarak sejauh 170 kilometer dari Hanoi.

Teluk ini terdiri atas 1.969 pulau-pulau batu kapur yang menjulang secara spektakuler dari laut. Beberapa pulau memiliki beberapa gua besar. Hang Dau Go (Gua Pasak Kayu) adalah gua terbesar di wilayah Ha Long. Turis Prancis yang mengunjunginya pada akhir abad ke-19 menamainya Grotte des Merveilles. Tiga buah ruangan guanya banyak berupa stalaktit dan stalagmite. Di perairan ini hidup 200 spesies ikan dan 450 jenis moluska. Fitur lain spesifik yang terdapat di Teluk Ha Long adalah danau di dalam pulau-pulau batu kapur. Misalnya, Pulau Dau Be, memiliki enam danau tertutup.

Menurut legenda, Teluk Ha Long bermula dari kedatangan ratusan kapal perang dari Tiongkok yang kali pertama ke negara itu untuk menjajah. Chinese Invaders, begitu orang Vietnam menyebutnya, memang datang ke Vietnam melalui teluk ini.

Konon, beredar cerita dari orang Vietnam ada naga turun dari langit dan melawan para penjajah ini. Setelah berhasil mengalahkan para penjajah, naga berdiam di Ha Long Bay, yang juga dikenal dengan sebagai tempat naga turun.
Puas mengelilingi desa terapung, kapal melanjutkan pelayaran ke salah satu pulau karang dekat Teluk Ha Long untuk melihat Gua Hang Dau Go. Untuk bisa masuk gua hanya ada satu jalan melewati anak tangga beton yang terus menanjak. Para turis pun banyak yang ngos-ngosan, terutama mereka yang sudah berumur.

Guna memudahkan pelancong, pengelola gua membuat jalan setapak di dalam gua dengan tetap menjaga keutuhan dan keaslian alamnya. Jalan undakan beton dibuat tanpa merusak isi gua.

Kendati demikian, begitu masuk mulut gua, mata pengunjung langsung terbelalak atas keindahan di dalamnya. Langit-langit gua menyerupai dom. Aneka bentuk stalaktit dan stalakmit berada di gua yang terbentuk puluhan juta tahun lalu itu. Uniknya, aneka stalaktit dan stalakmit itu menyerupai banyak bentuk seperti dada wanita, naga,ular, buaya, monyet, bahkan patung Buddha. Aneka warna lampu penerang makin memancarkan keindahan gua.

Bahkan, sampai sekarang proses pembentukan stalaktit dan stalakmit masih berlangsung. Itu terlihat dari air yang menetes pada batu-batuan di atas gua. Air ada dimana-mana.

Begitu eloknya gua tersebut, banyak orang mendukung Teluk Ha Long beserta guanya masuk nominasi tujuh keajaiban dunia. Gua itu sendiri ditemukan secara tak sengaja oleh nelayan yang lari dari kejaran penjahat, lalu bersembunyi di dalamnya.

Penulis juga pernah mengunjungi Gua Gong di Pacitan, Jawa Timur. Eloknya tidak kalah dengan Gua Hang Dau Go di Teluk Ha Long.

Gua Gong juga eksotis dengan diterangi lampu warna-warni . Proses pembentukan stalakmit dan stalaktit hingga saat ini juga terus terjadi. Hanya, untuk keliling Gua Gong dengan naik turun tangga cukup merepotkan, khususnya bagi pengujung berusia lanjut. Bentuk tangga sedikit curam. Tangga naik dan turun letaknya hanya bersisian layaknya lift. Mungkin itu menyesuaikan luas gua. Sebab, Gua Gong tidak selebar Gua Hang Dau Go, di mana pintu masuk dan keluar dibuat terpisah. Jadi, pengunjung tidak perlu berhimpitan. (yog/bersambung)