Pemda DIY dinilai belum melakukan langkah-langkah
progresif mengelola sampah. Sebaliknya,
langkah yang sudah dilakukan belum
terukur dan ideal. “Kami berharap sampah dikelola
agar tidak menjadi musibah. Minimal
bisa menghadirkan berkah,” ujar Wakil Ketua
DPRD DIY Arif Noor Hartanto di hadapan peserta
Forum Diskusi Wartawan Unit DPRD DIY.

AIF NOOR HARTANTO
Wakil Ketua DPRD DIY

Inung sapaan akrabnya berharap Pemda DIY punya
pemikiran jauh ke depan. Sebab, meliha Tempat
Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan,
Bantul sudah saatnya muncul kepedulian terhadap
kondisi lingkungan dan kesehatan warganya.

Diskusi juga menghadirkan narasumber Pelaksana
Tugas (Plt) Kepala Balai Pengelolaan
Infrastruktur dan Sanitasi Dinas PUP dan ESDM
DIY Agung Satria dan Kepala Seksi Pemrosesan
Akhir TPST Piyungan Sarjani.

Agung menyatakan, DIY sudah memiliki Perda
DIY No 3 Tahun 2013 tentang Pengelolaan Sampah.
Artinya,bila perda itu dilaksanakan sudah pasti sampah
yang dibuang ke TPST Piyungan tinggal residunya
saja sekitar 10 persen. Namun kenyataannya, sampah
campur mendominasi TPST Piyungan yang berdaya
tampung 2,3 juta ton tersebut .

Ditambah lagi, TPST Piyungan seluas 12 hektar
itu kini tinggal tersisa 2 hektar saja. Itu sudah
termasuk untuk bangunan kantor. Akibat kelebihan
kapasitas, sampah di TPST Pitungan kerap
berceceran. “Kami mohon maaf atas keadaan
itu,” kata Agung.

Sedangkan Sarjani mengaku sering direpotkan
dengan munculnya lalat-lalat yang jumlahnya
luar biasa.

Saat situasi hujan, kata Sarjani, kondisi TPST Piyungan
sangat berbeda. Lalat-lalat yang tidak mati
disemprot pestisida itu akhirnya pindah ke rumah-rumah
penduduk. Inilah dilemanya. (tyo/gp/mg1)