MASJID Al Noor satu-satunya masjid di Kota Hanoi. Bahkan di Vietnam bagian utara. Tak heran kaum muslimin dari belahan dunia yang tinggal di Hanoi selalu salat Jumat di Masjid Al Noor. Tak terkecuali staf KBRI Hanoi, para TKI, ekspatriat, dan para diplomat negara muslim asal Malaysia, Brunei, negara-negara Timur Tengah, India, Pakistan, dan Afrika. Semua tumplek blek di masjid bekas kuil itu.

Jumat (23/9/2011) sekitar pukul 11.00 suasana Masjid Al Noor yang berlokasi di 12 Hang Luoc Street masih sepi. Pintu halaman masjid tertutup. Tapi, tidak dikunci karena gemboknya hanya dicantolkan di lubang pengait.
Areal masjid luasnya sekitar 300 meter persegi . Cukup asri, meski berada di jalan raya nan padat. Itu karena banyak pohon besar seperti belimbing yang lagi berbuah. Besar-besar dan ranum.

Masjid didominasi warna hijau itu terlihat bersih. Pilar-pilarnya kokoh sebagaimana umumnya masjid di Indonesia. Tempat wudu dan WC-nya juga resik, tidak ada bau pesing. Begitu kran dibuka, wus…air mengalir kencang.
Pihak masjid juga menyediakan banyak sandal jepit untuk wudu bagi jamaah yang tidak membawa sandal.

Tak lama muncul pengendara motor mengenakan kopiah haji dan pakaian gamis. ‘’Saya Abdul Salam, imam masjid di sini,’’ katanya seraya mempersilakan penulis masuk masjid.

Satu per satu jamaah datang. Kali ini tiga warga Hanoi dari Champa. Sepintas wajah mereka serupa orang Indonesia. Tak lama datang serombongan warga Indonesia yang bekerja di Hanoi. ‘’Saya kerja di proyek Ciputra,’’ aku Lukman, asal Tegal, Jawa Tengah. ‘’Banyak orang Indonesia yang bekerja di sini,’’ tambahnya.

Setiap Jumat para pekerja Indonesia di Hanoi selalu beramai-ramai salat Jumat di Masjid Al Noor. ‘’Kami naik taksi berombongan,’’ lanjut Lukman.
Begitu datang, teman-teman Lukman berbelanja di Pasar Dong Xuan, tak jauh dari masjid. ‘’Salat jumat-nya masih lama. Saya menyusul teman-teman belanja dulu, Mas,’’ ucap Lukman.

Satu per satu jamaah hadir. Baik warga Vietnam, Indonesia, Malaysia maupun warga negara muslim lainnya. Wajah-wajah jamaah India, Timur Tengah, dan Afrika, yang umumnya para diplomat terus mengalir masuk masjid. Ada yang pakai jas lengkap, sorban, pakai kaus, maupun batik yang umumnya berasal dari Indonesia.

Sekitar pukul 12.00 azan berkumandang. Karpet dan sajadah dalam masjid tampak rapi. Plus dialasi kain putih untuk alas sujud. Setelah itu imam Abdul Salam membacakan pengumuman tentang kegiatan masjid seminggu sebelumnya dalam bahasa Vietnam. Jamaah terus berdatangan.

Selain dipenuhi warga Indonesia yang bekerja di Vietnam, tampak beberapa staf KBRI Hanoi yang masih mengenakan pakaian batik berdatangan ke masjid.
Sekitar pukul 12.30 imam salat Jumat yang juga dirangkap Abdul Salam membacakan khotbah dalam bahasa Arab. Sebagaian jamaah memilih di luar masjid yang memang rindang. Menjelang khotbah berakhir mereka pun masuk masjid.

Masjid yang semula kosong menjelang salat jumat tampak penuh. Sekitar 200 warga muslim dari berbagai negara, termasuk beberapa jamaah perempuan, menempati ruang tertutup dari jamaah laki-laki.

Begitu bubar, jamaah asal Timur Terngah dan Afrika masih banyak yang bertahan di halaman. Mereka saling sapa, saling rangkul. Jumatan di Hanoi juga sebagai ajang kumpul dan silaturahmi para warga muslim seluruh dunia yang tinggal di Hanoi. Mereka umumnya para diplomat.

Dua hari sebelumnya, Rabu, (21/9/2011) penulis sudah berkunjung di masjid ini. Suasanya saat itu sepi. ‘’Silakan azan, sudah waktunya masuk Duhur,’’ pinta Abdul Salam yang pernah berdakwah sekitar seminggu di Masjid Moamer Khadafi, Bogor itu.

Selama di Indonesia Abdul Salam juga mengujungi masjid terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara, yakni Istiqlal di Jakarta. ‘’Saya juga punya tante bermukim di Jakarta,’’ akunya

Setelah wudu saya pun mengumandangkan azan. Disambung salat sunah. Siang itu hanya kami bertiga. Saya, Hendra Eka, dan Abdul Salam. Tapi, tak lama kemudian muncul jamaah dari Afrika. Badannya tinggi besar, mengenakan jubah gamis. Jadilah kami salat berjamaah empat orang dipimpin Abdul Salam. ‘’Sehari-hari jamaah di sini sepi. Paling banyak tujuh orang,’’ kata Abdul Salam.
Sedangkan umat muslim di seluruh Kota Hanoi ada sekitar 500 orang. Itu pun campuran dari Vietnam dan mancanegara. Seperti Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand, Arab, India, Pakistan, Maroko, dan banyak negara Islam.
Sedangkan jumlah umat muslim di seluruh Vietnam sekitar 80 ribu orang. Paling banyak terkosentrasi di daerah Champa, Vietnam bagian selatan yang berdekatan dengan Kamboja . ‘’Saya juga berasal dari Champa,’’ ucap bapak satu anak itu.

‘’Kalau salat Jumat, salat Ied Lebaran atau salat tarawih, umat muslim di Hanoi ya di masjid ini. Inilah satu-satunya masjid di Hanoi. Bahkan di Vietnam bagian utara,’’ jelas alumnus salah satu Universitas di Tripoli, Libya, jurusan Sastra Arab itu.

Kalau salat Jumat, lanjut Abdul Salam, masjid ini baru ramai. Karena warga dari semua perwakilan negara Islam yang ada di Hanoi salat jumat di masjid itu . ‘’Ya, ada sekitar 200 jamaah kalau Jumat,’’katanya.

Masjid Al Noor dibangun sekitar 1900-an dan terus mengalami renovasi hingga sekarang. Areal masjid ini dulunya sebuah kuil. Lalu oleh warga muslim yang ada di Hanoi, areal kuil dibeli dan dijadikan masjid seperti yang ada sekarang ini.

Abdul Salam sendiri sudah lima tahun diangkat jadi imam Masjid Al Noor. Rumahnya hanya berjarak sekitar lima menit dari masjid. Setiap waktu salat dia selalu datang di masjid.

Selain jadi pengurus masjid, Abdul Salam merangkap seorang takmir, sekaligus penjaga dan bertugas membersihkan masjid. ‘’Semua saya tangani sendiri. Karena memang saya sendiri,’’ katanya.

Tahun lalu (2010) Abdul Salam bersama 30 warga muslim Vietnam lainnya berangkat haji ke Makkah. Mereka dibiayai Raja Saudi Arabia King Abdul Aziz.
Soal gaji Abdul Salam sebagai pengurus masjid diambilkan dari sebagaian sumbangan jamaah masjid yang salat di masjid itu. ‘’Gaji tidak besar. Ini kan kerja ibadah,’’ akunya

Karena itu, dalam menyosialisasikan kegiatan masjid, Abdul Salam yang fasih bahasa Inggris itu membuat situs www.hanoimasjid.com menggunakan bahasa Arab, Inggris, dan Vietnam.

Dari website itu umat muslim Hanoi bisa mengkases waktu salat lima waktu, kegiatan tarawih, dan zakat saat Ramadan. Dan informasi lainnya untuk umat muslim di Hanoi. ‘’Jadi, semua keterangan soal Islam dan kegiatan-kegiatan Masjid Al Noor bisa diakses lewat situ (website),’’ ujarnya.

Budi, salah seorang staf lokal KBRI Hanoi, mengatakan, mencari orang Indonesia di Vietnam tidak sulit. Datang saja ke Masjid Al Noor.

Umat muslim Indonesia kalau melakukan salat berjamaah. Apakah Jumatan, salat Ied Lebaran atau tarawih di Masjid Al Noor. ‘’Karena itu satu-satunya masjid di Hanoi. Sedangkan di KBRI hanya ada musala,’’ ungkapnya.

Benar saja, saat salat Jumat (23/9/2011) di Masjid Al Noor banyak dijumpai warga Indonesia melaksanakan Jumatan. Apakah, staf KBRI , warga Indonesia yang bekerja Hanoi atau mereka yang mengujungi sanak saudaranya di Vietnam.

‘’Setiap Jumat kami salat di sini,’’ kata Sudarmaji, karyawan PT Indalek, Grup Maspion, yang ditugaskan mengawasi pemasangan stainlees dan kaca di proyek Ciputra, Hanoi.

Karena itu setiap Jumat, pihak perusahaan memberi kelonggaran waktu beberapa jam bagi para pekerja melaksanakan salat Jumat berjamaah. Mereka pun pulang pergi ke masjid naik taksi secara berombongan.

Sudarmaji tidak sendirian. Ada beberapa rekannya juga bekerja seperti dirinya. ‘’Saya sudah enam bulan bekerja di sini. Setiap bulan balik ke Indonesia,’’ kata Sudarmaji. ‘’Kaca dan pemasangan stainless di Jawa Pos kami juga yang garap, Mas,’’ tambah Sujiono, rekan Sudarmaji.

Soal gaji, meski dibayar rupiah, lanjut Sudarmadji, lebih dari cukup. Sedangkan akomodasi, seperti pulang-pergi ke Indonesia dihitung dengan dolar. ‘’Jadi, ya lebih dari cukup,’’ ujarnya.

Selama enam bulan bekerja, Sudarmaji sudah beberapa kali bolak-balik Indonesia-Vietnam tidak masalah. Sebab, urusan keimigrasian relatif mudah. Beda dengan Malaysia, setiap datang harus mengisi formulir kedatangan. ‘’Kalau di Vietnam ini enak. Tidak jlimet,’’ akunya.

Sebenarnya perusahaan Sudarmaji dan teman-teman hanya menjual sistem, yakni bahan baku pipa stainless, kaca, dan perlengkapanya, untuk dipasang di gedung. Soal memasang biasanya diserahkan pihak lain. Mereka hanya memasok bahan.

Tapi, warga setempat dinilai tidak cukup bagus memasangnya. Maka, Sudarmaji dan teman-temannya diminta perusahaan mengawasi pemasangan pipa stainless dan kaca-kacanya tadi.

PT Indalek, Maspion Grup, lanjut Sudarmaji, tak hanya memasok besi stainless,dan kaca untuk pembangunan hotel, apartemen dan bangunan lain ke Kota Hanoi. Tapi, juga ke kota-kota lain di Vietnam, seperti Ho Chi Minh.

‘’Kami hanya memasok bahan, tapi tidak perlu ikut memasangnya,’’ tutur Sudarmaji.

Para pekerja Indonesia di Hanoi umumnya bekerja di proyek Ciputra, Hanoi (semacam proyek Citra Raya, punya Ciputra Grup). Yang menempati areal ribuan hektare. Jaraknya hanya setengah jam dari bandara Hanoi. Di mana di dalamnya terdapat pembangunan kawasan apartemen, perumahan, mal, pertokoan, dan pusat hiburan. Warga setempat menyebutnya kawasan Khudati.

Namun demikian, biaya hidup di Hanoi cukup mahal. Apalagi, kalau beli makanan jadi. Makanya, pekerja dari Indonesia harus pintar-pintar mengatur makan. ‘’Kalau pagi dan malam kami masak sendiri. Hanya siang yang beli makanan,’’ kata Parno, asal Boyolali yang juga bekerja di proyek Ciputra, Hanoi.

Karena itu, sambil Jumatan, para pekerja Indonesia umumnya memanfaatkan waktu untuk belanja kebutuhan bahan pokok dan oleh-oleh keluarga di Pasar Dong Xuan, yakni, pasar grosir seperti Mangga Dua di Jakarta. Selain barangnya bagus dan beragam, juga murah. Sebab, letak Masjid Al Noor dengan Pasar Dong Xuan hanya sekitar 50 meter.

Soal gaji, lanjut Parno, dia dan teman-teman digaji mengguanakan dolar Amerika. Hanya, Parno menyebut di kisaran 25 sampai 30 dolar US per hari. ‘’Ya, bisa untuk menabung,’’ aku Parno.

Parno yang sehari-hari tukang kayu bertugas menggarap finishing pemasangan interior gedung, apartemen, dan lobi hotel yang umumnya terbuat dari kayu. ‘’Tidak masalah. Semua bisa diatasi ,’’ ujarnya.

Agus, warga Solo, menambahkan, dalam pekerjaan tidak ada masalah. Bekerja di Indonesia maupun Hanoi. Karena pekerja menggarap sesuai bidang atau keahliann masing-masing. Ada tukang kaca, finishing, dan tukang kayu.
Enaknya bekerja di luar negeri seperti Hanoi menambah pengalaman. Selain itu setiap sebulan atau dua bulan sekali pulang ke Indonesia. ‘’Semua biaya ditanggung perusahaan,’’ ungkapnya.

Soal bahasa juga tidak ada masalah. Karena umumnya yang bekerja pada bidang pemasangan interior dan eksterior gedung, apartemen atau lobi hotel umumnya dari Indonesia. ‘’Ya, kami merasa bekerja seperti di Indonesia,’’ ungkapnya. (yog/bersambung)