MASALAH pengusiran dari Tamu Sabtu (3/9/2011) malam belum berakhir. Esoknya, Minggu sore saat balik ke hotel dari makan, pemilik hotel tempat kami menginap tampak cemas. Namanya, Ny Syusuk. ‘’Ditelepon bolak balik. Disuruh lapor ke imigrasi,’’ kata Syusuk gundah.

Jam itu juga kami berdua mendatangi Kantor Imigrasi Kalay. Letaknya sekitar 2 kilometer dari hotel tempat kami menginap. Kantor imigrasi begitu sederhana, tidak ada AC. Ruangannya disekat tripleks dengan lubang angin jendela besar. Lantai dari ubin sederhana. Sekitar kantor banyak ditumbuhi pohon besar, sehingga suasana teduh.

Sore itu ada lima petugas. Mereka sibuk dengan setumpuk kertas di hadapan masing-masing. Para petugas hanya mengenakan sarung atau lon chi dengan atasan kaus singlet. Termasuk kepala Kantor Imigrasi Kalay U Thein Zaw. Tanpa senyum dia menerima kami berdua. Sebelum duduk dia menyambar hem putih di mejanya. Lalu dikenakannya.

Sebelum ditanya, Aung Soe Moe lebih dulu menjelaskan bahwa dia benar-benar tidak tahu ada larangan membawa orang asing masuk Tamu.

Ang Soe Moe mengaku hanya menjalankan perintah KBRI Yangon untuk menemani penulis ke perbatasan Tamu, selanjutnya masuk India. ‘’Ini ada suratnya, Pak, ’’ ujar Aung Soe Moe. ‘’Sebelum ditanya lebih baik saya jelaskan lebih dulu agar masalahnya cepat clear,’’ lanjutnya.

U Thein Zaw dengan pembawaan serius berbicara dalam bahasa Myanmar dengan Aung Soe Moe. Kepada saya dia hanya minta paspor. Dibaca, dicatat sedikit, lalu dikembalikan lagi. Tidak ditanya ini itu.

Sepintas saya lihat lembaran formulir imigrasi yang disodorkan resepsionis hotel tempat kami menginap yang berisi data sesuai paspor sehari sebelumnya ada di tumpukan kertas U Thein Zaw. Rupanya, pihak hotel sudah menyerahkan formulir itu pada imigrasi.

Bahkan kabarnya saat kami berdua diusir dari Tamu, aparat imigrasi Tamu langsung mengkontak ke koleganya di Kalay untuk memantau keberadaan kami berdua.

Imigrasi Kalay pun meneruskan kepada beberapa hotel di Kalay. Jaringannya begitu rapi. Logikanya, orang asing pasti menginap di hotel.

Makanya, begitu kami datang di hotel pihak resepsionis sepertinya sudah mengetahui soal itu. Mereka penuh selidik. Semua lembaran-lembaran paspor dibuka. Juga visa Myanmar, lalu dicatat nomornya. Cukup lama juga resepsionis membuka lembaran paspor. Ini tak biasanya.

Baru esoknya resepsionis menyodori formulir layaknya sering dipakai pihak imigrasi yang diisi sesuai paspor. Terbukti surat formulir itu sudah ada di tangan kepala imigrasi Kalay.

‘’Sementara ini Anda boleh tinggal di Kalay sampai surat izin imigrasi pusat keluar. Tapi, Anda tidak boleh meninggalkan kota ini lebih dari radius 4 miles,’’ ingatnya.

Begitu sampai di hotel, Ny. Syusuk yang berpenampilan menarik itu tampak berbinar. ‘’Oke,’’ kata perempuan setengah baya itu sambil mengacungkan jempolnya.

Syusuk semula terlihat tegang saat kami berdua berangkat menuju kantor imigrasi. Saat kami katakan tidak ada masalah, dia tampak semringah.
Kekhawatiran Syuksuk beralasan. Sebab, di Myanmar, menerima tamu bermasalah seperti saya di hotelnya bisa menyulitkannya. Karena itu dia pantas khawatir.

Sore itu juga, saya dan Aung Soe Moe berkonsultasi dengan Djumara Supriyadi, sekretaris III KBRI Yangon yang merangkap kepala Pensosbud, untuk minta tolong agar secepatnya mengurus izin imigrasi pusat memasuki Tamu. Agar kami secepatnya bisa masuk India. ‘’Dari Kemlu sudah dapat lampu hijau. Sedangkan dari kantor imigrasi tinggal nunggu izin keluar saja,’’ jelas Djumara. ‘’Besok, saya hubungi lagi supaya cepat keluar. Sebab, hari ini Minggu,’’ sambungnya.

Senin (5/9) pagi kami berdua kembali menghubungi Djumara Supriyadi soal perkembangan surat izin dari imigrasi. Djumara kembali menjelaskan masih dalam proses. Tapi, prinsipnya akan segera keluar. ‘’Saya sudah menghubungi kemana-mana, baik Deplu maupun imigrasi. Intinya, pusat tidak masalah. Mereka akan beri izin masuk ke Tamu. Tapi, mungkin tidak sampai ke aparat daerah. Jadi, Anda sabar dulu lah ,’’ pinta Djumara. ‘’Pokoknya, sampai besok Anda bertahan saja di Kalay ,’’ tambahnya.

Sekitar pukul 14.30 pemilik hotel memberitahu baru saja ada telepon dari imigrasi. Kami berdua disuruh datang lagi melapor.

Di kantor imigrasi suasana cukup ramai. Puluhan orang memenuhi ruangan. Mereka mengurus semacam indentity card (IC) atau sejenis surat keterangan layaknya kartu tanda penduduk (KTP).

Kali ini petugas imigrasi mengenakan seragam coklat muda. Termasuk kepala Kantor Imigrasi Kalay U Thein Zaw. Meski kami datang berdua, U Thein Zaw hanya berbicara bahasa Myanmar dengan Aung Soe Moe.

Intinya, Selasa (6/9/2011) kami berdua diminta meninggalkan Kalay. Kami diminta pergi ke Yangon secepatnya.

Tapi, KBRI sedang mengusahakan turunnya surat izin imigrasi pusat Myanmar. Apakah bisa menunggu di Kalay beberapa hari? ‘’Tidak bisa. Kalau izin turun tidak boleh fotokopi. Tapi, harus asli. Sebab, kami perlu cocokan dengan yang asli,’’ kilahnya.

Ini jelas sulit dipenuhi. Namun, kami tetap berpikir keras bagaimana mengirim surat ijin aslinya jika nanti keluar di Kalay. Padahal, jarak Kalay-Yangon cukup jauh. Kalau naik bus bisa dua sampai tiga hari. Kalau naik pesawat harus melalui Mandalay. Itu pun tidak ada penerbangan setiap hari ke Kalay. Satu-satunya jalan, jika surat asli sudah keluar secepatnya dititipkan ke penumpang pesawat ke Kalay . Tapi, itu baru teori. Suratnya saja belum keluar.

Kata Zaw, imigrasi sudah berbaik hati pada kami berdua. Kalau orang lain masuk Tamu tanpa ada surat keterangan dari imigrasi pusat langsung ditangkap. Paspor di-blacklist karena masuk ke Tamu secara ilegal. ‘’Tapi, Anda tidak kami tangkap karena ada surat KBRI dan dikawal staf KBRI,’ ujar Zaw.

Hotel Terus Diawasi Intel
Selain tidak boleh berpergian lebih 4 miles dari hotel, tempat kami menginap terus diawasi intel. Gerak-gerik saya dan Ang Soe Moe selalu diawasi intel Myanmar.

Selasa (6/9/2011) sore itu pukul 15.00, misalnya. Seorang pria paro baya mengenakan lon chi atau sarung khas Myanmar kotak-kotak hijau, krem, warna merah memarkir motor bututnya di depan Hotel Taung Za Lat, Nomor 60 Bogyoke Road, Pinlong (3) Kalay, Sagaing Divison, Myanmar.

Mengenakan sandal kulit dan tas ikat pinggang, dia mengeluarkan notes dan pena. Lalu bertanya-tanya pada resepsionis hotel sambil tangannya terus mencatat.

Rekan saya Aung Soe Moe terus ditanyai. Saya yang duduk tak jauh dari mereka leluasa memperhatikannya. ‘’Ya, biasa ditanya ini, itu. Seputar kapan datang, sampai kapan di Kalay, sudah ke mana saja dan seterusnya, ‘’ kata Aung Soe Moe. Juga rute perjalanan kami mulai Yangon sampai Kalay.

Pria itu belakangan diketahui intel polisi Kalay. Padahal, sehari sebelumnya, polisi lewat telepon juga menanyakan pertanyaan sama. Dan, sudah dijawab.
Selama intel tadi bertanya-tanya, Komo, resepsionis hotel yang berpostur kecil, itu serius mendengarkan percakapan intel tadi dengan rekan saya.

Sesekali dia menambahkan penjelasan seputar keberadaan kami. Sebaliknya, pemilik hotel, Ny Syusuk, tampak tegang. Dia mondar-mandir antara lobi hotel dengan kamarnya dekat resepsionis. Saya hitung sudah tiga kali dia keluar masuk kamarnya . Sesekali menengok intel yang terus mencatat tadi.

Sebelum masuk ke hotel, saya lihat di seberang jalan juga ada intel yang mengobrol dengan tukang kebun hotel. Saat saya keluar hotel sejam lalu, pria yang mengenakan topi ala petani Myanmar itu masih terlihat nongkrong di mobil dan terus mengawasi hotel.

Kurang lebih 20 menit intel yang ada di lobi hotel tadi minta informasi seputar keberadaan kami. Dia tampak serius melihat berkas dan data yang sudah kami berikan pada pihak hotel sebelumnya.

Sesekali bertanya pada Aung Soe Moe. Intel tadi juga tertawa mendengar cerita begitu tiba di Tamu kami berdua langsung disuruh balik ke Kalay. ‘’Ya, mereka hanya menjalankan tugas saja,’’ kata Aung Soe Moe.

Begitu selesai mengobrol dengan Aung Soe Moe, saya hampiri intel tadi sambil salaman. ‘’You single,’’ tanyanya. ‘’Ya, saya sendirian hanya ditemani Aung Soe Moe,’’ jawab saya.

Dengan bahasa Inggris pas-pasan seperti saya, dia bertanya apakah saya sudah berkeluarga? ‘’Ya, anak saya tiga,’’

Dia menyatakan jarang atau hampir tidak pernah ada orang Indonesia ke Kalay. Paling-paling orang Malaysia atau turis Eropa, seperti Prancis.

Saya akan naik haji ke Makkah lewat jalan darat. Termasuk melewati negara Myanmar. “Apakah sebelumnya Anda pernah pergi ke Makkah?” tanyanya. ‘’Ya, umrah,’’ jawab saya singkat. Dia kurang paham saat dijelaskan bedanya haji dan umrah. Tapi, hanya manthuk-manthuk.

Intel tadi terus nyerocos, tapi pertanyaannya tidak jelas. ‘’Slowly,’’ kata saya. Dia malah tertawa ‘’Yes…yes,’’ Dia bertanya apa pekerjaan saya? Saya jawab pekerja seni. Saat saya tanya balik siapa namanya. Dia pura-pura tidak mendengar. Dia malah tertawa. ‘’Secret,’’ gumannya. Lalu pergi meninggalkan hotel.

Sementara kabar baik yang saya tunggu selama tiga hari di Kalay sejak Minggu lalu berakhir antiklimaks. Lewat telepon, Selasa sore itu ,Djumara Supriyadi, Sekretaris III KBRI memberitahu izin memasuki Tamu dan terus ke India sepertinya makin tidak jelas.

Itu setelah Mendagri sebagai otoritas tertinggi imigrasi tidak berani memutuskan apakah memberi izin saya masuk ke Tamu atau tidak. Lalu meneruskan ke presiden. Dengan demikian urusanya makin panjang dan tidak jelas kapan ada jawabannya. ‘’Saya juga sempat stres mengurus ini. Mbulet,’’ akunya.

‘’Setelah saya konsultasikan dengan Pak Dubes (Sumarsono) beliau menyarankan sebaiknya saya balik saja ke Yangon,’’ ujar Djumara. Secara pribadi Djumara minta maaf karena tidak bisa memfasilitasi saya masuk India lewat darat. ‘’Saya minta maaf. Nanti kita ngomong banyak di Yangon,’’ ucapnya.

Menurut Djumara, izin masuk Tamu lalu terus ke India semula tidak ada masalah. Bahkan, pihak Deplu Myanmar sudah memberi lampu hijau. Tapi, begitu giliran berada di instansi teknis terkait, masalahnya bisa jadi beda. ‘’Ya, inilah yang kita hadapi,’’ ungkapnya.

Tapi, saya tahu KBRI Yangon sudah berusaha keras mengurusi izin saya masuk ke Tamu, bahkan melobi pejabat teras Myanmar. Namun mereka tidak berdaya begitu izin masuk ke instansi teknis yang birokratis.

Padahal, sehari sebelumnya saya dan Aung Soe Moe sempat gembira saat Kepala Imigrasi Kalay U Thein Zaw mencabut perintahnya bahwa kami harus meninggalkan Kalay paling lambat Selasa (6/9).

Itu setelah Kepala Imigrasi Myanmar U Tun Wai menelepon langsung U Thein Zaw. Apalagi kabar dari KBRI masih menyatakan surat izin masuk Tamu masih diproses di Naypyitaw, ibu kota Myanmar yang baru. Eh, nggak tahunya berakhir antiklimaks.

Ini berarti sudah tiga kali saya di perbatasan Myanmar. Sudah untup-untup, tapi tak bisa masuk dan keluar negara itu.

Pertama di perbatasan Maesot, Thailand. Tidak bisa masuk karena perbatasan yang dikenal jembatan persahabatan Thailand-Myanmar sudah ditutup sejak setahun lebih.

Kedua di perbatasan Mae Sei, Chiang Rai, Thailand. Bisa masuk tapi sampai Tachileik saja. Yakni, kota Myanmar yang berbatasan dengan kota Mae Sei, Thailand.

Ketiga sudah masuk Tamu, kota perbatasan Myanmar dekat India. Tinggal selangkah masuk India. Tapi, malam itu juga diusir ke Kalay, 81 miles dari kota perbatasan Tamu. (yog/bersambung)