JOGJA- Hujan gerimis tak menyurutkan antusiasme ratusan warga Kota Jogja menyaksikan iring-iringan gunungan ketupat di sepanjang Jalan Pandean sejak Minggu siang (24/6). Ada dua gunungan, lanang dan wadon. Inilah uba rampe Bakda Kupat yang menjadi tradisi tahunan masyarakat Jogjakarta sejak 2011.
Ketua Panitia Bakda Kupat Sumarni menjelaskan, Gunungan Lanang berisi 2.500 ketupat. Sedangkan Gunungan Wadon berupa hasil bumi Tanah Mataram.

Dikatakan, masyarakat muslim Indonesia mengenal dua macam Lebaran. Yakni, Idul Fitri pada 1 Syawal dan Lebaran Ketupat yang dirayakan tiap tanggal 8 Syawal. Atau seminggu setelah Hari Raya Idul Fitri. “Sejarah penggunaan istilah ‘bakda’ dipopulerkan oleh Sunan Kalijaga,” ungkap Sumarni.
Seiring perkembangan zaman, tradisi tersebut yang awalnya disebut Lebaran Ketupat, lalu diubah menjadi Bakda Kupat. Tanpa mengubah esensi dari acara itu sendiri.

Dalam istilah Jawa, lanjut Sumarni, kupat atau ketupat memiliki makna ngaku lepat, yang artinya mengakui kesalahan. Nah, tradisi Bakda Ketupat ini diharapkan mampu menjadi saran untuk melebur atau menghapus semua kesalahan yang pernah diperbuat warga Jogjakarta.
Sebelum kirab gunungan ketupat, ada tradisi yang mendahului awal prosesi perayaan Bakda Kupat. Yakni reresik (bersih-bersih) kampung, cetik geni (menyalakan api sebagai tanda mulai memasak), dan bazaar, serta kegiatan budaya tradisional lainnya.

Pada acara kirab Gunungan Lanang dan Wadon diarak mengelilingi kampung dan berakhir di pelataran Masjid Ibrahim. Dilanjutkan doa bersama. Kemudian seluruh ketupat dan hasil bumi diperebutkan oleh warga yang hadir. “Doanya untuk keselamatan dan kerukunan karena tidak semua warga muslim,” tuturnya.
Wakil Ketua Desa Wisata Pandean M. Dalroby menambahkan, urutan kirab budaya Bakda Kupat mengadopsi tradisi Kerajaan Demak saat melakukan upacara penobatan takhta sultan. “Jadi tidak sembarangan,” ungkap Roby, sapaan akrabnya.

Karena itu para pemuka agama dilibatkan dalam iring-iringan kirab gunungan. Menurut Roby, hal itu bermakna Bakda Kupat bukan hanya milik umat muslim. Tapi milik semua umat beragama. Sehingga Bakda Kupat bisa menjadi sarana terciptanya kerukunan dan menumbuhkan toleransi antarumat beragama. (har/yog/mg1)