GUNUNGKIDUL – Warga Gunungkidul mulai kesulitan mendapatkan air bersih sejak awal Juni ini. Terutama mereka yang berdomisili di wilayah selatan Bumi Handayani. Tak bisa selalu mengandalkan bantuan droping air dari pemerintah, sebagian warga terpaksa membelinya dari pihak swasta. Harganya, per tangki Rp 110 ribu. Warga harus merogoh kocek lebih dalam sejak saluran air milik perusahaan daerah air minum (PDAM) setempat macet sejak awal kemarau.
“Selama kemarau saya sudah beli tiga tangki ke swasta. Bagaimana lagi, tak ada pilihan. Sementara air kebutuhan utama,” ungkap Wida, warga Desa Hargosari, Tanjungsari Senin (24/6).
Wida berharap pemerintah segera turun tangan meringankan beban masyarakat yang kesulitan air bersih.
“Ini masalah tahunan yang selalu kami hadapi setiap kemarau. Semoga penanganan kekeringan tahun ini lebih baik dari sebelumnya,” harap Sulis, warga Desa Kanigoro, ditemui Radar Jogja di tempat terpisah.
Sebagaimana diketahui, sistem droping air oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul bersifat situasional. Hanya jika ada permintaan dari masyarakat. Sementara kebutuhan air bersih terus-menerus.
BPBD Gunungkidul mencatat, dampak kekeringan saat ini meluas di sembilan kecamatan. Antara lain: Saptosari, Tepus, Tanjungsari, Rongkop, Girisubo, Purwosari, Gedangsari, Panggang, dan Ngawen.

Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul Edy Basuki mengatakan, dibanding tahun lalu pada bulan yang sama, tingkat persebaran krisis air saat ini meningkat. Permohonan droping air dari warga Saptosari tergolong baru. Pada tahun-tahun sebelumnya mereka selalu melakukan droping air mandiri.
“Total ada 36 desa yang butuh bantuan (droping air, Red) di sembilan kecamatan. Setiap hari kami mengirimkan 24 tangki menggunakan enam armada sejak 4 Juni lalu,” ujarnya.

Sumber air droping diambil dari Desa Wareng, Siraman, Wonosari; sekitar Pantai Krakal, Tanjungsari; dan sumber di wilayah perbatasan dengan Jawa Tengah atau sekitar Pracimantoro.Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Bupati Gunungkidul Badingah menyatakan, 30 persen wilayahnya belum terakses jaringan PDAM maupun SPAMDes. Kondisi medan yang berupa perbukitan jauh dari sumber air menjadi kendala utama. Sementara sumber air yang ada belum bisa dimanfaatkan secara maksimal. Seperti di wilayah Baron. Menurut Badingah, di tempat itu ada sumber air dengan kapasitas seribu liter per detik. Namun sampai sekarang baru bisa dimanfaatkan seratus liter per detik.(gun/yog/mg1)