Ballroom I di UNY Hotel disulap menjadi ruang pelatihan. Sekitar 40-an kursi dijejer rapi di bagian tengah. Sementara di bagian depan, ada empat kursi lengkap dengan meja panjang menghadap ke peserta.

Jumat (22/6) pagi, latihan Timnas U-19 sengaja diliburkan. Setelah sarapan di lantai dua, sekitar 29 pemain turun ke ballroom. Satu persatu pemain, pelatih dan official mengambil tempat duduknya masing-masing.

Pelatih Timnas U-19 Indra Sjafri, Miftahudin Mukson, dan Ary Ginanjar Agustian datang terakhir. Ary sempat menyalami beberapa pemain, termasuk kapten Syahrian Abimanyu.

Ya, pagi itu penggawa Garuda Nusantara mengikuti pelatihan dari Ary yang dikenal sebagai motivator ESQ. Salah satu upaya penggemblengan mental untuk pemain. Upaya itu bukan yang pertama kali dilakukan bagi pemain U-19. Sebab pada edisi kedua melatih Timnas U-19, aroma militer juga kental dalam setiap latihan. Seperti upacara dan yel-yel komando sebelum dan sesudah latihan.

Menurut mantan pelatih Bali United itu, ada banyak faktor yang membuat tim bisa berprestasi. Selain aspek fisik, teknik, dan taktikal, kesiapan mental juga bisa sangat menentukan. Karena itu, selain mempersiapkan latihan di lapangan, hal di luar lapangan juga disiapkan maksimal.

“Mental ini yang harus kami imbangi. Jangan hanya tiga item saja. Untuk itu, Pak Ary sebagai pakarnya, saya minta beliau untuk tangani anak-anak dari sisi mental,” kata Indra kepada Radar Jogja.

Indra mengatakan, sesi penggemblengan mental tersebut tidak hanya dilakukan sekali. Namun dia mengatakan akan berkelanjutan sampai dengan persiapan tim jelang turun di AFC Cup, Oktober mendatang.

“Nanti akan kami rancang acara seperti ini secara berkala. Jadi saat Timnas Indonesia U-19 menuju Piala AFC, pemain juga mendapatkan sesi penguatan mental,” ujar pelatih yang saat ini menjalani kursus pelatih AFC Pro itu.

Sementara itu, Ary yang mendapat gelar doktor honoris causa dari UNY tentang konsep The ESQ Ways mengaku senang mendapat kesempatan bertemu langsung dengan Timnas U-19. Pria asal Bandung itu juga bangga bisa memberikan bekal mematangkan kesiapan mental pemain muda tersebut.

“Kami hanya membantu sedikit sebagai motivator karena coach Indra sudah menyiapkan dalam hal skill, taktik, dan strategi. Kami menambahkan, terutama bagaimana pemain tahu dasar-dasar mental pemain kelas dunia itu seperti apa. Itu yang kami berikan dalam sesi ini,”kata Ary.

Kepada pemain, dia menceritakan pengalamanya bisa meraih perak PON XII 1999 dan juara Dunia Samurai Nakamura Ryu Battodo di Jepang 10 tahun berselang. Meskipun awalnya dia menekuni beladiri karena kerap dibully waktu kecil. Namun, dari banyak kejuaraan yang diikutinya dia bisa mengetahui hal-hal yang membuatnya tetap fokus dan tidak minder menghadapi lawan sebesar apa pun.

Di luar itu, Ary mengatakan usia U-19 bisa dibilang merupakan usia keemasan sekaligus usia pancaroba bagi pemain. Jika diibaratkan besi, usia seperti mereka sedang lunak-lunaknya. Apabila tepat menempanya, maka bisa sukses meraih prestasi maksimal masuk Piala Dunia.

“Tapi kalau salah menempa, akan salah juga. Jadi ini saat terbaiklah membentuk manusia setelah melewati usia 17 tahun. Tentunya yang akan kita bangun bukan hanya fisik, skill, dan taktik, tapi standar mental juara,” ungkap Ary.

Alumnus Universitas Udayana Bali ini menyebut, coach Indra sebenarnya telah mempunyai semua hal untuk membentuk tim yang kuat. Hal itu terbukti dengan gelar juara di 2013. Indra, menurutnya, telah bisa memotivasi pemain dengan mengatakan bahwa hanya Tuhan yang tidak bisa dikalahkan.

“Ada tiga hal yang kita bangun. Pertama fisiologi atau penentu mental, kedua statemen atau kata-kata, ketiga fokus. Kalau kita mampu kendalikan ketiga hal itu, mereka bisa mengendalikan mental dalam kondisi terberat,” jelasnya. (laz/mg1)