” Merapi aneh. Tidak ada pertanda apa-apa, tiba-tiba ada letusan. Membuat resah. Itu juga seperti hati kita yang bisa tiba-tiba resah, tidak enak, bergejolak tidak karuan,” ucap Danang Pamungkas, penulis lirik THR yang di Paralakon menggunakan nama Duen Getso saat syukuran rilis single THR di Melting Pot Eatery dan Coffee Suryodiningratan, Kota Jogja Sabtu (23/6) malam.
Paralakon adalah wadah kolaborasi musik dan audiovisual. “Kita manusia tinggal menjalani rencana Yang Maha Kuasa. Kita adalah lakonnya. Karena kami berempat, di depan ditambah ‘para’ supaya jamak,” jelasnya.
Duen menolak sebutan grup band untuk Paralakon. Alasannya, hanya Ardi Susanto atau CatatanSiBoi, personel Paralakon yang murni musisi. “Kami berempat masing-masing berlatar belakang berbeda. kami bersatu karena kesaman visi dan misi,” sambungnya.

Keempatnya berkomitmen mengusung tema alam dan manusia sebagai wujud rasa cinta atas harmoni budaya ciptaaan manusia dan alam karya Tuhan.
Lantas kenapa menggunakan singkatan THR untuk single kali ini? Jawabannya sederhana. “Karena masih dalam suasana Idul Fitri,” ucap Duen. Melalui percakapan grup WhatsApp kurang dari sebulan, lagu dan video klip THR selesai dibuat. Duen Getso membuat lirik, kemudian dikolaborasikan dengan musik hasil aransemen Ardi. Selanjutnya proses audiomixing dikerjakan Endroyono atau Jati Biru. Terakhir, visualisasi lagu dikerjakan oleh Bagus atau Satatagama. “Untungnya di Jogja banyak spot menarik. Seperti gua, gunung, hingga pantai. Dalam sehari stock shoot selesai,” jelas Satatagama.
“Single THR ini hasil interaksi panasnya api, sejuknya air, kerasnya kayu, tajamnya logam, tanah yang solid, hingga angin yang bisa berubah arah,” sahut Duen.

Jadilah objek wisata alam di DIJ, mulai Gunung Merapi, Gua Jomblang, Gua Cerme, hutan pinus, hingga jajaran pantai selatan menjadi landscape video klip THR. Menurut Duen, sudah menjadi komitmen para personel Paralakon untuk menampilkan keindahan alam Indonesia.
Paralakon juga sudah menyiapkan tema alam untuk single berikutnya. Menari Jae dan Kota Kupang. Video klipnya berseting Labuan Bajo dan Kampung Wae Rebo. “Proses pembuatan sudah selesai tinggal kami minta persetujuan ke pemangku adat di sana. Karena ada beberapa scene mengambil gambar mereka,” jelas Satatagama.

Untuk single berikutnya Paralakon berencana mengeksplorasi keindahan alam di Sabang, Aceh; Derawan, Kalimantan Timur; hingga Jayawijaya, Papua. “Alam Indonesia itu luar biasa, tapi sayang sekarang banyak yang kurang peduli. Kalau beberapa tahun ke depan keindahan alam Indonesia sudah hilang ada dokumentasi dalam video klip kami,” kata Duen beralasan.
Proyek yang dikerjakan Paralakon sudah pasti membutuhkan biaya besar. Duen dan Satatagama mengamininya. Namun, mereka menolak menyebutkan sponsor. Satatagama menyebut, salah satu sumber pembiayaan berasal dari upload single mereka di media sosial. “Yang pasti kami urunan,” katanya.(yog/mg1)