Dua hari dua malam naik bus tanpa AC, campur barang dengan medan pegunungan jalan berbatu dari Yangon menuju Tamu, kota perbatasan dekat India. Tapi, hanya beberapa jam di Tamu penulis langsung diusir imigrasi ke Kalay, kota berjarak 81 mile dari Tamu. Naik ojek. Hanya tiga hari di Kalay, penulis dipaksa angkat kaki ke Yangon karena Mendagri Myanmar tak memberi izin melintas di Tamu untuk perbatasan India.

Jarak Kalay-Tamu sekitar 81 mile. Atau 4 jam lebih perjalanan. Sabtu sore itu (3/9/2011) hanya ada satu jenis angkutan melayani Kalay-Tamu. Yakni, Light truck sejenis angkot dengan bak samping dan belakang terbuka. Kalau pagi masih ada bus tua melayani jalur Kalay-Tamu. Per penumpang dikenai tarif 5 ribu Kyats.

Tepat pukul 14.00 Light truck meninggalkan terminal Kalay. Ada delapan penumpang. Koper dan barang ditumpuk di depan dan tengah. Dalam perjalanan ada beberapa penumpang naik. Sebagaian naik ke atas bak. Sebagaian lagi nggandhul atau berpegangan bak di belakang.

Pemandangan Kalay menuju tamu cukup eksotik. Sebelah kiri jalan tampak bukit dan pegunungan hijau. Di balik bukit itu lah perbatasan Myanmar dengan Bangladesh dan India.

Sepanjang jalan banyak jembatan. Di bawahnya mengalir sungai-sungai berair jernih yang hulunya dari balik bukit tadi. Sudah puluhan, bahkan ratusan jembatan dilewati kendaraan yang saya tumpangi. Tapi, masih ada lagi jembatan dan ada lagi jembatan di depannya. Warga pun menjuluki seribu jembatan karena saking banyaknya. Meski jumlahnya tentu tak sampai seribu.
Sore itu, sepanjang sungai banyak aktivitas warga. Mandi, berenang, mencuci sampai main sepak bola di tanah becek. Air sungai benar-benar jernih. Makanya, warga menggunakan masak bahkan minum.

Jalan dari Kalay menuju Tamu cukup mulus. Kabarnya, jalan dibangun atas bantuan pemerintah India. Makanya dinamai Jalan India. Kiri kanan masih hutan belantara. Selain angkutan umum, banyak truk-truk besar bermuatan jati gelondongan hilir mudik di wilayah ini.

Sepuluh kilometer menjelang memasuki kota Tamu, terlihat beberapa pos penjagaan atau chek point dari tentara maupun polisi. Umumnya, petugas hanya melihat, sesekali memegang tas bawaan penumpang termasuk milik saya. ‘’Border,’’ katanya sambil lalu. Saya tidak menjawab karena nanti ketahuan kalau saya dari luar Myanmar. Kata Aung Soe Moe, kalau saya tidak ngomong warga Myanmar umumnya tidak tahu kalau saya dari Indonesia. Karena kulit warga Myanmar juga coklat seperti saya.

Tiba di Tamu pukul 18.00 lebih. Hari mulai gelap. Kota Tamu seperti kota kecil di Myanmar sepi. Juga gulita karena penerangan mengandalkan genset. Tak heran yang terang hanya di tempat keramaian seperti toko, hotel, warung, atau kedai.

Satu per satu penumpang turun. Sopir Light truck berbaik hati mengantar saya mencari hotel. Tapi, tidak ada satu pun hotel di kota Tamu mau menerima kami menginap begitu tahu saya orang asing. Satu, dua, tiga sampai empat hotel yang kami datangi semuanya menolak diinapi.

Pihak hotel mempertanyakan surat masuk keterangan masuk ke Tamu dari pemerintah Myanmar atau Imigrasi. Rekan saya Aung Soe Moe menjelaskan kedatangan saya sudah diberitahukan KBRI Yangon ke pemerintah Myanmar.
Tapi, mereka minta surat keterangan dari pemerintah Myanmar. Mereka takut ada apa-apa karena Tamu wilayah tertutup. Setiap orang asing datang ke Tamu harus seizin pemerintah pusat Myanmar.

Sopir dan kenet mulai gelisah begitu ada masalah. Malam kian larut. Sedangkan semua hotel menolak kami menginap. Untuk balik ke Kalay sudah tidak mungkin karena tidak ada angkutan. Akhirnya, Aung Soe Moe minta diantar ke imigrasi kota Tamu.

Kantor Imigrasi Tamu dari luar tampak sepi karena dikelilingi hutan dengan pohon-pohon besar. Begitu tiba, sedikitnya lima petugas imigrasi sibuk dengan tumpukan kertas dan diktat di depannya.

Mereka hanya mengenakan sarung atau Lon Chi dipandu kaos singlet. Begitu sederhana. Tapi, mereka buru-buru pakai kaos begitu ada tamu datang.
Petugas imigrasi kian kaget begitu mengetahui saya warga Indonesia berniat masuk ke India. Apalagi, tidak ada surat keterangan dari pemerintah Myanmar mengizinkan masuk ke Tamu. ‘’Pakai visa turis Myanmar tidak cukup masuk ke Tamu. Ini daerah tertutup. Harus ada surat keterangan dari Deplu Myanmar,’’ terang petugas imigrasi tadi. Dia sibuk mencatat nama, nomor paspor saya.
Petugas imigrasi lain juga tampak panik. Mereka berusaha mengontak rekannya. Beberapa saat datang petugas imigrasi lengkap dengan seragamnya. Begitu tiba, petugas itu juga ikut sibuk mencatat indentitas saya.

Rekan saya Aung Soe Moe sudah memberikan kopi surat soal paspor saya, surat dari KBRI yang ditujukan Deplu Myanmar dan sebundel surat keterangan lainya. Tapi, mereka terus sibuk mencatat indentitas. Padahal, jelas-jelas di situ sudah lengkap.

Belakangan saya baru tahu kalau mereka takut masalah ini diketahui instansi di atasnya. Karena itu, mereka berusaha secepat mungkin mengeluarkan saya dari Tamu. Kalau tidak mereka akan mendapat masalah.

Kasarnya, malam itu saya diusir agar meninggalkan Tamu secepatnya. Seorang petugas imigrasi berbicara serius pada Aung Soe Moe. Petugas tadi mempertanyakan Aung Soe Moe mengapa membawa warga asing ke Tamu. Padahal, itu dilarang tanpa dibekali surat keterangan dari pemerintah pusat Myanmar, dalam hal ini imigrasi.

Aung Soe Moe mengaku kepada petugas imigrasi dirinya sama sekali tidak tahu membawa orang asing ke Tamu dilarang. Ia diperintah KBRI Yangon mengantar saya dengan dibekali surat keterangan dari KBRI. ‘’Saya hanya melaksanakan tugas,’’ kata Aung sambil menyodorkan fotocopy surat tugas dan indentitas saya pada petugas imigrasi tadi.

Namun petugas bersikukuh malam itu juga saya dan Aung harus keluar dari Tamu. ‘’Malam ini juga kita harus keluar dari Tamu. Kita tidak boleh menginap di sini sampai izin pemerintah imigrasi Myanmar turun,’’ kata Soe Moe menirukan petugas tadi.

Mereka pun mencari cara bagaimana mengeluarkan saya berdua tanpa ribut-ribut. Apalagi sampai diketahui instansi lainnya. Jalan terbaik mengirim saya dan Aung Soe Moe balik ke kota Kalay, berjarak sekitar 81 miles atau 4 jam perjalanan. Kendaraan Light Truck yang membawa saya ke Tamu diparkir di Tamu. Sebab, kalau saya dievakuasi dengan Light Truck menimbulkan kecurigaan. Selain melewati check poin, kendaraan umum biasanya tidak jalan begitu malam tiba.

Sebagai gantinya, kernet dan sopir Light Truck yang terlihat panik akan mengantar saya kembali ke Kalay dengan dua sepeda motor. Soal tarif akan ditentukan belakangan. Yang penting kata petugas imigrasi tadi, secepatnya saya harus keluar Tamu.

Setelah mengisi bensin full tank, dikawal petugas imigrasi, iring-iringan tiga sepeda motor meninggalkan Tamu pukul 20.00. Sesampainya di pinggir kota ada chek point polisi. Saya berempat hanya berhenti sebentar, tidak benar-benar berhenti.

Setelah itu terus melaju. Polisi yang sedari tadi menyorotkan lampu senter ke arah motor berusaha bangkit dari duduknya mencegah begitu motor yang kami tumpangi terus melaju.

Tapi, petugas imigrasi yang mengawal tadi dengan sigap turun dan menjelaskan tentang keberadaan kami. Saya tidak tahu apa persisnya yang diomongkan petugas imigrasi tadi kepada polisi. Namun kedua motor yang melaju tak dikejar.

Tapi, hati saya tetap was-was. Jangan..jangan ada chek point lagi. Kasihan sopir dan kernet mengantar kami bisa terlibat masalah serius. Tapi, rekan Aung Soe Moe menjelaskan pada petugas imigrasi mereka tidak tahu apa-apa. Hanya mengantar ke hotel tapi ditolak.

Benar saja beberapa kilometer ada check poin petugas lagi. Kali ini , tentara. Tapi, mungkin karena sudah kenal dengan pembonceng saya, kendaraan diloloskan.

Meski berboncengan kami tidak saling ngomong. Suasananya masih tegang. Baru setelah jalan puluhan kilometer aman, kami baru ngobrol sambil lalu. Sekitar 1,5 jam perjalanan, kami mampir di warung milik satu satu pengantar kami tadi. ‘’Don’t worry,’’ katanya.

Setelah makan, perjalanan dilanjutkan. Kedua pengantar pun kini memakai jaket karena angin kencang dan udara cukup dingin. Sebelumnya mereka hanya pakai kaos.

Jalanan gelap, hanya sesekali berpapasan motor lain. Di jalan malam itu beberapa truk muat kayu gelondongan kerap melintas. Selebihnya gelap dan sepi. Termasuk saat memasuki beberapa desa di sepanjang jalan yang kami lalui. Listrik tidak ada. Hanya warung tampak remang remang.

Meski jalanan gelap warga tetap melakukan aktivitas di malam hari dengan membawa senter saat beriringan di jalan. Ada yang memancing, sekadar duduk dekat jalan raya, atau ngobrol. Saat jalan di balik bukit dari kejauan tampak terang. ‘’Itu masuk wilayah India,’’ kata kernet yang membonceng saya tadi.
Semula jalannya motor kencang, bahkan saling mengejar. Tapi, saya bilang pelan saja karena takut selip meski jalannya mulus. Kernet pun memelankan laju motornya. Apalagi, pantat terasa penat setelah melakukan perjalanan meletihkan Monywa-Kalay selama 21 jam.

Ditambah Kalay ke Tamu selama empat jam. Kini, dari Tamu balik ke Kalay naik ojek motor selama empat jam juga. Benar-benar hari yang melelahkan. Rencana saya menginap di hotel Tamu, untuk selanjutnya esoknya ke perbatasan India gagal total.

Dalam perjalanan ke Kalay, kami beberapa kali berhenti di warung kopi melepas lelah. Lalu melanjutkan perjalanan. Sampai di Kalay sudah larut malam pukul 24.00 lebih atau menjelang dinihari.

Setelah putar-putar kota semua hotel tutup. Hanya satu yang lampunya menyala. Namanya hotel Taung Za Lat, letaknya persis di depan pintu masuk bandara Kalay. Setelah diketuk pintu dibuka petugas keamanan.

Malam itu resepsionis agak curiga kedatangan kami menjelang dinihari. Terlebih ada warga asingnya. Tapi, setelah dicek dan dicatat paspor saya boleh menginap. Tarifnya untuk warga asing 20 US semalam, dan warga Myanmar 7000 Kyats. Atau hanya separohnya sekitar 10 US.

Kedua tukang ojek tadi juga mematok bayaran cukup tinggi untuk mengantar kami berdua dari Tamu ke Kalay. Tarifnya 60 ribu Kyats, atau hampir Rp 700 ribu. Satu US setara 700 Kyats. ‘’Memang jaraknya cukup jauh,’’ ujar Aung Soe Moe. Mereka berdua malam itu juga harus balik ke rumahnya yang juga jauh dari Kalay. (laz/bersambung)