BERAWAL dari keinginan mengembangkan ilmu sebagai tenaga pengajar, Tri Worosetyaningrum, 47, tergerak mengikuti lomba karya ilmiah tingkat kabupaten dan provinsi tahun 2006. Sampai tahun 2009, Woro, sapaannya, berhasil masuk sebagai finalis Kreativitas dan Inovasi Pembelajaran tingkat nasional. Di lomba itu dia bertemu kandidat dari seluruh Indonesia dan dapat belajar gratis dari para kandidat dan juri yang notabene merupakan profesor.

“Waktu itu saya membuat karya tulis tentang Gunung Merapi, karena saya mengajar di sekolah yang memang dekat dengan gunung api aktif ini. Saya berhasil mendapatkan juara harapan 2,” jelas ibu yang saat kini menjabat Kepala Sekolah di SMPN 2 Pakem.

Tahun 2011 Woro mendapatkan predikat guru berprestasi tingkat Kabupaten Sleman, Juara 2 Lomba karya tulis inovasi pembelajaran pada tahun 2014, forum ilmiah guru juara 2 tingkat nasional di tahun 2014, pengembangan media pembelajaran juara 1 tingkat kabupaten pada 2015 juara 1, pada tahun 2016 juara 3 tingkat nasional guru berprestasi dan juara 1 tingkat kabupaten dan provinsi. Sejumlah buku pembelajaran juga telah ia terbitkan untuk mendukung proses belajar murid-muridnya.

“Saya juga mengikuti lomba membuat alat peraga IPS. Waktu itu saya membuat maket dari bubur kertas yang dibentuk seperti Gunung Merapi. Murid-murid juga saya ajarkan untuk membuat maket ini berikut pemasangan alat di dalamnya sebagai ilustrasi erupsi,” jelas wanita yang mempunyai hobi traveling ini.

Tak sampai di situ, di tahun ke dua bertugas di SMPN 2 Pakem, Woro berhasil membawa perubahan, mulai dari lingkungan sekolah dan karakter murid-muridnya. Ia mengasah anak kreativitas anak didik dengan membuat ikon pariwisata di DIJ, khususnya Sleman. Di dalam kelas ia melukis bagian tembok dan menghias ruangan dengan gambar ikon seperti wisata Merapi, Gua Pindul, Pantai Parangtritis, dan sebagainya.

Woro pun memberlakukan jadwal piket kelas untuk merawat dan menyirami tanaman-tanaman di area sekolah agar suasana sekolah tidak gersang dan panas. “Dulu pertama masuk sini panas dan gersang, tidak ada tanaman hijau. Saya mulai menanami satu-satu, baik tanaman pohon maupun bunga dan minta anak-anak yang merawat. Sekarang sekolah sudah lumayan segar dengan tanaman hijaunya,” ungkap Woro yang pernah menjadi instruktur nasional ini.

Woro ingin guru-guru di sekolahnya maupun di sekolah lain ikut tergerak dengan menciptakan karya dan membawa perubahan baru di dunia pendidikan. “Dengan karya ini saya ingin ke depan karakter dan pribadi anak didik semakin baik, bisa terus berprestasi, serta ikut membantu memajukan sekolah. Walaupun bertempat di lereng gunung, jangan mau kalah dengan sekolah di kota. Terus jaga kedisiplinannya,” tuturnya. (laz/fn)

KREATIF: Maket Gunung Merapi ciptaannya sebagai salah satu alat peraga IPS. (VITA WAHYU HARYANTI/RADAR JOGJA)