Perjalanan Haji Nekat Lewat Jalur Darat dari Monywa menuju Kalay di Myanmar bisa dibilang sangat menyiksa. Kendati demikian, tak ada sedikit pun keluhan penumpang bus ekonomi yang sarat penumpang dan barang, pengap, dan tanpa AC itu. Tak terkecuali para mahasiswa Kalay University yang berpenampilan sederhana. Sebaliknya, mereka terus bergembira dan penuh semangat sejak masuk bus.

Begitu awak bus menyetel lagu-lagu pop Myanmar dalam video, mereka berteriak bersahut-sahutan. Menirukan lirik-lirik lagu dengan suara keras, penuh semangat.

Penumpang bus yang sebelumnya lesu dan tak bergairah pun mulai tertular kegembiraan tingkah polah mahasiswa yang bisa membangkitkan semangat penulis yang semula agak kendur akibat kondisi bus pengap dan panas.’’ Kalau mereka bisa bergembira dengan kondisi demikian kenapa saya tidak,’’ batin penulis.

Ditambah terpaan angin sore berembus lewat kaca jendela yang dibuka mulai mendinginkan suasana bus. Dalam bus tidak sepanas saat berhenti.

Perasaan penulis mulai bisa berkompromi dengan kondisi bus apa adanya. Sudah tidak membayangkan berapa jam lagi harus bertahan di bus dengan tumpukan barang. Berapa lama perjalanan. Dan, bayangan yang tidak enak lainnya. Pikiran penulis hanya dihantui mogok karena kondisi bus tidak karu-karuan.

Selepas dari Kota Monywa jalanan mulai mendaki seiring gelapnya malam. Kian jauh dari kota, kondisi jalan makin tidak karuan-karuan. Jadi, bukan saja tidak bagus seperti kata rekan saya, Aung Soe Moe. Tapi, jalan sudah jelek. Jelek sekali kondisinya. Persisnya rusak parah.

Akibatnya, laju bus tak sampai 20 Km per jam bahkan lebih lambat. Bus penuh guncangan akibat jalan berlubang. Apalagi banyak tanjakan dan turunan tajam karena melewati daerah pegunungan.

Dalam satu jam perjalanan saja, badan saya ini rasanya sudah pegal-pegal. Badan dan kepala kerap terbentur kiri kanan bangku akibat goyangan bus yang keras. Aung Soe Moe kepalanya berkali-kali terantuk kaca bus karena duduknya pas di pinggir. ‘’ Sakit rasanya kepala,’’ keluhnya.

Setelah saya perhatikan dari balik sorot lampu mobil, kondisi jalan memang sangat mengerikan. Selain sempit, lubang jalan menganga di sana sini. Belum lagi tumpukan batu dan lubang akibat bekas ban truk besar.

Kondisi jalan sudah tidak ada aspalnya lagi. Terkelupas. Sebagai gantinya batu-batu keras bermunculan dan lubang menganga di sana sini. Makanya, sopir bus harus banting kemudi kiri kanan menghindari lubang dan batu tadi. Apalagi, banyak jalan hanya berupa tanah keras maupun batu keras.

Agar bus tetap stabil di jalanan yang rusak parah, sopir kadang harus ancang-ancang melajukan kendaraan saat naik bukit. Lalu mengerem mendadak di saat menurun. Maka, guncangan bus kian lengkap. Glodak-glodak….

Sejujurnya kondisi bus dan jalan yang saya lalui dalam perjalanan haji darat kali paling jelek sejak start dari Surabaya Jumat (5 Agustus 2011) lalu . Ya, jelek busnya, ya jelek jalannya. Tapi, kata teman-teman yang pernah masuk India kabarnya kondisi transpotasi kalangan bawah lebih parah. Jadi, harus siap-siap kondisi terburuk.

Bus sering merayap pelan akibat jalannya terus menanjak, sempit dengan tikungan berbahaya. Tapi, sopir yang sudah hafal medan begitu piawai menyiasati kondisi jalan yang rusak parah itu.

Jalan dilalui sangat sepi. Kiri kanan berupa hutan belantara. Kalau ada permukiman hanya saat melintas desa umumnya banyak yang membuka warung kopi.

Bus terus melaju di jalan desa dengan guncangan cukup keras. Saya juga mulai terbiasa kepala dan badan terantuk bangku dan seterusnya. Berusaha menikmati perjalanan agar tidak tersiksa.

Sekitar pukul 21.00 bus berhenti di sebuah warung. Semua penumpang turun untuk buang air kecil, atau besar. Setelah itu makan. Lalu sekitar 30 menit kemudian semua penumpang masuk bus untuk melanjutkan perjalanan.

Dekat bangku saya ada tambahan satu penumpang. Orangnya sudah uzur memakai teken. Tapi, dia tampak sehat. Meski orangnya sudah tua, tapi merokoknya kenceng. Kadang minta rokok rekan saya, Aung Soe Moe.

Yang menjengkelkan kalau tidur kakinya diselonjorkan. Meski satu bangku ditempati sendiri, kakinya masih ke sana kemari hingga menganggu penumpang di sampingnya. Saya hanya bisa mengelus dada. Mau menegur tidak enak. Sudah sepuh.

Satu dua jam perjalanan penumpang mulai tertidur. Sebagaian mahasiswa menggelar tikar di gang jalan bus dipenuhi tumpukan karung barang. Hebatnya, mereka menikmati tidur di atas tumpukan barang. Terlalu capek, atau sudah terbiasa dengan kondisi bus seperti itu.

Sekitar pukul 03.00 mendadak bus berhenti. Semua penumpang tertidur. Sepertinya bus dalam masalah. Setelah dicek kernet, ternyata air radiator bocor.
Di tengah kegelapan malam, kernet mengeluarkan air dalam radiator lalu menambalnya. Butuh 1,5 jam agar tambalan radiator cukup kuat diisi air lagi. Selama itu pula penumpang sebagaian tertidur pulas, bermalam di bus di tengah hutan dekat warung kopi.

Untuk keluar bus sekadar ngopi tidak bisa. Karena jalan di bus dipenuhi mahasiswa yang tertidur. Satu-satunya jalan untuk bisa keluar bus ya.. meloncat dari jendela.

Begitu bus mau jalan, kami berdua masuk lewat jendela yang sama. Sebagaian penumpang tidak tahu kalau bus tertahan sekitar 1,5 jam akibat radiator bocor.
Bus terus melaju memasuki jalan-jalan pedesaan dengan kondisi sama. Jalan rusak, jembatan belum jadi. Jadi, bus kerap harus melalui sungai. Benar-benar jalannya di atas sungai. Seperti kondisi Papua, di mana banyak jalan di atas sungai.

Beruntung hari itu tidak hujan. Itu paling ditakutkan sopir. Sebab, kalau hujan bus dan truk terpaksa menginap di jalanan. Sebab, kondisi jalanan pegunungan licin. Kendaraan tak bisa lewat jalan licin karena rata-rata ban sudah gundul. ‘’Beruntung hari ini tidak hujan,’’ ujar Aung Soe Moe.

Sekitar pukul 08.00 bus mampir di sebuah rumah makan. Penumpang berhamburan turun bersiap makan. Menu pilihan saya tidak banyak. Selain banyak yang pedas, umumnya lauk dari babi. Makanya, pilihan saya biasanya daging sapi atau ayam. Itulah pilihan terbaik selama perjalanan.

Bus terus melaju di jalan-jalan tak berpenghuni seperti layaknya jalan-jalan trans di Kalimantan atau di wilayah transmigrasi. Jalannya rusak parah, sopir bus pun harus banting setir kiri kanan agar laju kendaraan tetap stabil.

Beberapa jam menjelang memasuki distrik Kalay, mendadak terdengar keras desis ban. Juss…. Sopir pun mengehentikan laju bus. Satu ban sebelah kiri bocor.

Setengah jam dua kernet mengganti ban bocor. Sedangkan puluhan penumpang keluar bus mencari tempat berteduh. Kebetulan dekat bus yang bocor ada dua rumah panggung milik warga. Bentuknya sederhana mirip rumah jatah transmigrasi di Indonesia. Di situ lah penumpang berteduh.

Sekitar pukul 13.30 bus memasuki distrik Kalay. Para mahasiswa Kalay University pun kegirangan. Mereka berteriak sambil menyanyi.

Bus berhenti di sudut Jalan Kalay yang rindang untuk menurunkan muatan. Itu berarti perjalanan Monywa-Kalay ditempuh 21 jam lebih akibat jalan rusak parah.

Saya dan Aung Soe Moe memilih naik becak motor (betor) menuju terminal guna mencari angkutan ke Tamu. Jaraknya, masih sekitar 4 jam perjalanan, atau 81 miles lebih. (yog/bersambung)