BMKG Prediksi Hujan Lebat Guyur Jogjakarta Selama Tiga Hari ke Depan

GUNUNGKIDUL – Para nelayan di perairan selatan Jawa diimbau waspada. Pun demikian wisatawan. Dilarang mandi di laut. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jogjakarta mendeteksi potensi gelombang laut setinggi 3,5 meter di pantai selatan Jawa sejak Rabu (20/6). Cuaca ekstrem diprediksi hingga Senin (25/6).

“Nelayan sebaiknya tidak melaut dulu sampai gelombang laut kembali normal,” tutur prakirawan BMKG Jogjakarta Indah Retno Wulan Kamis (21/6).

Menurut Indah, tingginya gelombang laut dipengaruhi intensitas curah hujan. Musim kemarau bukan berarti tidak ada hujan sama sekali. Hujan saat kemarau biasanya terjadi akibat adanya gangguan cuaca. Seperti yang terjadi saat ini. Gangguan di pusat tekanan rendah bagian utara, yang berpengaruh pada pola angin di Jawa, khususnya wilayah Jogjakarta.

Dijelaskan, wilayah Jogja selatan sudah memasuki musim kemarau sejak April lalu. Sedangkan Jogja utara mulai awal Juni ini. Musim kemarau datang dari selatan. “Masuk musim kemarau ditandai apabila curah hujan selama tiga kali 10 hari tiga kali jumlahnya kurang dari 50 milimeter,” paparnya.

Kondisi cuaca tersebut dikategorikan tidak terlalu ekstrem. Pengaruhnya pun dinilai belum signifikan terhadap kondisi tanaman. Namun potensi angin kencang dan petir tetap tetap diwaspadai, meskipun kecil.

“Tapi kalau seperti Rabu (20/6) malam sudah hujan deras, besok siangnya cerah. Sore juga belum hujan, karena istilahnya ngumpulin tenaga dulu buat turun lagi,” ungkapnya.

Untuk wilayah perkotaan, masyarakat perlu mewaspadai kemungkinan hujan disertai angin yang dapat menyebabkan pohon tumbang maupun baliho roboh.
Kepala Stasiun Klimatologi Mlati Agus Sudaryatno mengatakan, berdasarkan pantauannya tiga hingga lima hari ke depan wilayah Jogjakarta bagian utara dan barat bakal diguyur hujan dengan intensitas sedang-lebat. Yakni di sekitar Sleman, Kota Jogja, Kulonprogo (bagian utara), Bantul bagian utara dan Gunungkidul bagian utara dan barat.

Agus melihat adanya belokan angin serta intrusi udara basah yang masuk ke wilayah DIJ. Kondisi tersebut menyebabkan kelembaban udara di atas atmosfer cukup basah, sehingga menyebabkan penumpukan awan hujan.

Informasi seputar gelagat alam yang tak bersahabat telah diterima Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul Edy Basuki. “Cuaca buruk seperti peningkatan potensi hujan lebat dikhawatirkan menimbulkan bencana alam seperti angin kencang dan gelombang tinggi,” kata Edy.

Sekretaris SAR Wilayah II Surisdiyanto mengatakan, berdasarkan pantauannya selama beberapa hari terakhir tinggi gelombang terus mengalami peningkatan. Namun, sejauh ini belum ada dampak yang ditimbulkan. “Nelayan, wisatawan, dan pedagang di kawasan pantai tetap beraktivitas seperti biasa. Masih normal, meski ada peningkatan gelombang laut,” katanya.

Koordinator SAR Wilayah II Marjono menambahkan, guna antisipasi keamanan wilayah pantai telah disiagakan 57 petugas rescue. Mereka rutin berpatroli secara bergantian. Petugas tak segan mengingatkan atau menegur wisatawan yang nekat mandi di laut, terlebih di area yang telah terpasang peringatan tanda bahaya. “Jangan sampai jatuh korban lagi. Sudah cukup banyak nyawa melayang, kami imbau kepada siapa saja untuk mengantisipasi segala kemungkinan,” ujarnya.

Sebagaimana diketahui, hingga saat ini sudah dipasang tanda bahaya di lebih dari 50 titik di kawasan pantai Gunungkidul. Mulai larangan mandi di laut hingga peringatan jangan berteduh dibawah tebing karang karena rawan longsor.

Ada juga larangan tidak merusak terumbu karang. Sedikitnya ada dua rambu dipasang untuk imbauan tidak merusak terumbu karang. Dengan begitu ekosistem tetap terjaga dengan baik. (tif/gun/yog/fn)

CUACA EKSTREM: Deburan ombak pantai selatan Gunungkidul. (GUNAWAN/RADAR JOGJA)